RADAR JOGJA – Daerah Bantul hingga Gunungkidul, Yogyakarta, dikenal dengan lanskap perbukitan yang curam dengan jalan berliku dan menanjak.
Salah satu titik yang membutuhkan kewaspadaan ekstra bagi para pengendara adalah Jalur Cinomati di Bantul, Yogyakarta.
Terletak di Pedukuhan Cegokan, Kalurahan Wonolelo, jalur ini merupakan bagian dari Jalan Pleret-Pathuk yang menjadi alternatif menuju wilayah Bantul dan Gunungkidul.
Jalur ini dikenal dengan belokan curam, tanjakan, dan turunan yang sangat ekstrem.
Meskipun dikenal berbahaya dan sering dijuluki sebagai jalur 'tengkoraknya Jogja'.
Setiap hari Jalur Cinomati selalu ramai dilewati oleh pengguna jalan yang sudah terbiasa dengan medan dan tanjakan di jalan Pleret-Pathuk ini.
Popularitas Jalur Cinomati tidak lepas dari kesulitan medannya yang sering menyebabkan kecelakaan.
Oleh karena itu, setiap saat liburan, didirikan pos siaga di titik tertinggi Jalur Cinomati.
Pos ini dijaga oleh para relawan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Wonolelo, Banser, dan petugas kepolisian dari Polsek Pleret.
Dalam upaya menekan angka kecelakaan dan mengurangi jumlah pengguna jalan yang melewati Jalur Cinomati, pihak kepolisian bekerja sama dengan Google untuk sementara menghapus Jalur Cinomati dari aplikasi Google Maps selama momen liburan.
Selain reputasinya sebagai jalur yang curam dan sering menyebabkan kecelakaan, Jalur Cinomati juga memiliki kisah mencekam di balik namanya.
Pada awalnya, jalur tersebut tidak memiliki nama, dan orang-orang hanya menyebutnya sebagai "ke atas gitu aja."
Kemudian, suatu waktu, ada seorang individu dari etnis Tionghoa yang naik ke bukit tersebut.
Orang-orang tidak tahu dari mana asalnya.
Setelah tidak terlihat turun untuk waktu yang lama, warga menemukan bahwa orang tersebut telah meninggal di puncak bukit.
Sejak kejadian tersebut, bukit di Jalan Pleret-Pathuk ini diberi nama oleh warga sebagai Bukit Cinomati, menggabungkan kata 'Cino' dan 'mati'.
Setelah itu, jika warga ingin naik ke puncaknya, mereka akan mengatakan "arep munggah nyang Cinomati" yang artinya menuju ke arah bukit tempat Cino ditemukan meninggal.
Jadi, nama jalur ini diambil dari nama Bukit Cinomati itu sendiri.
Selain itu, tanjakan tertinggi di tempat yang dijaga oleh relawan juga dikenal sebagai tanjakan Cinomati.
arga, relawan, dan polisi telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah kecelakaan di Jalur Cinomati.
Salah satunya adalah pemasangan rambu dan petunjuk yang memberikan peringatan tentang jalan menanjak, turunan curam, dan tikungan tajam berkelok.
Selain itu, warga juga telah memasang ban bekas di setiap tikungan berbahaya.
Meskipun demikian, kecelakaan masih sering terjadi di jalur ini.
Kecelakaan tersebut umumnya disebabkan oleh faktor-faktor seperti sulitnya medan jalan atau kondisi kendaraan yang kurang fit.
Tidak ada keterlibatan hal-hal mistis atau gangguan gaib.
Beberapa kecelakaan bahkan mengakibatkan korban meninggal dunia, terutama pada pengendara sepeda motor matic yang sering kali mengalami rem blong.
Para korban kecelakaan biasanya baru pertama kali melintasi Jalur Cinomati ini dan tidak menyadari bahwa terdapat tanjakan tinggi dan sempit diikuti oleh turunan curam, terutama saat kondisi jalan licin akibat hujan.