RADAR JOGJA – Jawa Tengah kini dilengkapi dengan jalan tol Trans Jawa.
Meski demikian, para pengguna jalur Pantura Jawa Tengah dari Kota Semarang menuju Jakarta bagian barat atau sebaliknya masih sering melewati jalur Alas Roban.
Jalur ini berada di ujung timur Kabupaten Batang, tepatnya di Kecamatan Gringsing. Jalur ini terkenal angker sejak zaman Mataram kuno.
Jalur ini dibangun pada masa Hindia Belanda sebagai bagian dari Jalan Daendels, khususnya di Desa Plelen.
Para pengendara akan melintasi jalan berkelok tajam sejauh 6 kilometer melalui hutan jati, memerlukan konsentrasi tinggi karena kanan kiri jalan terdapat jurang curam.
Di malam hari, kondisi menjadi gelap gulita karena tidak ada penerangan jalan dan jarang ada rumah penduduk.
Banyak versi cerita mengenai keangkeran Alas Roban, salah satu yang terkenal adalah di Pal 15.
Sudah banyak cerita beredar mengenai rumah makan gaib yang sering mengalihkan pandangan pengguna jalan, bukan hanya satu atau dua orang yang pernah mengalaminya.
Di berbagai media sosial, banyak yang mengungkap pengalaman serupa.
Karena keangkeran Alas Roban, para pengendara sering melempar uang sebagai bentuk buang sial dan mencari keselamatan, kebiasaan yang dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk “menjaga” dan mengarahkan kendaraan yang masuk ke area tersebut.
Namun, sejak ada jalur alternatif dan jalan lingkar, volume kendaraan yang melewati jalan Daendels Alas Roban sudah sangat berkurang, terlebih sekarang dengan adanya jalan tol, yang berdampak pada pendapatannya.
Cerita ini santer terdengar di masyarakat sekitar.
Konon seorang warga yang akrab dipanggil Mbah Warno sering berada di jalur Alas Roban.
Ia memiliki pengalaman mistis.
Ia bercerita tentang sekelompok orang yang berhenti dan makan pecel lele di malam hari, namun saat kembali di siang hari, mereka menemukan bahwa mereka sebenarnya makan di atas jurang curam.
Cerita yang paling menarik adalah tentang sosok wanita cantik berpakaian kebaya hijau muda yang disebut Gadungan, sering menggoda pengguna jalan, terutama sopir truk yang lewat di malam hari.
Jika sopir tersebut memberikan tumpangan, maka mereka akan celaka, menabrak tebing atau masuk jurang.
Keberadaan Gadungan tidak dapat ditelusuri asalnya, namun beberapa mantan pengemudi mengaku pernah melihatnya.
Pada tahun 80-an, ada truk muatan semen yang masuk jurang dan pengemudinya bercerita bahwa sebelum kejadian, ia memberi tumpangan kepada seorang wanita berbaju hijau.
Menurut Mbah Warno, Gadungan adalah wujud ujian keimanan seseorang. Jika tergoda, maka imannya kurang.
Hal ini juga dibenarkan oleh Sobirin, 63 tahun, yang dulu membuka warung makan di pinggir Alas Roban.
Ia mengaku sering diganggu oleh makhluk berwujud berambut gimbal bertubuh besar, sosok berkelebat putih-putih, atau aroma busuk, namun tidak mengganggu secara fisik.
“Saya justru senang kalau diganggu, karena biasanya warung tambah laris," serunya sambil tertawa.
Editor : Meitika Candra Lantiva