RADAR JOGJA - Kukang dikenal sebagai salah satu hewan paling lambat di dunia yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon.
Di balik gerakannya yang tenang, tubuh hewan ini menyimpan sebuah fakta sains yang sangat unik.
Bulu tebal dan lembap milik kukang ternyata menjadi rumah bagi spesies serangga khusus bernama ngengat kukang (sloth moth) .
Hubungan antara kedua makhluk hidup ini membentuk sebuah kerja sama yang saling menguntungkan di alam liar.
Baca Juga: Wamendagri Desak Pemprov dan DPRP Papua Pegunungan Segera Lantik 11 Anggota Jalur Otsus
Bulu kukang menyediakan tempat berlindung yang aman bagi ngengat dari kejaran hewan pemangsa.
Sebagai imbalannya, ngengat yang mati di dalam bulu kukang akan terurai dan menghasilkan nutrisi alami.
Nutrisi ini memicu tumbuhnya lumut ganggang berwarna hijau di sepanjang bulu kukang.
Lapisan lumut hijau tersebut memiliki peran sangat penting bagi keselamatan kukang.
Warna hijaunya berfungsi sebagai kamuflase alami agar kukang tersamar di antara rindangnya dedaunan, sehingga terhindar dari penglihatan burung pemangsa.
Baca Juga: Tampilan Mesin Pencarian Google, Peringati Pekan Antariksa Dunia 2026 dengan Tajuk Revolusi Roket
Selain itu, lumut kaya gizi tersebut kerap dijilat oleh kukang sebagai sumber makanan tambahan yang mudah dicerna.
Proses kerja sama ini juga melibatkan rutinitas mingguan ketika kukang turun ke tanah.
Seminggu sekali, kukang akan meninggalkan puncak pohon untuk buang air besar di tanah.
Momen inilah yang dimanfaatkan oleh ngengat betina untuk bertelur pada kotoran kukang.
Baca Juga: Cara Tepat Memilih Anjing Peliharaan Agar Harmonis dan Bebas Stres
Setelah telur menetas dan tumbuh menjadi ngengat dewasa, serangga tersebut akan terbang kembali ke atas pohon untuk mencari kukang dan menetap di bulunya.
Hubungan antara kukang dan ngengat ini menunjukkan simbiosis mutualisme yang kuat, sebab kedua pihak diuntungkan satu sama lain.
Editor : Meitika Candra Lantiva