RADAR JOGJA - Dusun Wotawati menjadi salah satu wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta yang hanya mendapatkan sinar matahari dalam waktu singkat.
Dusun ini mulai bisa merasakan sinar matahari terbit pada pukul 08.00 dan tenggelam pukul 16.00 WIB.
Kondisi tersebut membuat waktu siang di Wotawati terasa lebih singkat dibandingkan sejumlah wilayah lainnya.
Letaknya yang dikelilingi perbukitan menjadi salah satu penyebab matahari baru terlihat pada pagi hari dan lebih cepat menghilang pada sore hari.
Baca Juga: Lebih dari Sekedar Bazar Buku, Jogja Book Fair x Pameran Arsip yang Dibuka Sampai 8 September
Dusun Wotawati ini terletak di Kelurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tak hanya menjadi wilayah yang paling singkat disinari matahari saja, dusun ini juga mempunyai beberapa keunikan lainnya.
Sempat viral beberapa waktu yang lalu, Dusun Wotawati ini mempunyai sejarah yang kental.
Menurut masyarakat sekitar, dusun ini menyimpan kisah dari para sesepuh yang bersangkutan dengan leluhur dari Majapahit.
Cerita tentang awal mula Wotawati tak lepas dari kisah dua orang yang disebut-sebut berasal dari Kerajaan Majapahit.
Baca Juga: 9.216 Bansos Warga Bantul Dihentikan, Paling Banyak Imbas Ulah Anak Main Judol
Raden Joko Sukmo bersama istrinya, Nyi Arum Sukmawati, dipercaya menjadi orang pertama yang datang ke wilayah bekas lembah Bengawan Solo Purba tersebut.
Konon, keduanya kemudian menetap di Gua Putri, sebuah gua yang letaknya berada di sekitar kawasan Wotawati saat ini.
Selain memiliki sejarah yang cukup kuat, Dusun Wotawati juga dikenal karena tata letak dan bentuk bangunannya yang masih mempertahankan ciri khas tersendiri.
Permukiman di dusun ini mengadopsi konsep perkampungan pada masa Majapahit dan Mataram.
Baca Juga: Liverpool Rekrut Kiper Timnas Belgia U19 Brughmans dari Genk dengan Kontrak Multi Years
Ketika berjalan menyusuri dusun, pengunjung dapat melihat rumah-rumah dengan pagar bernuansa terakota yang membuat suasananya terasa seperti berada di kawasan kerajaan pada zaman dahulu.
Pemandangan tersebut bahkan mengingatkan pada latar perkampungan yang sering muncul dalam film-film kolosal bertema kerajaan.
Editor : Meitika Candra Lantiva