Ampo: Dari Tanah Liat Menjadi Camilan Tradisional Khas Tuban

Fibrian Putri Heragung • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:33 WIB
Ampo: Dari Tanah Liat Menjadi Camilan Tradisional Khas Tuban.
Ampo: Dari Tanah Liat Menjadi Camilan Tradisional Khas Tuban.

 RADAR JOGJA – Ampo merupakan salah satu kuliner tradisional Indonesia yang memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan camilan pada umumnya, ampo dibuat dari tanah liat yang diolah melalui proses khusus. Dari bentuknya, ampo sekilas menyerupai gulungan cokelat, tetapi memiliki cita rasa dan aroma yang sangat berbeda. Camilan ini dikenal sebagai makanan khas Tuban, Jawa Timur. Meski begitu, ampo juga dapat ditemukan di sejumlah daerah lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Keberadaan ampo sebagai bagian dari budaya kuliner tradisional semakin mendapat perhatian setelah pada tahun 2024 makanan ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Meskipun bahan utamanya berupa tanah, pembuatan ampo tidak dilakukan secara asal. Tanah yang digunakan harus dipilih dengan cermat. Umumnya, bahan dasar yang dipakai adalah tanah lempung sawah yang memiliki tekstur padat, lembut, dan berwarna kemerahan.

Tanah tersebut terlebih dahulu dikeringkan, kemudian ditumbuk hingga halus menyerupai tepung. Setelah itu, tanah diayak untuk memisahkan kerikil maupun benda-benda lain yang tidak diperlukan. Tanah yang telah halus kemudian diberi sedikit air hingga dapat dibentuk menjadi adonan. Adonan tersebut selanjutnya dibentuk memanjang menyerupai kue semprong. Dalam prosesnya, adonan diolesi minyak sayur yang telah dicampur dengan abu jerami.

Baca Juga: Sasar Korban Secara Acak, Polisi Masih Buru Tiga Pelaku Penembakan di Maguwoharjo

Setelah dibentuk, ampo dipanggang menggunakan tungku tradisional. Proses pembakaran membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan dapat mencapai sekitar lima jam. Lamanya proses tersebut turut memberikan karakteristik tersendiri pada rasa, aroma, dan tekstur ampo.
Ampo memiliki cita rasa yang berbeda dari camilan pada umumnya. Aroma yang muncul ketika ampo dikonsumsi cenderung menyerupai bau kerak atau sesuatu yang terbakar. Sementara itu, teksturnya terasa kering dan renyah, hampir seperti keripik.

Keunikan tersebut membuat ampo memiliki penggemar tersendiri. Bagi masyarakat yang sudah mengenalnya sejak lama, ampo bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari tradisi kuliner yang diwariskan secara turun-temurun.

Di balik keunikannya, konsumsi ampo juga perlu diperhatikan dari sisi keamanan. Berdasarkan keterangan Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc., tanah sebagai bahan dasar ampo tidak memberikan nilai gizi bagi tubuh. Kandungan seperti silika dan alumina pada tanah juga sulit larut dalam air sehingga tidak dapat diserap oleh tubuh.

Keamanan ampo juga sangat dipengaruhi oleh asal tanah yang digunakan. Tanah yang berasal dari kawasan pegunungan, khususnya wilayah yang relatif jauh dari aktivitas pertanian dan pemukiman, dinilai memiliki risiko pencemaran yang lebih rendah.

Sebaliknya, penggunaan tanah yang berada di sekitar lahan pertanian atau pemukiman perlu lebih diwaspadai. Aktivitas seperti pemupukan dan penggunaan pestisida dapat menyebabkan tanah terkontaminasi bahan kimia maupun logam berat. Oleh karena itu, pemilihan bahan baku menjadi salah satu aspek penting dalam pembuatan ampo.

Baca Juga: Polisi Sita Tembakau Sintetis 17,99 Gram di Magelang, Dijual dengan Sistem Tanam


Pada masa lalu, ampo cukup dikenal dan kerap disajikan dalam berbagai acara masyarakat. Camilan ini juga pernah menjadi salah satu pilihan oleh-oleh khas daerah. Namun, popularitasnya mulai mengalami penurunan sejak sekitar awal 1990-an.

Salah satu penyebabnya adalah semakin sedikitnya pengrajin yang masih memproduksi ampo. Tidak adanya penerus dari generasi berikutnya membuat sebagian produsen berhenti membuat makanan tradisional tersebut. Sebagian lainnya memilih beralih ke pekerjaan atau usaha lain yang dianggap lebih menjanjikan.

Proses produksi yang memerlukan waktu cukup panjang juga menjadi tantangan tersendiri. Pembuatan ampo tidak dapat dilakukan secara instan karena membutuhkan tahapan pengolahan dan pembakaran yang memakan waktu. Di sisi lain, tanah dengan karakteristik yang sesuai sebagai bahan baku juga semakin sulit ditemukan.

Perubahan selera masyarakat turut memengaruhi keberadaan ampo. Saat ini tersedia berbagai macam camilan dengan rasa dan bentuk yang lebih beragam sehingga ampo semakin jarang menjadi pilihan masyarakat. Penggunaannya pun kini lebih banyak ditemukan dalam acara-acara tertentu, seperti pernikahan dan khitanan.

Ampo menjadi contoh bahwa kekayaan kuliner Indonesia tidak hanya berasal dari makanan dengan bahan-bahan yang umum digunakan. Camilan berbahan tanah ini menyimpan nilai tradisi dan sejarah yang patut dikenal. Meski keberadaannya semakin jarang, pelestarian ampo penting dilakukan agar pengetahuan mengenai proses pembuatannya dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya tidak hilang ditelan zaman.

( FIBRIAN PUTRI HERAGUNG )
Sumber: Berbagai Sumber

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
gulungan cokelat tanah liat ampo camilan kuliner tradisional