Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Burung Pleci, Si Kecil Bersuara Merdu yang Kini Terancam: Kenali Jenis, Habitat, dan Status Konservasinya

Tastabila Maika Warditya • Senin, 7 Oktober 2024 | 18:01 WIB

Burung pleci yang sedang mencari makan.
Burung pleci yang sedang mencari makan.

 
RADAR JOGJA - Burung Kacamata yang lebih dikenal luas sebagai "Pleci", sebenarnya dipilah menjadi lima "subspesies" yang menarik untuk diketahui.

Lima subspesies ini meliputi, zosterops palpebrosus everetti, zosterops palpebrosus auriventer, zosterops palpebrosus buxtoni, zosterops palpebrosus melanurus, dan zosterops palpebrosus unicus.

Dari kelima subspesies tersebut, yang paling sering dijumpai adalah zosterops palpebrosus melanurus, dengan ciri khasnya berupa tali kekang tebal, yakni garis penghubung antara mata dan paruh yang menjadi salah satu keunikan spesies ini.

Pleci banyak ditemukan di wilayah Kalimantan, Sulawesi, khususnya di kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, serta di Pulau Jawa.

Meskipun populasinya semakin berkurang, burung ini masih dapat ditemukan di daerah Flores dan Sumba.

Burung kacamata juga tergolong sebagai burung penetap dan endemik yang hanya terdapat di wilayah Kalimantan dan Jawa.

Habitatnya tak terbatas di hutan mangrove, tetapi juga di semak pantai, hutan pantai, dan pinggiran hutan.

Rasanya sangat menakjubkan melihat bagaimana spesies kecil ini bisa bertahan hidup di berbagai kondisi habitat.

Dengan tubuh mungil yang hanya sebesar ibu jari orang dewasa, burung Pleci menunjukkan keahliannya sebagai burung pengicau yang sangat lincah.

Warna bulunya yang hijau zaitun berpadu dengan hitam di bagian sayap dan ekor, membuat penampilannya sangat mencolok, meski ukuran tubuhnya kecil.

Nama "Pleci" sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti kacamata, nama tersebut terinspirasi dari cincin mata hitam dan putih di sekitar matanya, memberikan kesan seolah-olah burung ini memakai kacamata mungil.

Burung Pleci juga memiliki kebiasaan unik yang tak boleh terlewatkan bagi para pecinta burung, yaitu caranya membangun sarang.

Burung kecil ini dengan teliti mengumpulkan serat-serat tumbuhan sebagai bahan utama untuk membuat sarang. Yang menarik, mereka menggunakan jaring laba-laba sebagai benang untuk menganyam sarangnya.

Burung betina bertugas menganyam sarang, sementara burung jantan mengawasi kondisi sekitar, siap memberi peringatan jika ada bahaya yang mengancam.

Jika situasi bahaya, burung jantan akan memberi tanda kepada si betina untuk segera meninggalkan sarang.

Keindahan suara dan keunikan perilaku Pleci membuat burung ini menjadi salah satu burung kicau paling digemari.

Sayangnya permintaan tinggi di pasar burung menyebabkan banyak dari mereka ditangkap di alam liar, terutama dari hutan-hutan di Kalimantan dan Jawa.

Selain perburuan, penurunan populasi burung Pleci juga dipicu oleh rusaknya habitat alami mereka. Berkurangnya luas hutan akibat deforestasi menyebabkan populasi burung ini di alam liar semakin terancam.

Seiring dengan semakin kritisnya kondisi burung Pleci, status konservasi burung kacamata jawa kini telah meningkat.

Awalnya, burung ini berstatus Hampir Terancam (Near Threatened / NT), namun kini telah naik menjadi Rentan (Vulnerable / VU).

Untuk melindungi keberadaannya, burung ini kini dilindungi oleh Peraturan Menteri LHK No. P.92 / Tahun 2018.

Dengan perubahan status tersebut, diharapkan semakin banyak upaya konservasi yang dilakukan untuk menyelamatkan burung Pleci dari kepunahan dan memastikan bahwa generasi mendatang masih bisa menikmati keindahan suara dan perilaku unik burung kecil ini.

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Burung kacamata #populasi #burung pleci #burung #Habitat #Bersuara Merdu