Bunga ini hidup di tanaman merambat tetrastigma sebagai kumpulan helaian berdaging yang menyerap air dan nutrisi dari inangnya.
Ia tumbuh dari kulit tanaman inang sebagai kuncup berwarna cokelat seperti kubis yang di sebut knop yang mekar selama beberapa hari.
Bunga ini memiliki 5 lobus, berwarna cokelat kemerahan dengan bintik – bintik putih, dan tumbuh hingga 1 meter.
Bunganya muncul dan mekar selama seminggu, dan mengeluarkan aroma seperti daging busuk, sehingga di namai bunga bangkai.
Bunga Rafflesia Arnoldi merupakan padma raksasa di tetapkan sebagai Puspa Langka Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 4 Tahun 1993 Tentang Satwa dan Bunga Nasional.
Selain di tetapkan sebagai bunga nasional, bunga raksasa karismatik asal bengkulu ini masuk ke dalam daftar tumbuhan yang di lindungi berdasarkan peraturan pemerintah RI Nomor 7 Pasal 4 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, serta IUCN Red list dengan status konservasi terancam punah.
Rafflesia Arnoldi atau puspa nusa adalah sebuah genus tumbuhan yang semua spesiesnya hidup sebagai parasit.
Rafflesia arnoldi merupakan salah satu flora langka di indonesia yang berasal dari provinsi bengkulu.
Bunga ini memiliki aroma yang bau busuk dan sangat khas dan berguna dalam proses penyerbukan.
Bentuk fisik dari bunga rafflesia arnoldi di kutip dari buku mengenal aneka flora dan fauna indonesia karya wahyu annisha, bunga ini tidak berakar dan berdaun, dan tidak bertangkai.
Bunga rafflesia arnoldi tumbuh secara merambat sehingga menghisap unsur anorgani dan organik dari tanaman inangnya.
Sejarah penemuan dan penanaman bunga rafflesia arnoldi, berawal dari seorang dokter yang bernama joseph arnold yang juga seorang pencinta alam melihat bunga ini di pedalaman manna, bengkulu selatan pada tahun 1818.
Berikut beberapa fakta mengenai bunga ini :
1. Ukuran dan bentuk
Bunga bangkai atau rafflesia arnoldi dapat mencapai diameter hingga 1 meter dan berat hingga 11 kilogram.
Bunga ini memiliki bentuk yang unik, dengan kelopak berwarna merah, dan bintik – bintik putih di tengahnya.
2. Asal usul
Rafflesia Arnoldi di temukan di hutan Sumatera, Indonesia.
Bunga ini di namai sesuai dengan Sir Stamford Raffles, seorang naturalis inggris yang menemukan bunga ini pada tahun 1818.
3. Karakteristik
Rafflesia Arnoldi adalah parasit yang hidup di dalam akar tumbuhan inangnya, terutama pada tumbuhan anggrek. Bunga ini tidak memiliki akar, batang, atau daun.
Bunga bangkai ini hanca muncul saat mekar dan mengeluarkan bau busuk yang kuat untuk membuahi bunga betina.
4. Masa mekar
Rafflesia Arnoldi mekar hanya dalam waktu singkat, biasanya sekitar 5 – 7 hari.
Masa mekar ini sangat penting karena bunga ini menghasilkan serbuk sari yang dapat di bawa oleh serangga penyerbuk untuk membuahi bunga betina.
5. Keunikan
Rafflesia Arnoldi di anggap sebagai bunga bangkai terbesar di dunia karena ukurannya yang sangat besar dan bau busuk yang kuat.
Bunga ini juga di anggap sebagai bunga nasional dan menjadi daya tarik wisata yang populer di sumatera.
6. Konservasi
Rafflesia Arnoldi terancam punah karena hilangnya habitat alami dan perburuan ilegal.
Oleh karena itu, upaya koservasi dilakukan untuk melindungi bunga ini, termasuk pembentukan taman nasional dan pengawasan ketat terhadap perdanganan ilegal.
7. Bunga Parasit
Bunga Rafflesia Arnoldi sebenarnya masuk ke dalam jenis parasit. Bunga ini akan menghinggapi batang liana atau tumbuhan merambat.
9. Tidak Memiliki Klorofil
klorofil adalah zat hijau yang berada di bawah daun dan berperan dalam proses fotosintesis.
10. Tidak Memiliki Daun, Tangkai, Atau Akar Seperti Bunga Pada Umumnya.
Rafflesia hanya memiliki kelopak bunga yang melebar hingga 1 meter panjangnya dan berbobot hingga 10 kg.
11. Mengeluarkan Bau Busuk
Sama dengan bunga bangkai, bunga rafflesia juga mengeluarkan bau busuk
Bunga Rafflesia Arnoldi adalah bunga langka yang hanya tumbuh pada bulan dan tahun yang berbeda dengan tumbuh hanya satu kali dalam setahun.
Meskipun rafflesia arnoldi memiliki keunikan dan keindahan yang menarik, namun penting untuk di ingat dan di ketahui bahwa bunga ini di lindungi dan tidak boleh di petik atau di rusak.
Penulis: EVALIA INA GITA
Editor : Bahana.