RADAR JOGJA - Suku Baduy belakangan ini banyak disorot karena kehebatannya dapat menjaga keselarasan antara alam dan kehidupan manusia.
Suku Baduy berada di pedalaman Kabupaten Lebak Provinsi Banten.
Berbeda dengan suku-suku pedalaman lainnya yang menolak untuk diusik, suku Baduy justru memberikan akses kepada publik untuk mempelajari dan mengenal kehidupan mereka.
Pengalaman menjelajahi suku Baduy tersebut dikenal sebagai saba Baduy.
Saba baduy beberapa kali dilakukan oleh artis dan content creator seperti Nikita Mirzani dan Vilmei, sehingga suku ini banyak di cari oleh masyarakat luas yang tertarik.
Selain itu suku ini juga memiliki kembang desa yang memainkan social media seperti Instagram dan Tiktok yang mana hal ini menjadikan masyarakat kerap kali memuji kecantikan dan ketampanan dari masyarakat Baduy.
Adanya Saba Baduy juga memiliki banyak manfaat seperti mengenalkan suku dan budaya khas Indonesia serta membantu perekonomian suku Baduy dengan menjual produk-produk khas mereka seperti tenun dan lain sebagainya.
Suku Baduy sendiri dibagi menjadi dua, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar.
Ciri yang membedakan keduanya secara jelas adalah suku Baduy dalam tidak menerima teknologi sama sekali sedangkan Baduy Luar menerina sebagian teknologi.
Berikut 3 hal unik dari suku Baduy:
1. suku baduy dalam akan ditutup selama 3 bulan dalam setahun
Suku Baduy dalam akan ditutup selama 3 bulan dalam setahun.
Ini adalah tradisi dimana akses suku Baduy ditutup setiap bulan kawalu. Orang luar Baduy dilarang mengunjungi suku ini.
Sebab mereka tengah menjalani ritual penyucian diri atau disebut Kawalu.
Kawalu, bagian dari kepercayaan sunda wiwitan.
Waktu Kawalu pun beragam setiap tahunnya.
Hal itu berdasarkan kesepakatan pemimpin adat desa yaitu Tangtu Tilu Jaro Tujuh Lembaga Adat Desa Kanekes serta tokoh-tokoh masyarakat Badui Dalam.
Tujuan dari ditutupnya Saba Baduy adalah karena Ritual ini hanya dapat dilakukan dalam keadaan damai dan tenang sehingga dalam waktu itu masyarakat suku Baduy tidak menerima pengunjung.
Adanya tradisi ini merupakan bentuk syukur dari masyarakat Baduy terhadap panen yang mereka dapat dan kesyukuran lainnya.
2. Suku Baduy dalam merupakan daerah dengan blank spot
Suku Baduy merupakan bagian daerah yang tidak menerima signal sama sekali atau biasa disebut blank spot.
Hal ini bukan karena ke tidak mampuan pemerintah dalam memberikan sarana prasarana, namun merupakan kesepakatan bersama antara pemerintah dan suku Baduy Dalam.
Dengan menolak teknologi membuat mereka tidak terhasut untuk meninggalkan budaya yang selama ini mereka pegang, seperti halnya Baduy dalam teknologi seperti handphone.
Sebenarnya larangan ini juga berlaku untuk masyarakat Baduy luar.
Namun karena semakin tergerus zaman, suku Baduy luar membiarkan penggunaan handphone dengan mengambil sisi positif dari penggunaan handphone tersebut.
3. Meskipun menolak listrik tapi suku Baduy Luar sudah menggunakan teknologi
Suku Baduy Luar dan Baduy Dalam tidak menggunakan dan tidak mendapat saluran listrik dari PLN, meskipun sudah ditawarkan oleh pemerintah namun keduanya masih dengan sangat tegas menolak hal tersebut hal ini dikarenakan dengan masuknya listrik akan semakin membuat masyarakat baduy terhipnotis teknologi.
Selain itu meskipun listrik tidak dapat masuk ke dalam suku Baduy ini, namun beberapa masyarakat Baduy Luar tetap dapat menikmati lampu-lampu kecil seperti lampu tenaga surya, lampu dengan batrai maupun lampu dengan aki.
Hal ini pun sudah mendapatkan izin dari tetua yang ada di suku Badui Dalam. (Aina Puspita Ningrum)
Editor : Meitika Candra Lantiva