Tradisi ini dikenal dengan sebutan Sky Burial atau pemakaman langit.
Meskipun sangat tidak biasa, terkesan mengerikan bahkan tidak manusiawi.
Namun pemakaman langit memiliki makna yang sangat dalam bagi masyarakat Tibet.
Sejarah terbentuknya wilayah Tibet tidak bisa dilepaskan dari asal-usul pemakaman langit ini.
Tibet merupakan sebuah daerah dataran tinggi yang berada di bawah kekuasaan negara (RRC) atau Republik Rakyat Cina.
Mimiliki ketinggian kurang lebih 4.500 meter di atas permukaan laut, menjadikan Tibet sebagai wilayah paling tinggi di seluruh dunia hingga dijuluki atap dunia.
Dengan begitu sebagian rakyat Tibet pun turut mengikuti jejak sang raja berpindah agama, sedangkan sebagian lainnya tetap memeluk agama Bon.
Menariknya rakyat Tibet yang pindah agama Buddha ini tidak semerta-merta meninggalkan ajaran agama Bon begitu saja.
Rakyat Tibet justru mencampurkan ajaran agama Buddha dan Bon, lalu menciptakan agama Buddha aliran baru yang dikenal dengan nama Tibetan Buddhism atau Buddha Tibet.
Hal inilah yang menjadi cikal bakal adanya ritual memakamkan jasad manusia dengan dijadikan santapan burung pemakan bangkai atau yang dikenal sebagai ritual pemakaman langit.
Salah satu ajaran agama Buddha yang mereka pelajari adalah konsep askketisme.
Kepercayaan yang mengajarkan bahwa manusia di dunia tidak selamanya abadi, apa yang mereka miliki bukan hak mereka seutuhnya.
Maka mereka pun diajarkan untuk melepaskan segala bentuk harta duniawi, termasuk jasad mereka setelah mati.
Jasad manusia dianggap lebih berguna jika diberikan kepada makhluk hidup lain yang lebih berhak, yaitu burung Nasar yang kesulitan mencari makan di pegunungan Tibet.
Burung Nasar dianggap sebagai makhluk sucu yang bisa membantu jiwa orang mati berpindah ke alam baka.
Seiring perkembangan zaman, ritual pemakaman langit sudah tidak boleh dilalukan oleh warga biasa.
Ritual ini hanya boleh dilakukan oleh biksu yang disebut Chokrap.
Untuk menjadi seorang Chokrap, memerlukan seleksi yang ketat dan berat.
Mereka harus sujud sebanyak 100.000 kali dan mendapat restu dari biksu Agung.
Setelah dipilih, disitulah Chokrap baru bisa ditugaskan untuk memimpin ritual pemakaman langit.
Saat ada warga Tibet yang meninggal, Chokrap akan datang ke rumah jenazah dan melakukan ritual Powa, dengan membacakan mantra khusus dan mengetuk kepala jenazah.
Ritual itu dipercaya berfungsi untuk memindahkan kesadaran jenazah dari dunia menuju ke alam baka.
Keluarga jenazah juga diminta untuk berdua berdoa dan berpuasa selama tiga hari, setelah ritual Powa itu selesai.
Chokrap juga mewajibkan para keluarga untuk memotong rambut serta kuku jenazah dan di simpan, nantinya kuku dan rambut itu akan dipakai diupacara doa yang berlangsung selama 49 hari.
Ketika kondisi jenazah sudah membusuk, jenazah dibawa ke atas bukit dan dipotong-potong oleh Chokrap.
Daging dan tulang jenazah dicampur tepung dan dibiarkan dimakan oleh burung Nasar.
Sisa tulang belulang tersebut kemudian dibakar atau dibuang ke sungai atau jurang.
Hal yang menarik dari ritual ini bahwa tidak semua anggota keluarga boleh ikut mengantarkan jenazah, yang boleh hanya keluarga yang berjenis kelamin laki-laki saja.
Wanita dianggap tidak mampu secara fisik dan mental untuk terlibat dalam ritual, yang dikenal sadis.
Dikatakan bahwa semakin cepat jenazah tadi dimakan oleh burung-burung Nasar makan semakin baik juga nasib jenazah tersebut di kehidupan selanjutnya.
Namun pada tahun 1950 pasukan Cina menyerang Tibet dan pada tahun 1951 Tibet jatuh ke tangan Cina.
Disini pemerintah Cina mulai melarang berbagai adat dan tradisi Tibet, termasuk pemakaman langit.
Pada tahun 1960 pemerintah Cina mulai mengenalkan kremasi dan membangun krematorium, meskipun begitu beberapa masyarakat Tibet tetap menjalankan pemakaman langit secara diam-diam.
Namun, pada tahun 1984 pemerinta Cina kembali memperbolehkan pemakaman langit dan menjadikannya atraksi wisata.
Tetapi pada tahun 2006, pemerintah melarang pemakaman langit sebagai atraksi wisata dan menetapkan aturan baru bahwa pemakaman langit hanya boleh dilakukan secara privat.
Pemakaman langit boleh dilakukan jika memenuhi syarat seperti, jenazah harus berusia di atas 18 tahun, bukan wanita hamil, bukan korban kecelakaan, dan tidak menderita penyakit menular.
Meskipun terlihat mengerikan, pemakaman langit merupakan tradisi yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Tibet.
Tradisi ini tidak hanya bertujuan untuk memberi makan burung Nasar yang kesulitan mencari makanan, tetapi juga dipercaya akan mengantarkan para jenazah untuk mencapai surga dengan mudah.
Tradisi ini terus dilestarikan sebagai bagian dari kepercayaan dan budaya Tibet, meskipun telah mengalami berbagai perubahan dan tentangan sepanjang sejarah. (Indah Wahyuni Saputri)