SLEMAN - Tiga kekalahan beruntun yang didapat PSS Sleman di awal Kompetisi Super League musim 2026/2027 tentu saja menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak. Itu salah satunya juga datang dari para pemain.
Gelandang muda Super Elja Markus Madjar membongkar biang kerok di balik keterpurukan timnya. Menurutnya, minimnya chemistry dan komunikasi antarpemain di lapangan menjadi faktor utama penggawa Laskar Sembada belum mampu mengamankan poin.
Baca Juga: Gempa Dangkal 2,7 SR Guncang Perairan Kulon Progo, Banyak Masyarakat Tak Merasakan
Mantan pemain Persipura Jayapura ini membeberkan, lemahnya koordinasi sangat berdampak pada performa tim dalam tiga laga awal lalu. Masalah tersebut terlihat jelas saat tim melakukan transisi permainan.
"Yang menjadi kesulitan kami ya kurangnya komunikasi dan chemistry pada saat bertahan maupun menyerang. Kami sebenarnya banyak menciptakan peluang, cuma komunikasi dan chemistry-nya yang harus ditingkatkan lagi agar bisa mendapatkan hasil yang baik," ucapnya, Senin (5/10/2026).
Baca Juga: Bayangan Black Death di Siberia, Pekerja Lab Tewas, Hampir 200 Orang Dikarantina
Saat disinggung mengenai apakah kurangnya chemistry itu disebabkan dari kendala bahasa yang kerap diisukan menjadi penghambat antarpemain lokal dan asing, Markus menepis hal itu. Pemain berusia 21 tahun ini menegaskan sejatinya tidak ada kendala bahasa yang berarti di dalam skuad PSS Sleman.
Sebab, tim pelatih dan pemain sudah memiliki cara tersendiri untuk berkomunikasi di lapangan. "Sebenarnya masalah bahasa tidak sih, karena ada penerjemah juga. Pada saat main, beberapa senior juga sudah mengerti dengan bahasa mereka, baik lewat kode tangan ataupun kode badan. Jadi pasti sudah paham," cetusnya. (ayu/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja