Dari Bertahan ke Berbenah, Van Gastel Bawa Evaluasi Gaya Main PSIM Jogja ke Musim Keduanya 

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 21:43 WIB
Pelatih PSIM Jogja Jean Paul Van Gastel. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
Pelatih PSIM Jogja Jean Paul Van Gastel. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)

JOGJA - PSIM Jogja kini memasuki musim kedua di kasta tertinggi sepak bola Indonesia dengan membawa sejumlah evaluasi dari kompetisi sebelumnya. Salah satu aspek yang menjadi perhatian Pelatih Jean Paul Van Gastel adalah konsekuensi dari gaya bermain agresif yang diterapkan Laskar Mataram.

PSIM memang mampu mempertahankan eksistensinya di Super League pada musim 2026/2027 ini. Namun Van Gastel melihat masih ada sejumlah persoalan yang perlu diperbaiki agar timnya dapat berkembang pada musim 2026/2027.

Salah satunya berkaitan dengan cara PSIM melakukan pressing. Menurut Van Gastel, tekanan agresif kepada lawan memang menjadi bagian dari permainan timnya. Namun pendekatan tersebut secara bersamaan membuat lini belakang lebih terekspos.

Baca Juga: Refleksi PSIM Jogja usai Kalah di GBT, Van Gastel Jelaskan Strategi Pergantian Pemainnya

"Ketika kami melakukan pressing secara agresif, itu berarti lini belakang kami menjadi lebih terbuka. Jadi, situasi itu juga membuat kami lebih sulit untuk bertahan," kata Van Gastel, Senin (14/9/2026).

Evaluasi tersebut menjadi bagian dari proses PSIM menatap musim keduanya di kasta tertinggi. Van Gastel menilai pengalaman pada musim lalu memberikan gambaran lebih jelas mengenai kekuatan dan kelemahan tim.

Musim 2025/2026 sendiri menjadi musim pertama PSIM kembali ke kasta tertinggi setelah 18 tahun berada di Liga 2. Karena itu, target utama ketika itu adalah memastikan Laskar Mataram tidak kembali turun kasta.

PSIM akhirnya mengakhiri kompetisi di peringkat ke-11 dengan koleksi 45 poin. Secara perolehan poin, PSIM sebenarnya berada dalam kelompok yang sama dengan tim yang menempati posisi ke-10, tetapi kalah dalam selisih gol.

"Kalau melihat dari mana PSIM datang, setelah 18 tahun di Liga 2 kemudian promosi, musim lalu adalah musim pertama kembali ke Liga 1. Prioritas kami saat itu adalah tidak terdegradasi," ujar Van Gastel.

Baca Juga: Belum Puas dengan Gol Perdana, Matheus Fornazari Soroti Finishing PSS Sleman 

Setelah berhasil melewati musim pertama, Van Gastel kini memiliki dasar evaluasi yang lebih konkret untuk membangun PSIM. Persoalan bukan lagi sebatas bagaimana bertahan di kompetisi, tetapi bagaimana memperbaiki detail permainan yang membuat tim belum maksimal.

Selain persoalan ketika melakukan pressing, Van Gastel juga mengakui PSIM masih menghadapi kendala dalam penyelesaian di sepertiga akhir. Terutama ketika berhadapan dengan lawan yang menerapkan pertahanan rendah atau low block.

Menurutnya, persoalan itu bukan sesuatu yang hanya dialami PSIM. Tim dengan pendekatan permainan agresif sekalipun tetap menghadapi tantangan ketika lawan memilih bertahan rapat.

"Kami memang memiliki beberapa masalah dalam penyelesaian di sepertiga akhir. Kami memahami bahwa sulit untuk menghadapi tim yang bermain low block," tutur Van Gastel.

Baca Juga: 24 Siswa SMA/MA Wakili DIY Ikut OSN; Ingin Raih Juara Umum, Ajang Siswa Berkarakter melalui Prestasi

Karena itu, PSIM melakukan perubahan komposisi skuad pada musim ini. Sejumlah pemain baru didatangkan dengan harapan mampu menutup celah yang terlihat sepanjang musim sebelumnya.

Van Gastel menegaskan rekrutmen tersebut tidak semata-mata untuk menambah jumlah pemain, melainkan bagian dari upaya memperbaiki persoalan yang sudah teridentifikasi.

"Kami datangkan beberapa pemain dengan karakter yang berbeda agar mudah-mudahan bisa menutupi persoalan yang kami miliki musim lalu,” paparnya. (iza/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Super League pada musim 2026/2027 PSIM low block Laskar Mataram Jean Paul van Gastel