JOGJA - PSIM Jogja kini terus mematangkan persiapan untuk menghadapi BRI Super League 2026/2027. Menariknya, komposisi skuad Laskar Mataram di atas kertas memiliki nilai pasar yang cukup tinggi.
Menilik data dari Transfermarkt, PSIM memiliki total market value atau nilai pasar Rp 84,3 miliar dan menempati posisi keenam dari 18 klub peserta kompetisi kasta tertinggi Indonesia.
Nilai itu meningkat seiring kedatangan sejumlah pemain baru, termasuk beberapa legiun asing berpengalaman. Meski demikian, Pelatih PSIM Jean Paul Van Gastel tidak ingin menjadikan angka itu sebagai patokan untuk menilai kekuatan timnya.
Baca Juga: BKN Keluarkan Rekomendasi Penyelesaian Soal Atik Sudarmi
Menurut Van Gastel, kualitas sebuah skuad tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan nama pemain maupun nilai pasar. Pembuktian sesungguhnya baru akan terlihat setelah kompetisi bergulir nanti.
"Sulit untuk mengatakan sekarang. Kami memang mendatangkan pemain-pemain baru yang kami harap bisa membawa kualitas tambahan. Tapi mari kita lihat nanti, apakah rekrutan ini sudah tepat atau belum," katanya, Rabu (26/8/2026).
Secara statistik PSIM saat ini memiliki total 26 pemain dalam skuad. Komposisi itu terdiri atas empat penjaga gawang dan 22 pemain lapangan. Sebanyak 11 pemain di antaranya merupakan pemain asing, sesuai jumlah maksimal yang diperbolehkan regulasi.
Dari seluruh pemain baru PSIM, winger asal Kosta Rika Marvin Loria tercatat sebagai pemain dengan nilai pasar tertinggi. Pemain anyar itu memiliki nilai pasar Rp 8,69 miliar.
Baca Juga: Wajah Gedung Pemkab Gunungkidul Berubah Warna, dari Kuning ke Merah Putih: Ini Tujuannya..
Namun, tingginya nilai pasar maupun banyaknya pemain asing tidak otomatis membuat Van Gastel menganggap PSIM lebih kuat dibandingkan musim lalu. Pelatih asal Belanda itu justru menilai musim baru akan menghadirkan tantangan yang lebih kompleks.
Sebab, selain persaingan Super League yang semakin ketat, klub-klub juga harus menghadapi agenda League Cup serta jeda kompetisi yang panjang. Kondisi itu membuat persiapan fisik dan kedalaman skuad menjadi aspek penting sepanjang musim.
"Di sepak bola tidak ada jaminan. Kami harus realistis karena kompetisi musim ini juga akan lebih ketat. Ada Piala Liga, dan jeda kompetisi yang panjang," ujarnya.
Baca Juga: Tekan Inflasi, Polda DIY Gelar Pasar Murah Sediakan 1.200 Paket Sembako
Van Gastel juga belum menutup kemungkinan PSIM menambah pemain sebelum kompetisi berjalan lebih jauh. Bukan semata karena jumlah pemain saat ini, melainkan untuk mengantisipasi konsekuensi dari kalender pertandingan yang lebih padat.
Menurutnya, peningkatan jumlah pertandingan berpotensi membuat risiko cedera pemain ikut meningkat. Karena itu, kebutuhan terhadap kedalaman skuad perlu dihitung berdasarkan situasi kompetisi yang akan dihadapi.
"Kami harus siap kemungkinan banyak pemain cedera akibat jadwal padat yang tidak biasa dialami tim-tim Indonesia. Kami sedang mempertimbangkan mendatangkan pemain tambahan," katanya.
Baca Juga: Udhik-Udhik dari Sultan HB X Diburu, Warga: Disimpan Jadi Jimat
Dengan demikian, PSIM kini memasuki musim keduanya bersama Van Gastel dengan skuad yang relatif berbeda dan ekspektasi lebih tinggi. Setelah musim lalu mengakhiri kompetisi di posisi ke-11, Laskar Mataram kini dituntut tampil lebih kompetitif lagi.
Namun bagi Van Gastel, ukuran keberhasilan skuad barunya juga bukan terletak pada besarnya nilai pasar atau banyaknya pemain asing. "Ini juga tentang bagaimana komponen tim dan pemain menerjemahkan strategi dan menunjukkan performanya di lapangan," paparnya. (iza/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja