JOGJA - Menjajal ganasnya rute menembus benua Eropa jelas bukan perkara mudah. Namun, tantangan ekstrem itu justru dilakoni oleh Bambang Anggoro Jati. Pesepeda ultra-endurance asal Gamping, Sleman ini membagikan kisahnya dalam mengarungi ajang gowes bergengsi, yakni Transcontinental.
Pria yang mengukir sejarah sebagai satu-satunya peserta asal Indonesia yang berhasil menyelesaikan balapan Transcontinental dalam 12 tahun penyelenggaraannya ini punya segudang cerita. Pada 2022 lalu, pria yang akrab disapa Bembenk Ora Turu ini sukses menuntaskan rute sejauh 4.400 km dari Paris ke Turki hanya dalam waktu 14 hari, sekaligus mengamankan peringkat 71 dari 326 peserta.
Sayang, pada edisi terbarunya yang menempuh rute dari Norwegia menuju Karamata Yunani, langkahnya harus terhenti di kilometer 4.000. Kecelakaan tunggal di Montenegro memaksa perjuangannya terhenti setelah menembus 10 negara.
"Terhentinya di Montenegro karena jatuh front flip. Padahal dari Roubaix sampai Montenegro itu sudah 4.000 km," cetusnya saat bertemu di The Padel Jogja, Rabu (12/8) pagi.
Bembenk menjelaskan, ganasnya rute Transcontinental tak hanya menguji fisik, tapi juga urusan logistik. Perubahan cuaca dari dingin ke panas ekstrem, hingga minimnya toko 24 jam menjadi kendala tersendiri untuk urusan asupan.
"Agak susah cari makan karena sedikit sekali ada toko 24 jam. Dulu tahun sebelumnya sempat kena asam lambung. Tapi kemarin saya bawa Nutriflakes yang praktis dibawa, jadi asam lambung tidak kumat lagi," lontarnya.
Baca Juga: Pesisir Selatan DIY Diterjang Gelombang Tinggi, Puluhan Kapal dan Rumah Rusak: Ini Penjelasan BPBD!
Uniknya lagi, Bembenk mengungkapkan saat berlomba di luar negeri ia hanya tidur maksimal empat jam saja. Itu dari dari jam 1 malam sampai jam 4 pagi.
"Tidur di halte bus. Lalu tiga atau empat hari sekali masuk hotel untuk rekap sekaligus charge perangkat elektronik," bebernya.
Meski gagal menyentuh garis finish tahun ini akibat insiden tersebut, Bembenk tak patah semangat. Dengan porsi latihan rutin mencapai 400 km per minggu yang diselingi gym dan lari, ia mengisyaratkan siap kembali berlaga di edisi berikutnya.
Kisah Bembenk tersebut menjadi salah satu alasan Nutriflakes, produk asal Jogja, menggandeng komunitas olahraga dalam memperkenalkan Nutriflakes Move. General Manager Nutriflakes Pery Oktriansah mengatakan produk tersebut dirancang sebagai nutrisi harian bagi masyarakat yang aktif.
Nutriflakes Move memadukan umbi garut dan susu skim dengan kolagen, glukosamin, serta kondroitin dalam formulasi yang disebut 3-in-1 Action untuk mendukung kesehatan sendi, tulang, dan otot. Produk ini juga mengandung ekstrak brokoli, daun kelor, psyllium husk, dan sorgum serta menggunakan stevia sebagai pemanis.
"Ini menandai komitmen Nutriflakes untuk menjawab kebutuhan masyarakat indonesia. Karena kami konsen pada gerak tubuh setiap hari. Kami Kami meluncurkan produk baru," ujarnya.
Baca Juga: Harga Telur Anjlok Bukan Semata karena Pakan Mahal, Pengamat UGM Soroti Dinamika Oversupply
Sementara, Founder Nutriflakes Sri Widya Soepena mengatakan dukungan terhadap Bembenk merupakan bagian dari semangat perusahaan untuk mendorong masyarakat tetap aktif.
"Kami ingin gumregah dan bregas bersama. Ini menjadi spirit di balik inovasi kami, berkontribusi mendukung terciptanya generasi lebih unggul yang aktif dan terus bisa bekerja serta berkarya dengan baik," ungkapnya.
Peluncuran Nutriflakes Move di The Padel juga dirangkaikan dengan fun padel competition bersama komunitas Beauty Padel Club dan Padel.Bareng. Selain itu, Nutriflakes mulai menggerakkan komunitas Nutrimove di berbagai daerah sebagai bagian dari kampanye gaya hidup aktif.
Nutriflakes Move dikemas dalam 210 gram berisi tujuh sachet dan telah terdaftar di BPOM RI serta bersertifikat halal. Produk tersebut diposisikan sebagai minuman nutrisi fungsional harian, bukan obat maupun terapi medis. (ayu).
Editor : Heru Pratomo