JOGJA - Pendapatan dari sektor tiket pertandingan kandang PSIM Jogja sepanjang musim 2025/2026 masih jauh dari kata memuaskan.
Manajemen Laskar Mataram mencatat realisasi pemasukan dari tribun penonton itu melesat jauh di bawah target yang telah dicanangkan.
Direktur Utama PSIM Yuliana Tasno menjelaskan pihak manajemen sebenarnya tidak memasang target angka yang muluk-muluk alias agresif untuk pos pendapatan tiket musim 2025/2026.
Menurutnya, manajemen sadar diri dengan kondisi infrastruktur homebase yang masih jauh dari kata ideal. Namun, hasil akhirnya, tetap saja di luar ekspektasi.
"Proyeksi pemasukan tiket ini sangat jauh sekali dari target kami. Padahal saya tidak menaruh angka yang agresif di situ, saya taruh yang realistis saja," ucap wanita yang akrab disapa Liana, Minggu (5/7/2026).
Kendati demikian, Liana menegaskan pihak manajemen tidak mau patah semangat dan meratapi rapor merah evaluasi finansial sektor tiket tersebut.
"Jadi kami akan terus berjuang untuk musim depan, apa pun yang terjadi," cetusnya.
Oleh karena itu, menatap musim 2026/2027, ia mengaku masih menaruh harapan besar pada harmonisasi di internal dua wadah suporter PSIM, yakni Brajamusti dan The Maident.
Momentum terpilihnya Presiden Brajamusti baru juga diharapkan mampu menjadi pemantik animo untuk kembali meramaikan tribun stadion.
Saat disinggung berapa angka ideal kehadiran penonton agar finansial klub bisa stabil secara mandiri, Liana mengaku belum mengalkulasi angka pastinya.
Sebab selama ini manajemen baru memetakan prediksi realitas di lapangan yang berada di kisaran ribuan penonton saja.
"Terus terang saya memang belum kalkulasi idealnya berapa. Karena yang saya kalkulasi itu realita di lapangan.
Kami dapat prediksinya cuma di angka delapan ribu atau 10 ribu penonton," jelasnya.
Liana pun berharap jika PSIM Jogja ingin sekokoh klub-klub lainnya. Maka basis massa suporter harus bisa datang langsung ke stadion secara masif.
Namun, regulasi dan perizinan lokal sering kali menjadi batas yang tidak bisa ditembus.
Baca Juga: PSIM Jogja Bidik Dua Pemain Lokal; Ahmad Agung dan Indra Arya Perceka Masuk Radar Perburuan
Maka dari itu, Liana menegaskan prospek bisnis PSIM ke depan harus tetap bergerak ke arah industri yang lebih besar.
Mengingat tim yang lahir pada tanggal 5 September 1929 silam ini telah mengakar di wilayah DIY yang memiliki ceruk pasar potensial yang luar biasa.
"Saya berharap dengan perjalanan PSIM ke depan yang akan semakin besar lagi. Karena kenapa, kami bicaranya adalah bicara DIY.
Kami bicara suatu wilayah yang istimewa dan wilayah yang besar dengan empat juta populasi penduduk," tandasnya. (ayu/laz)
Editor : Herpri Kartun