JOGJA - Setelah sukses bertahan pada musim perdananya di kasta tertinggi sepak bola Indonesia yakni BRI Super League, PSIM Jogja kini mulai menyusun fondasi jangka panjang untuk menjaga daya saing klub.
Salah satu fokus yang disiapkan manajemen adalah membangun sistem youth development atau pembinaan usia muda sebagai pemasok pemain bagi tim utama.
Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno mengatakan, performa tim utama tetap menjadi prioritas baginya. Namun, menurutnya, keberlanjutan klub tidak bisa hanya mengandalkan perekrutan pemain setiap musim karena biaya operasional akan terus meningkat.
"Performa tim tetap nomor satu. Tapi performa ini harus diseimbangkan dengan cost. Harus tercipta youth development, karena itu akan menyuplai ke tim utama," katanya, Kamis (2/7).
Ia menuturkan, pembangunan pembinaan usia muda merupakan visi jangka panjang yang ingin diwujudkan PSIM. Selain memperkuat tim utama di masa depan, program itu diharapkan mampu melahirkan lebih banyak pesepak bola berkualitas asal DIY.
"Visi saya memang ke youth development. Saya ingin membangun untuk DIY dulu. Harapannya kita bisa lahirkan pemain-pemain bola yang andal," tuturnya.
Meski demikian, perempuan yang kerap disapa Ci Liana ini mengakui, proses mewujudkan pembinaan usia muda tidak bisa dilakukan secara instan. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah penyediaan infrastruktur pendukung, termasuk lapangan latihan.
"Implementasinya tidak mudah, tapi tentu kita sedang mengupayakan," bebernya.
Baca Juga: Semusim di PSIM Jogja Bermasalah dengan Cedera hingga Sempat Bela EPA, Andy Setyo Nugroho Pamit
Yuliana menambahkan, memasuki musim kedua PSIM di BRI Super League 2026/2027, target klub tidak hanya menjaga eksistensi di kasta tertinggi, tetapi juga mulai membangun sistem yang membuat PSIM lebih mandiri dalam jangka panjang.
"Kalau youth development ini berjalan, lama-lama kita bisa melahirkan pemain sendiri. Itu visi saya untuk masa depan PSIM," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun