JOGJA - Pengda Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) DIJ ingin mencetak sumber daya manusia (SDM) wasit dan juri yang melek regulasi global. Hal itu dilakukan untuk menyongsong target besar Pencak Silat Goes to Olympic Games.
Ketua Lembaga Wasit Juri IPSI DIJ Agung Nugroho mengatakan, dinamika regulasi pencak silat internasional kini terus berkembang sangat cepat. Perubahan aturan pertandingan saat ini sangat mempertimbangkan aspek keselamatan atlet demi meminimalkan cedera, mendongkrak daya tarik di kancah dunia, serta menjaga objektivitas penilaian.
"Kami ingin mendongkrak kualitas dan kuantitas wasit yang ada di DIJ. Terlebih, regulasi di IPSI pusat memang mengalami perubahan yang cukup signifikan," bebernya, Rabu (1/7).
Baca Juga: Program Kecamatan Berdaya Terus Berproses, Targetkan Tahun Ini Terealisasi Seluruhnya
Dalam kesempatan ini, lanjut Agung, ada sebanyak total 65 peserta dari perwakilan kabupaten dan kota se-DIJ yang telah mengikuti penataran wasit yang digelar oleh IPSI DIJ beberapa waktu lalu. Dominasi peserta tercatat berasal dari Sleman, Kota Jogja, dan Gunungkidul. Mereka merupakan wasit juri daerah maupun cabang (kelas 1, 2, dan 3) yang minimal telah mengantongi satu tahun jam terbang.
Agung menambahkan, pihaknya tidak menutup mata bagi para pengadil lapangan yang belum memiliki pengalaman, khususnya di wilayah Bantul dan Kulonprogo."Formatnya tanpa materi ujian kenaikan tingkat, karena yang terpenting mereka juga memiliki hak yang sama untuk memahami rule pertandingan terbaru," lontarnya.
Saat ini, DIJ sendiri sebenarnya telah memiliki modal berharga dengan kepemilikan enam wasit berstatus internasional. Melalui penataran tersebut Agung membidik regenerasi agar wasit daerah kelas 1 bisa segera naik kelas untuk menembus dan mewakili DIJ di level nasional.
Baca Juga: BBPTKG Ingatkan Tingginya Potensi Erupsi Eksplosif Mendadak Gunung Merapi
Sementara, Bidang Pendidikan dan Penataran (Diktar) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DIJ Aprida Agung Priambadha mengatakan jika korps wasit juri memiliki peran yang sangat krusial. Mereka adalah penjaga keadilan para atlet di atas lapangan. "Makanya, keputusan yang keluar harus objektif, akurat, dan mutlak sesuai aturan baku," cetusnya.
Maka dari itu, KONI DIJ berharap kegiatan yang telah dilakukan oleh IPSI DIJ itu tidak sekadar menjadi ritual formalitas demi mencari sertifikasi atau kenaikan tingkat semata. Penataran tersebut wajib menjadi ruang penyamaan persepsi atas aturan baru PB IPSI, sekaligus mengikis potensi konflik kepentingan. "Kami ingin pasca-agenda ini lahir wasit juri yang kompeten, adil, dan berwibawa demi mengharumkan pencak silat DIJ," tandas Agung. (ayu/pra)
Editor : Heru Pratomo