Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jogja Bersiap Gelar Dua Kirab Malam 1 Suro, Ribuan Suporter PSIM Akan Bertapa Demi Lampu Stadion Mandala Krida

Adib Lazwar Irkhami • Senin, 8 Juni 2026 | 21:13 WIB
TIDAK BERSTATUS SITAAN: Stadion Mandala Krida tidak menjadi barang sitaan KPK dalam perkara hukum pada kasus korupsi proyek 2016-2017, kemarin (16/5). (Rizky Wahyu/Radar Jogja)
Stadion Mandala Krida (Foto: Rizky Wahyu/Radar Jogja)

JOGJA - Malam 1 Suro 2026 tampaknya akan menjadi malam yang sibuk bagi aparat keamanan di DIY. 

Jika biasanya perhatian publik tertuju pada Kirab Pusaka Keraton Jogja yang sakral dan khidmat, kali ini ada satu kirab tandingan yang dipastikan tak kalah menyedot perhatian, yakni Topo Bisu Mandala yang digelar ribuan suporter PSIM. 

Bedanya, jika kirab keraton digelar tengah malam dengan peserta berjalan tanpa bicara sebagai bentuk laku spiritual, pada kirab lain para pendukung Laskar Mataram akan lebih dulu melakukan topo bisu versi sepak bola. 

Sama-sama berjalan dalam diam, sama-sama mengenakan pakaian serba hitam.

Tapi doa yang dipanjatkan tampaknya bukan soal keselamatan negeri, melainkan satu hal yang lebih membumi, lampu stadion.

Baca Juga: KSPSI Dorong Polres Kebumen Bentuk Desk Ketenagakerjaan, Ini Tujuannya

Aksi itu dijadwalkan berlangsung 16 Juni 2026 pukul 21.00. Itu diperkirakan diikuti sekitar tiga ribu suporter.

Mereka akan memulai perjalanan dari Wisma PSIM Jogja sebelum mengelilingi Stadion Mandala Krida, stadion yang selama puluhan tahun menjadi identitas klub kebanggaan Kota Jogja itu.

Penggagas aksi topo bisa Mandala Krida, Andre Miliran menegaskan kegiatan ini merupakan bentuk aspirasi damai suporter yang berharap mendapat perhatian dari seluruh pihak yang memiliki kepentingan terhadap masa depan PSIM dan Stadion Mandala Krida.

"Ini aksi damai yang kami harapkan mendapat perhatian dari pihak-pihak terkait dan stakeholder PSIM," katanya, Senin (8/6/2026).

Baca Juga: Komisi A DPRD Gunungkidul Beri Catatan soal Seleksi JPT Pratama, Minta Pansel Independen dan Bebas Intervensi

Andre mengatakan, aksi itu dilakukan karena di balik aksi simbolik tersebut tersimpan kekecewaan yang telah lama mengendap.

Setelah berhasil promosi ke Liga 1, PSIM justru tidak dapat menggunakan Mandala Krida sebagai kandang utama. 

Stadion itu belum memenuhi sejumlah persyaratan kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia, terutama terkait fasilitas penerangan yang dinilai belum memadai.

Akibatnya, klub yang lahir pada 5 September 1929 silam itu terpaksa mengungsi ke Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul untuk menjalani pertandingan kandang Super League.

Sebuah ironi yang bagi sebagian suporter terasa seperti memiliki rumah sendiri tetapi harus menumpang di rumah tetangga.

Baca Juga: Mural Suporter PSIM Jogja soal Korupsi Mandala Krida Dihapus, Ada Pihak Tertentu Gerah; Endus Ada Intimidasi

Bagi pendukung PSIM, masalah ini bukan sekadar soal infrastruktur. Sebab, Stadion Mandala Krida dianggap bagian dari identitas klub dan sejarah sepak bola Jogjakarta.

Bermain jauh dari stadion itu dianggap mengurangi ikatan emosional antara tim dan pendukungnya.

Situasi ini juga menghadirkan tantangan tersendiri bagi aparat keamanan.

Dalam rentang waktu hanya beberapa jam, mereka harus mengawal dua agenda besar yang sama-sama berupa kirab dan sama-sama melibatkan massa dalam jumlah besar.

Jika kirab keraton dikenal sebagai tradisi spiritual yang telah berlangsung turun-temurun, maka kirab suporter PSIM ini bisa disebut sebagai ritual modern masyarakat sepak bola Jogja.

Baca Juga: Olahraga Kian Meningkat dan Jadi Gaya Hidup, Sportswear dan Streetwear Miliki Peluang Baru sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif DIY

Yang satu membawa pusaka kerajaan, yang satu membawa harapan agar tiang lampu stadion segera berdiri.

Malam 1 Suro tahun ini pun berpotensi menghadirkan pemandangan unik. Warga akan menyaksikan dua bentuk laku prihatin yang berbeda.

Di sekitar keraton orang-orang berjalan memaknai perjalanan hidup dan nilai-nilai spiritual Jawa. Sementara di Mandala Krida, ribuan suporter berjalan dalam diam memikirkan satu pertanyaan yang mungkin sama kuatnya.

"Bagaimana mungkin klub Liga 1 punya suporter fanatik, sejarah panjang, dan stadion megah, tetapi masih menunggu lampu menyala," tegasnya.

Di Jogjakarta, rupanya bahkan lampu stadion bisa menjadi perkara yang cukup sakral untuk diperingati pada malam 1 Suro.

Sebab bagi para pendukung PSIM, lampu stadion bukan sekadar fasilitas pertandingan, melainkan simbol bahwa Mandala Krida masih dianggap rumah yang layak bagi Laskar Mataram.  (ayu/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#topo bisu #Mandala Krida #PSIM #Laskar Mataram #1 suro