Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Merapi Masih Bernapas: 117 Guguran dan Lava Meluncur 2 Km, Hati Warga di Lereng Kembali Berdegup

I
Penulis: Iwa Ikhwanudin❯
STATUS SIAGA: Luncuran awan panas Gunung Merapi Selasa (9/6). (Dokumentasi BPPTKG)
STATUS SIAGA: Luncuran awan panas Gunung Merapi Selasa (9/6). (Dokumentasi BPPTKG)

Advertisement

SLEMAN – Di kaki Gunung Merapi yang menjulang di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, malam Jumat 7 Agustus 2026 terasa lebih panjang dari biasanya. Status gunung tetap Level III Siaga. Dalam 24 jam, 117 kali guguran tercatat, dan sepuluh kali lava perlahan meluncur ke arah barat daya, mencapai jarak maksimal 2.000 meter menuju Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak. Setiap getaran kecil seolah mengingatkan warga bahwa gunung yang mereka cintai masih hidup—dan masih menuntut kewaspadaan.

Pengamat melihat puncak Merapi kadang jelas, kadang diselimuti kabut tipis. Asap putih tebal keluar pelan dari kawah, menjulang 150 hingga 200 meter. Angin tenang bertiup ke timur, suhu udara berkisar 15,5–26 derajat Celsius. Suasana di lereng terasa tenang di permukaan, tapi di bawahnya suplai magma terus bergerak. Sembilan puluh gempa hybrid dan dua gempa tektonik jauh turut tercatat, memperkuat tanda bahwa tubuh gunung belum benar-benar tenang.

Advertisement

Bagi warga di Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten, angka-angka itu bukan sekadar data. Mereka adalah orang-orang yang tidur dengan jendela menghadap gunung, yang setiap pagi mengecek langit, dan yang tahu benar arti “zona bahaya”. Ketika lava meluncur hingga dua kilometer, bayangan awan panas dan lahar seolah hadir di pikiran. Sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, Woro, dan Gendol kembali menjadi nama-nama yang disebut dengan hati-hati. Potensi material bisa menjangkau 5 hingga 7 km di sektor selatan-barat daya, dan hingga 3–5 km di sektor tenggara. Jika terjadi letusan eksplosif, radius 3 km dari puncak bisa terdampak lontaran material.

Pesan dari Badan Geologi, PVMBG, dan BPPTKG tetap sama, namun kali ini terasa lebih berat: jangan masuk ke daerah potensi bahaya. Jangan abai saat hujan turun di sekitar Merapi. Waspadai lahar dan awan panas guguran. Antisipasi abu vulkanik. Karena di balik keindahan siluet gunung di pagi hari, ada ancaman yang bisa datang tanpa banyak peringatan.

Advertisement

Laporan yang disusun Suratno dan Yulianto ini seperti bisikan lembut sekaligus tegas. Merapi belum selesai “berbicara”. Data pemantauan menunjukkan magma masih naik, dan setiap luncuran lava adalah pengingat bahwa gunung ini bukan sekadar latar foto, melainkan tetangga yang harus dihormati. Warga di lereng sudah lama belajar hidup berdampingan dengan ketegangan ini. Mereka tahu kapan harus menyingkir, kapan harus menunggu, dan kapan harus percaya pada arahan resmi.

Di tengah aktivitas yang masih tinggi, ada rasa campur aduk: takut, lelah, tapi juga keteguhan. Banyak yang memilih tetap di rumah, mengecek informasi resmi, dan saling mengingatkan tetangga. Karena di sini, keselamatan bukan urusan individu semata, melainkan tanggung jawab bersama. Status Siaga bukan berarti panik, melainkan undangan untuk lebih berhati-hati, lebih peka, dan lebih saling menjaga.

Merapi terus dipantau. Jika ada perubahan signifikan, status akan segera ditinjau. Sementara itu, warga diingatkan untuk hanya percaya pada sumber resmi dari Badan Geologi dan kanal PVMBG. Di lereng yang indah sekaligus penuh risiko ini, harapan terbesar tetap sama: semoga gunung tetap tenang, dan manusia di bawahnya tetap aman.

Karena di setiap guguran dan luncuran lava, yang terdengar bukan hanya suara batu, melainkan denyut hati ribuan orang yang tinggal di bawah bayangannya.

 

 

Advertisement
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG Yogyakarta
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Relawan Bencana di Kebumen Dilatih Respons Darurat saat di Hutan atau Medan Sulit

Relawan Bencana di Kebumen Dilatih Respons Darurat saat di Hutan atau Medan Sulit

Relawan dari berbagai komunitas mengikuti pelatihan tanggap darurat bencana yang digelar BPBD Kebumen. (Dokumentasi BPBRelawan Bencana di Kebumen Dilatih Respons Kondisi dan Situasi Darurat saat di Hutan atau Medan Sulit

Unik, PDI Perjuangan Kota Jogja Selenggarakan Simulasi Bencana dan Penanaman Pohon di Momen Pelantikan Pengurus: Ini Alasannya!

Unik, PDI Perjuangan Kota Jogja Selenggarakan Simulasi Bencana dan Penanaman Pohon di Momen Pelantikan Pengurus: Ini Alasannya!

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Jogja menerapkan cara unik untuk melantik jajaran pengurus partai. Yakni ditambah simulasi penyelamatan bencana dan penanaman ratusan bibit pohon di Sungai Gajahwong pada..

Mengabadikan Bencana, Merawat Ingatan, dan Menyalakan Harapan di Omah Petroek, Sleman

Mengabadikan Bencana, Merawat Ingatan, dan Menyalakan Harapan di Omah Petroek, Sleman

Deretan karya foto jurnalistik berjajar rapi di Omah Petroek, Pakem, Sleman, Sabtu (25/7). Setiap bingkai memotret pilu, ketangguhan, sekaligus asa dari bumi Sumatra. 

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer