JOGJA - Aksi mural serentak yang diinisiasi suporter PSIM Jogja sebagai bentuk kepedulian terhadap Stadion Mandala Krida, mulai mendapat respons abu-abu.
Salah satu karya seni jalanan yang ada di kawasan perempatan Ketandan, Malioboro, dilaporkan telah dihapus secara selektif menggunakan cat hitam.
Menariknya, penghapusan itu tidak dilakukan secara menyeluruh. Cat hitam tersebut hanya menutup narasi kritik berbunyi 'Usut Tuntas Korupsi Mandala Krida'.
Sementara itu, mural yang bertuliskan 'PSIM Jogja' yang berada di satu kesatuan dinding yang sama justru dibiarkan utuh tanpa disentuh.
Salah seorang perwakilan aksi dari Guyub Seni (GS) Mataram, Wage membenarkan adanya insiden penghapusan mural ini.
Penghapusan dinilai sangat janggal. Sebab, suporter sebenarnya sudah melakukan koordinasi dan mengantongi izin dari pemilik bangunan sebelum kuas pertama digoreskan di tembok Toko Perhiasan Bintang Mas itu.
GS Mataram, lanjut Wage, juga sudah melakukan koordinasi dengan laskar-laskar yang membuat mural seperti Blue Dragon Troops, Bantul Bois, Captains Tendean, Depok Boys, Jogja Dirty Bois, Ks Tubun, dan Ledt Ground.
Namun belum ada kepastian siapa yang menghapus tulisan itu.
"Intinya mereka sudah berkoordinasi dengan warga sekitar dan pemilik lahan.
Baca Juga: Dinkes Bantul Catat 224 dari 475 Kasus TBC Didominasi Usia Dewasa
Namun setelah dihapus, muncul pertanyaan. Ternyata ada semacam ketakutan dari pemilik tembok," ucapnya, Senin (8/6/2026).
Wage menjelasakan, berdasarkan penelusuran pihak suporter, aksi tutup mulut dan pembersihan secara mandiri oleh pemilik toko itu diduga kuat terjadi karena adanya tekanan dari pihak luar.
Pemilik rumah yang didominasi lansia dan karyawan perempuan diduga merasa terintimidasi oleh isu sensitif yang diangkat.
Ketika pemilik toko ditanya mengenai siapa oknum yang meminta penghapusan itu, mereka enggan memberikan keterangan.
Hal inilah yang memicu spekulasi kuat di kalangan suporter bahwa ada intervensi dari pihak-pihak tertentu yang merasa gerah dengan masifnya tuntutan dari para suporter itu.
Baca Juga: BPKSF DIY Prioritaskan Kawasan Gumaton untuk Pengembangan Awal Sumbu Filosofi: Ini Alasannya!
"Kalau pemilik rumah tidak berkenan digambari, logisnya pasti dihapus semua. Tapi kenapa yang dihapus cuma isunya?
Berarti kan ada ketakutan dari yang punya rumah. Siapa yang bikin takut, beliau tidak mau menjawab," ungkapnya.
Tak hanya itu, meski sempat mendapat penolakan halus dengan dalih boleh digambari lagi asal bukan isu korupsi, pihak suporter menegaskan tidak akan mundur demi mengawal PSIM agar bisa berkandang lagi di Stadion Mandala Krida.
Diketahui, aksi mural serentak ini kali pertama dipecah di berbagai sudut wilayah Jogjakarta sejak Senin (1/6/2026) sore lalu.
Langkah ini diambil suporter sebagai wadah menyuarakan keresahan sekaligus mendesak aparat penegak hukum agar segera menuntaskan kasus korupsi renovasi Stadion Mandala Krida.
Meskipun mengusung pesan seragam yakni pengusutan tuntas kasus Mandala Krida, tiap laskar dan kelompok suporter diberikan kebebasan penuh untuk menuangkan kreativitas visual mereka di ruang publik.
Bagi suporter, tindakan pemberangusan karya di Ketandan ini justru menjadi indikator kuat bahwa pesan yang mereka kirimkan telah sampai dan berhasil mengusik pihak-pihak yang terlibat dalam lingkaran kasus itu.
"Respons teman-teman justru semakin yakin bahwa Mandala Krida sedang tidak baik-baik saja.
Seni sudah menjalankan tugasnya sebagai media propaganda dan aspirasi. Mereka terbukti semakin terusik," cetus Wage.
Sementara, aktivis sosial sekaligus pegiat antikorupsi dari Jogja Corruption Watch (JCW) Baharuddin Kamba menilai, karya-karya seni seperti mural tidak perlu dikhawatirkan.
Pasalnya, mural itu merupakan bagian dari ekspresi sekaligus kritik yang menyampaikan keluhan dari masyarakat, termasuk para suporter bola terhadap persoalan yang terjadi saat ini yakni penuntasan kasus korupsi renovasi Stadion Mandala Krida.
Baca Juga: Inflasi Terus Meroket, Legislatif Kota Jogja Usul Penggelontoran KUR Daerah
"Lagi pula mural-mural yang dibuat oleh para seniman, termasuk para suporter sepak bola, bukanlah tindakan kriminal seperti halnya yang dilakukan sejumlah oknum para pejabat yang menggarong uang rakyat melalui proyek Makan Bergizi Gratis (MBG)," bebernya.
Apabila mural-mural terkait penuntasan kasus korupsi pembangunan renovasi Stadion Mandala Krida dihapus, lanjut Kamba, maka hal itu bakal memunculkan mural-mural lainnya di lokasi lain.
Kritik masyarakat, termasuk kalangan suporter sepak bola melalui mural tidak perlu dikhawatirkan.
Tetapi pemerintah dapat segera memberikan solusi atas persoalan Mandala Krida.
"Itu agar Stadion Mandala Krida dapat segera digunakan sebagaimana mestinya," tandasnya. (ayu/laz)
Editor : Herpri Kartun