JOGJA - Pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel menegaskan, proses perkembangan tim menjadi fokus utama di tengah situasi yang belum sepenuhnya aman dari ancaman degradasi di BRI Super League 2025/2026.
Laskar Mataram masih harus bekerja keras untuk memastikan target utama manajemen, yakni bertahan di kasta tertinggi, dapat tercapai.
Van Gastel mengakui, secara hasil performa tim terlihat naik turun. Namun, menurutnya, perkembangan tim tidak selalu bisa dinilai secara instan dari hasil akhir pertandingan.
"Yang banyak orang lihat adalah hasilnya, entah itu bagus atau tidak. Tapi proses perkembangannya tidak selalu terlihat," ujar Van Gastel, Kamis (9/4/2026).
Pelatih asal Belanda itu menegaskan, sejak awal kedatangannya ke PSIM ia membawa dua misi utama, menyelamatkan tim dari degradasi dan meningkatkan standar di dalam organisasi.
"Ketika saya datang, ada dua hal yang harus saya lakukan. Pertama, jangan sampai terdegradasi. Kedua, menaikkan standar bagi semua orang di dalam tim ini," tegasnya.
Meski demikian, Van Gastel secara terbuka mengakui, proses tersebut belum berjalan sesuai ekspektasinya. Ia bahkan menilai tim sempat kehilangan momentum akibat kurangnya konsistensi.
"Prosesnya lebih lambat dari yang saya mau. Kami harusnya sudah bisa lebih aman sekarang, tapi kami terlalu santai dan kehilangan terlalu banyak poin yang tidak perlu," ulasnya.
Dengan laga tersisa, Van Gastel menekankan pentingnya memaksimalkan setiap pertandingan demi menghindari potensi ancaman di papan bawah klasemen.
Baginya, hasil akhir tetap menjadi penentu. Namun fondasi yang dibangun melalui proses jangka panjang menjadi kunci agar PSIM tidak hanya bertahan.
Tetapi juga mampu berkembang sebagai tim yang lebih kompetitif di masa mendatang.
"Tujuan utama kami tetap jelas, bertahan di liga ini. Kami berada di jalur yang tepat, tapi kami belum sepenuhnya aman," bebernya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun