RADAR JOGJA - Thibaut Courtois mengaku kecewa dengan klaim Jose Mourinho bahwa selebrasi gol Vinicius Junior menyebabkan sang bintang diduga mengalami pelecehan rasisme, saat Real Madrid bersiap menjamu Benfica dalam leg kedua babak playoff Liga Champions pada Kamis (26/2) dini hari.
UEFA telah menskors sementara pemain sayap Benfica, Gianluca Prestianni, untuk satu pertandingan karena penyelidikan atas insiden tersebut masih berlanjut, dengan th Eagles dan Prestianni sama-sama bersikeras bahwa tidak bersalah.
Setelah leg pertama, Mourinho menyatakan bahwa selebrasi pemain internasional Brasil itu, menari di dekat bendera sudut di Estadio da Luz, telah memicu konfrontasi tersebut.
"Mourinho adalah Mourinho, dan sebagai pelatih Anda akan selalu membela klub Anda, dan apa yang dikatakan pemain Anda kepada Anda," kata Courtois dalam konferensi pers.
"Tetapi yang mengecewakan saya adalah penggunaan selebrasi Vini. Vini tidak melakukan kesalahan apa pun. Kita tidak bisa membenarkan tindakan rasis yang tampak karena selebrasi seorang pemain," lanjutnya.
Meskipun mendapat larangan, Prestianni telah ikut bersama skuad Benfica ke Madrid untuk pertandingan di Bernabeu.
"Ini adalah momen besar bagi sepak bola untuk menangani hal-hal ini," kata Courtois.
"Di ruang ganti kami tahu apa yang dikatakan Vinicius kepada kami. Itu telah terjadi berkali-kali dalam sepak bola, di lapangan, di stadion, kita harus menghadapinya sekarang," imbuhnya.
"Saya tahu Vini mendengarnya 100%, dan saya percaya padanya 100%. Karena Prestianni menutupi wajahnya dengan bajunya, kita tidak akan pernah tahu pasti. Benfica membela pemain mereka, dan lembaga-lembaga tersebut akan memutuskan apa yang harus mereka putuskan," jelasnya.
Peraturan disiplin UEFA mencakup pedoman skorsing 10 pertandingan untuk perilaku diskriminatif.
Dikabarkan bahwa dalam bukti kepada UEFA, Prestianni mengatakan bahwa ia menggunakan kata-kata hinaan anti-gay ketika berbicara dengan Vinicius, bukan kata-kata rasis.
"Bagi saya itu tampaknya sama seriusnya," kata Courtois.
"Itu adalah penghinaan homofobia. Itu sama seriusnya... Kita tidak boleh menerima rasisme, homofobia, dan hal-hal semacam itu," tegasnya.
Pelatih Madrid Alvaro Arbeloa meminta UEFA untuk memastikan bahwa anti-rasisme bukan hanya slogan, spanduk yang bagus sebelum pertandingan.
Penyerang Madrid lainnya, Kylian Mbappe, telah berjuang dengan masalah lutut dalam beberapa pekan terakhir, tetapi Arbeloa mengatakan dia siap untuk pertandingan.
"Kylian siap bermain besok, yang saat ini merupakan hal terpenting," kata Arbeloa.
"Penting untuk menghargai komitmen yang dia tunjukkan kepada rekan-rekan setimnya, dia mencoba membantu kami di lapangan," pungkasnya.
Editor : Satria Putra Sejati