JOGJA - Bagi sebagian besar orang, lingkaran kalender selama dua tahun mungkin hanya deretan angka yang berlalu cepat.
Namun bagi Teodora Audi Ayudya Ferelly Esant, dua tahun adalah pertaruhan rasa. Ada harga mahal yang harus dibayar demi sekeping logam di leher untuk melewatkan dua kali aroma opor Lebaran dan syahdunya dua kali malam Natal bersama keluarga.
Atlet para panah andalan DIY ini baru saja menapakkan kaki kembali di tanah air. Di balik senyum lebarnya, tersimpan cerita tentang beratnya rindu yang ia bendung selama menjalani pemusatan latihan nasional (Pelatnas).
"Dua kali Lebaran tidak pulang, dua kali Natal tidak boleh pulang. Itu lebih menyiksa rasanya daripada latihan fisik," kataya, Senin (9/2/2026).
Perjalanan Audi menuju podium di ajang ASEAN Para Games (APG) XIII Thailand 2025 tidaklah instan. Sejak berakhirnya Olimpiade Paris, atlet asal Kota Jogja ini praktis disekap dalam rutinitas latihan yang intens.
Meski begitu, Thailand sebenarnya bukan medan baru bagi Audi. Pengalaman ini adalah kali ketiga ia menginjakkan kaki di Negeri Gajah Putih itu. Ia sudah khatam dengan cuaca kering dan panas yang menyengat, hingga detail urusan pakaian dan strategi fisik sudah ia siapkan di luar kepala.
Namun ada satu hal yang berbeda kali ini, yakni Audi mengaku berangkat tanpa beban. Target dari pengurus tergolong cukup ringan, hanya dua medali perak. "Kan cuma dua perak ya sudah, main santai saja. Yang penting medali," pikirnya sebelum berangkat.
Tapi, siapa sangka mentalitas nothing to lose yang disimpan oleh Audi justru menjadi senjata rahasia yang paling mematikan. Drama sesungguhnya pecah di babak final nomor women’s individual compound open.
Dalam perebutan juara itu, Audi harus berhadapan dengan raksasa Singapura, negara yang selama tiga edisi terakhir menjadi momok menakutkan bagi lawan-lawannya. Atmosfer di ruang persiapan sempat membuat nyalinya menciut. Barisan ofisial dan atlet Singapura tampak begitu mendominasi, memberikan tekanan mental yang nyata.
Kendati demikian, dengan kepercayaan diri yang tinggi, Audi mampu mengejutkan lawannya. Saat busur ditarik di atas panggung, ia sempat memimpin di tembakan awal. “Begitu tahu saya lead, perasaan deg-degan bertambah. Jadi beban, jadi senang, macam-macam di otak langsung ramai," bebernya.
Baca Juga: Realisasi Anggaran 2025 Tertinggi se-DIY, Kinerja Pembangunan Gunungkidul Menguat
Akibat isi kepala yang terlalu riuh, satu anak panahnya sempat melenceng ke angka delapan. Beruntung teriakan penyemangat dari pelatih di pinggir lapangan berhasil menariknya kembali ke realita.
Saat itu, Audi langsung menarik napas panjang, mengunci fokus, dan melepaskan anak panah dengan ketulusan. Tak disangka, hasilnya pun tidak mengecewakan
Prediksi perak itu rontok. Audi justru melampaui ekspektasi dengan menggondol medali emas di nomor individu dan perunggu di nomor mix team compound open.
Perjuangan seakan ditutup dengan manis. Semua letih itu terbayar lunas. Medali emas bukan sekadar prestasi, melainkan penebus rindu atas waktu-waktu yang hilang bersama keluarga. "Jangan banyak dipikir, jangan terlalu takut lawan siapa. Kalau tulus, hasilnya pasti mengikuti," lontarnya dengan bahagia. (ayu/laz)
Editor : Herpri Kartun