JOGJA – Laga PSIM Jogja menghadapi Persebaya Surabaya di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul Minggu (25/1/2026) terancam diboikot suporter PSIM. Keluhan terkait distribusi hingga kuota tiket oleh panitia pelaksana (Panpel) PSIM jadi biang keroknya.
Di media sosial, dengan tagar #HALOPANPELSSA beberapa laskar yang tergabung dalam gerakan Gate 9-10, seperti Mataram Horde sudah menyatakan absen mendukung PSIM Minggu esok.
Alasannya karena mereka yang selama putaran pertama mendukung di tribun utara itu tak mendapat akses tiket. Juga mempertanyakan kinerja panpel terkait pembagian kuota tiket.
Informasi yang mereka dapatkan, selama ini izin penonton di SSA 9.000 tiket per pertandingan. Tapi melawan Persebaya nanti dikurangi jadi 8.000 tiket.
Mereka mempertanyakan gerakan Gate 9-10 di tribun utara yang mulai ramai, kuotanya malah dikurangi dari 2.500 menjadi tinggal 1.750.
Meski ada ancama boikot, supporter yang berburu tiket pertandingan klasik pendiri PSSI ini tak berkurang. Pantauan Radar Jogja di sekretariat Brajamusti dan The Maident, Jumat (23/1/2026) sore atau H-2 pertandingan, sejumlah pendukung PSIM tampak menunggu informasi terkait mekanisme pembelian tiket secara offline.
Salah satu suporter PSIM asal Berbah, Sleman, Damar Pujo mengaku datang ke sekretariat Brajamusti sejak sore hari untuk mencari tiket tribun reguler. Namun hingga petang, ia belum mendapatkan kepastian terkait pelayanan penjualan tiket.
"Sampai menjelang malam belum ada informasi yang jelas," ujar Damar.
Damar mengatakan, pada pertandingan sebelumnya ia terbiasa membeli tiket secara daring atau online.
Namun untuk laga kali ini, tiket tribun reguler belum tersedia di platform yang biasa digunakan. "Biasanya tribun reguler ada di penjualan online. Untuk pertandingan ini yang terlihat baru tersedia tiket VIP," katanya.
Ia menyebut, kehadirannya ke sekretariat juga dilatarbelakangi minimnya informasi resmi mengenai penjualan tiket offline. "Di media sosial belum ada informasi detail soal penjualan offline, jadi saya coba datang langsung," imbuhnya.
Hal senada disampaikan Huda yang berharap komunikasi terkait sistem penjualan tiket dapat disampaikan lebih awal kepada suporter.
"Harapannya informasi bisa lebih jelas dari awal, supaya suporter tahu harus datang kapan atau lewat jalur apa," kata Huda.
Menanggapi hal tersebut, ketua panpel PSIM Jogja Wendy Umar menegaskan, penentuan kuota penonton dilakukan per pertandingan, bukan berlaku untuk satu musim penuh.
Bahkan untuk laga PSIM kontra Persebaya, kuota 8.000 justru merupakan kenaikan dari rekomendasi awal yang sempat tanpa penonton.
"Persepsinya kita samakan dulu. Tiap pertandingan Panpel selalu mengajukan rekomendasi dari awal. Untuk laga ini, awalnya sempat ada info pertandingan direkomendasikan tanpa penonton.
Tapi berkat koordinasi dan komunikasi intensif dengan pihak kepolisian, akhirnya kami dipercaya untuk bisa menghadirkan penonton dengan kuota 8.000," jelas Wendy, Jumat (23/1).
Untuk meminimalisasi risiko dan menjaga keamanan, panpel memfokuskan penjualan tiket kuota 8.000 penonton melalui dua wadah resmi suporter PSIM, yakni Brajamusti dan The Maident.
"Ini bagian dari upaya memfilter penonton. Semua tiket bisa ditelusuri asal-usulnya, jadi lebih mudah dikontrol," kata Wendy.
Ia menyadari, bahwa jumlah kuota yang direkomendasikan saat ini memang belum sepenuhnya bisa memfasilitasi seluruh suporter atau pecinta PSIM. Ia sendiri berharap ke depannya kuota tersebut bisa bertambah, dan suporter yang bisa mendukung secara langsung juga semakin banyak.
Wendy berharap seluruh rangkaian pertandingan, baik sebelum, selama, maupun setelah laga, dapat berjalan aman dan kondusif.
Tidak hanya di area SSA, tetapi juga di wilayah DIJ secara umum. "Analisa risiko dan antisipasi ini kami lakukan untuk memberi jaminan keamanan dan kenyamanan bagi penonton serta menjaga kamtibmas di DIJ," terangnya. (iza/pra)
Editor : Herpri Kartun