RADAR JOGJA – Talenta muda PSIM Jogja, Iksan Chan mengatakan neneknya yang Bernama Kartini memiliki peran penting dalam karir sepak bolanya.
Tak hanya sekedar ikatan biologis semata, kebersamaan mereka terjalik sejak Iksan duduk di bangku TK.
Bahkan, neneknya yang kini berusia 70 tahun dengan setia mengantar jemput pemain sayap PSIM tersebut menggunakan sepeda onthel.
“Nenek dalam hidup saya perannya paling penting. Apalagi dalam karier sepak bola saya,” ujar Iksan seperti yang dikutip dari laman resmi klub dalam rangka peringatan Hari Ibu.
Tak hanya sekedar kasih sayang, Kartini juga berusaha keras memenuhi kebutuhan cucunya di tengah keterbatasan ekonomi.
Segala upaya dilakukan agar Iksan bisa menyalurkan bakatnya di lapangan hijau, bahkan rela berhutang untuk membelikan Sepatu baru.
“Apapun yang saya minta dari kecil pasti diusahakan nenek walaupun nenek kadang enggak punya uang, tapi pasti diusahakan,” tambah Iksan.
Pada momen Hari Ibu ini, Iksan mempersembahkan rasa terima kasih mendalam atas segala pengorbanan sang nenek.
Segala pencapaian kariernya bersama Laskar Mataram didedikasikan sepenuhnya untuk perempuan yang telah membesarkannya itu.
“Terima kasih untuk nenek atas perjuangannya selama ini untuk membesarkan saya dan mendukung cita-cita saya, hingga bisa jadi pemain sepak bola seperti sekarang,” jelasnya.
Meski neneknya adalah sosok ibu dalam hidup Iksan, ia tak melupakan ibu yang telah melahirkannya.
Walaupun sedari kecil tidak tinggal bersama, Iksan tetap menjalin komunikasi yang baik dengan sosok yang ia panggil mama tersebut.
“Nenek dan mama adalah dua orang paling penting bagi saya. Sampai saat ini, nenek dan mama selalu mendukung saya dalam hal apapun,” kata Iksan.
Editor : Satria Putra Sejati