SLEMAN - Pemahaman mengenai match fixing (pengaturan skor) adalah hal yang sangat penting dan fundamental bagi setiap pemain sepak bola profesional. Bukan hanya soal masalah etika, tetapi juga berkaitan dengan keberlanjutan karier, hukum, dan integritas olahraga itu sendiri.
Maka untuk menanggulangi hal itu, PSS telah memberikan pembekalan khusus untuk para pemainnya agar tidak terjerumus dalam praktik match fixing itu. Sebab, jika ada pemain yang terjerumus dalam praktik ilegal itu, hal tersebut bisa merusak sportivitas sepak bola.
"Pemain itu harus lebih berhati-hati karena match fixing itu bukan antara pemain, tetapi ada orang pihak ketiga itu yang melakukan," kata Pelatih PSS Sleman Ansyari Lubis, Senin (15/12).
Menurut Ansyari, pemahaman terhadap match fixing sangat penting untuk para pemain. Selain menjaga modus pengaturan skor yang sering melibatkan pihak ketiga dan mencoba memengaruhi hasil pertandingan demi keuntungan tertentu, hal itu juga dilakukan untuk membentengi mental pemain itu sendiri.
Oleh sebab itu, pelatih yang akrab disapa Uwak ini mengingatkan kepada para pemain mengenai konsekuensi hukum dan denda yang sangat berat bagi siapa saja yang terbukti terlibat. Sanksi itu sudah diatur secara tegas dan bisa mematikan karier seorang pesepak bola profesional.
"Dendanya juga luar biasa. Ada yang Rp 100 juta, ada yang di-ban (skorsing) sampai satu tahun," ungkapnya. (ayu/laz)