JOGJA - Kurang lebih empat bulan sudah Jean Paul van Gastel menapaki karier barunya di sepak bola Indonesia. Sejak resmi bergabung bersama PSIM Jogja awal Juli lalu, pelatih asal Belanda itu kini mulai terbiasa dengan kehidupan di tanah air, utamanya Jogja. Termasuk dengan budaya dan kuliner lokal yang menurutnya begitu memikat.
Van Gastel mengakui, proses adaptasinya berjalan cepat dan menyenangkan. Banyak hal yang membuatnya merasa betah di Indonesia, khususnya di Jogja yang kini jadi homebase utamanya.
"Saya sangat suka orang Indonesia, sangat ramah dan menyenangkan. Saya sangat nyaman di sini," katanya Selasa (11/11).
Bagi mantan pemain Feyenoord Rotterdam itu, salah satu aspek yang paling menonjol dari kultur sepak bola Indonesia adalah militansi dan semangat tinggi para suporter.
Sebagai mantan pemain sekaligus pelatih yang pernah merasakan atmosfer sepak bola di berbagai negara seperti Belanda, Italia, Turki, hingga China, Van Gastel mengaku kagum dengan antusiasme luar biasa para pendukung klub di Indonesia.
"Untuk saya, di Indonesia, suporter PSIM atau Indonesia secara umum sangat bergairah dan penuh semangat," ujarnya.
Lebih jauh pria berusia 53 tahun itu juga mengungkapkan, secara pribadi ia memang menikmati tantangan bekerja di luar negeri. Selain soal karier, ia merasa pengalaman hidup di negara lain membuka banyak wawasan baru.
Baca Juga: Turun di Tim U-20 PSIM Jogja, Andy Setyo Fokus Pulihkan Cedera dan Hilangkan Trauma
"Saya suka bertemu orang baru, mengenal dan mempelajari budayanya, kebiasaannya. Bagi saya ini sangat menyenangkan," tuturnya.
Sejak berada di Jogja, Van Gastel tidak hanya beradaptasi dengan gaya bermain dan atmosfer sepak bola Indonesia, tetapi juga mulai mengenal kebiasaan lokal. Ia bahkan sudah memiliki beberapa makanan favorit khas Indonesia yang rutin ia santap.
"Di sini saya suka nasi goreng. Saya juga suka makan gado-gado," tandasnya sambil tersenyum.
Adaptasi cepat dan sikap terbuka Van Gastel terhadap budaya lokal membuatnya kian diterima di lingkungan PSIM. Tak sedikit suporter yang menilai sang pelatih mulai melokal, tanpa kehilangan karakter disiplin khas Eropa yang menjadi ciri kepelatihannya. (iza/laz)