Pada kesempatan itu, ada satu sosok yang mencuri perhatian. Haryanto, pria asal Wates, Kulonprogo, ini setia mengawal perjalanan Laskar Mataram meski sudah 13 tahun merantau.
Bersama seorang kawannya, ia datang menggunakan tongkat untuk bantu jalan. Sebab, ia baru mengalami tragedi patah tulang kering sekitar sebulan lalu.
Haryanto merantau ke Jakarta sejak 2013. Kini ia bekerja di kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur, dan berdomisili di Bekasi.
Namun jarak ratusan kilometer tak pernah menjadi alasan baginya untuk berhenti mencintai PSIM.
"Saya sudah suka dan nonton PSIM sejak sekitar 2009. Dari dulu sampai sekarang masih terus ngikutin," ujarnya saat ditemui di Indomilk Arena, (17/10/2025).
Kecintaannya terhadap PSIM tidak sekadar mengikuti lewat layar kaca. Ia masih rutin meluangkan waktu untuk menonton langsung ke stadion.
Salah satu momen tak terlupakan adalah saat PSIM memastikan diri menjadi juara Pegadaian Liga 2 setelah mengalahkan Bhayangkara FC di Stadion Manahan, Solo.
"Itu saya away langsung dari Jakarta ke Manahan. Senang banget bisa lihat langsung PSIM juara," kenangnya.
Untuk musim ini, Haryanto mengaku baru dua kali menonton langsung PSIM bertanding. Pertama saat PSIM tandang ke markas Persebaya Surabaya, dan kedua saat melawan Persita di Tangerang kali ini.
Yang lebih mengharukan, ia datang dengan kondisi belum pulih sepenuhnya dari cedera patah kaki.
"Ini saya bela-belain hadir pakai tongkat, karena sebulan lalu baru patah kaki. Tapi nggak apa-apa, demi PSIM," katanya sambil tersenyum.
Baca Juga: Tantang PSIS Semarang, Ansyari Lubis Ingatkan Pemain PSS Sleman Agar Tidak Remehkan Lawan
Menariknya, Haryanto justru lebih menyukai atmosfer pertandingan tandang. Menurutnya, pengalaman perjalanan, suasana tribun, hingga interaksi dengan sesama suporter memberikan sensasi yang berbeda.
"Jujur saya malah lebih suka nonton away. Dinamikanya lebih seru, lebih berkesan," ucapnya.
Bagi Haryanto, PSIM bukan sekadar klub sepak bola. Ia tumbuh bersama tim ini sejak remaja, mengikuti lika-liku perjuangan Laskar Mataram dari masa-masa sulit hingga kembali berlaga di kasta tertinggi.
Meski jauh dari kampung halaman, cintanya kepada PSIM tak pernah luntur. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun