JOGJA - PSIM Jogja menggelar forum audiensi bertajuk Guyub Sedulur bersama komunitas suporter sebagai upaya memperkuat sinergi dan transparansi antara klub dan para pendukung. Forum ini tidak hanya menghasilkan kesepakatan umum, tapi juga memaparkan berbagai pandangan serta aspirasi dari setiap pemangku kepentingan untuk kemajuan klub.
Fokus utama dalam forum ini adalah edukasi soal aturan larangan bertandang yang dikeluarkan oleh PSSI. Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno memberikan arahan secara daring dari luar negeri.
Perempuan yang akrab disapa Ci Liana itu mengajak seluruh suporter untuk mengubah energi besar yang mereka miliki menjadi kekuatan positif bagi klub. Menurutnya, kepatuhan terhadap regulasi merupakan bentuk cinta dan tanggung jawab terhadap PSIM.
"Jika kita masih melanggar peraturan yang ada, itu bukan hanya bisa mengancam keselamatan diri, tetapi juga reputasi nama besar PSIM," tegas Liana, Minggu (12/10/2025).
Secara prinsip ia mengungkapkan, kecintaan yang besar terhadap klub harus diwujudkan dalam bentuk dukungan yang membanggakan. Termasuk dengan menaati larangan kehadiran suporter di laga tandang.
Ungkapan serupa juga disampaikan Manajer Umum PSIM Steven Sunny. Ia menilai kepatuhan terhadap aturan bukan berarti membatasi ruang gerak suporter. "Sebaliknya, ketaatan ini justru dapat membuka peluang agar regulasi larangan bertandang dievaluasi dan dicabut di masa mendatang," paparnya.
Steven juga mendorong komunitas suporter untuk lebih aktif dalam kegiatan positif yang bisa membangun citra klub di tingkat nasional. Misalnya kampanye anti-alkohol dan berbagai program kolaboratif bersama manajemen.
Sementara itu, Manajer Tim PSIM Razzi Taruna lebih banyak menyoroti aspek dukungan moril terhadap tim utama. Ia mengajak para pendukung untuk terus memberikan dukungan penuh. "Kami butuh dukungan penuh, baik saat tim menang maupun kalah," bebernya.
Ia juga menegaskan manajemen dan tim akan selalu terbuka menerima kritik dan saran dari suporter. Namun idealnya juga harus disampaikan dengan bahasa yang santun dan membangun. "Sehingga tidak menimbulkan perpecahan di internal klub maupun komunitas," pesannya.
Ketua Panpel PSIM Wendy Umar Seno Aji menyoroti aspek teknis penyelenggaraan pertandingan. Ia menilai edukasi kepada suporter sangat penting agar mereka bisa lebih kooperatif dan membantu meminimalkan potensi insiden di area stadion.
Wendy juga menyampaikan, pihak panpel tengah mengerjakan proyek peningkatan kapasitas lampu di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul. Proyek ini ditargetkan rampung Desember 2025 mendatang. "Sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan pertandingan kandang PSIM," terangnya.
Dari pihak suporter, perwakilan Brajamusti dan The Maident menyambut baik ajakan manajemen untuk menjaga nama baik klub dengan menaati larangan bertandang. Namun, mereka juga menyampaikan aspirasi terkait kebutuhan akan panduan yang lebih jelas mengenai kriteria larangan itu.
Kejelasan ini, menurut mereka, sangat penting agar imbauan ke ribuan anggota di lapangan bisa seragam dan tidak simpang siur. Suporter juga mengakui masih ada oknum yang melanggar aturan ini. Namun mereka berkomitmen bersama-sama menekan pelanggaran itu agar PSIM tidak lagi terkena sanksi atau denda akibat ulah segelintir orang. (iza/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita