JOGJA - Sudah lebih dari dua dekade Brajamusti berdiri sebagai salah satu kelompok suporter terbesar di Indonesia. Sejak resmi terbentuk pada 2003, Brajamusti terus setia mendampingi PSIM Jogja dalam suka maupun duka perjalanan klub.
Kini, setelah lebih dari 20 tahun, regenerasi di tubuh Brajamusti berlangsung dengan cepat. Banyak wajah-wajah baru dari kalangan muda yang ikut meramaikan tribun untuk mendukung tim Laskar Mataram.
Fenomena ini disadari betul oleh Presiden Brajamusti Muslich Burhanuddin atau yang lebih dikenal dengan sapaan Thole. Menurutnya, munculnya generasi baru merupakan sebuah anugerah, namun juga menjadi tantangan tersendiri.
Ia menilai, pendidikan nilai-nilai positif bagi suporter muda adalah hal penting yang harus diwariskan. "Jangan wariskan kebencian. PSIM ini panjang sejarahnya, maka Brajamusti juga harus mewariskan hal-hal baik kepada adik-adik kita," ujar Thole, Selasa (9/9).
Baginya, Brajamusti bukan hanya organisasi suporter, melainkan sebuah keluarga besar. Ia mengaku banyak menemukan pelajaran hidup selama bertahun-tahun menjadi bagian dari Brajamusti.
"Brajamusti ini keluarga kedua saya setelah di rumah. Malah kadang keluarga inti saya protes, tapi untungnya bisa memaklumi. Istri saya pun sering saya ajak agar tahu bagaimana kebersamaan di Brajamusti," katanya.
Kebersamaan itulah yang harus terus diturunkan kepada generasi baru. Ia tak ingin para suporter muda hanya mengenal fanatisme buta. Melainkan juga memahami bahwa mendukung tim sepak bola adalah soal rasa memiliki, kekeluargaan, dan solidaritas.
Selain itu, Thole menekankan pentingnya merawat hubungan baik dengan suporter lain. Salah satu capaian besar nan kolektif yang ia sebut sebagai warisan berharga adalah lahirnya Mataram Islah. Kesepakatan damai antara suporter, khususnya antara suporter dari Jogja (Mataram) dan Solo.
"Banyak yang dulu tidak percaya Mataram Islah bisa terwujud. Tapi itu nyata dan harus kita wariskan juga. Sepak bola hanya 90 menit, sisanya kita bersaudara. Jadi kebencian harus dihilangkan," tegasnya.
Menurutnya, Mataram Islah adalah tonggak penting yang membuktikan bahwa rivalitas klasik bisa diarahkan menjadi hubungan sehat. Bagi Thole, ini pesan utama yang wajib dipahami suporter muda, yakni mendukung tim kesayangan tidak harus menumbuhkan kebencian kepada pihak lain.
Lebih lanjut ia juga menyoroti tantangan Brajamusti di era baru, terutama sejak PSIM promosi ke Liga 1. Dengan semakin banyaknya suporter muda yang bergabung, konsolidasi internal dan edukasi menjadi pekerjaan besar yang tidak bisa ditinggalkan.
"PSIM ini simbol pemuda-pemudi Jogja. Tanpa mengecilkan peran suporter senior, tantangannya bagaimana mengedukasi generasi baru. Karena itu, konsolidasi internal rutin kami lakukan," jelasnya.
Dengan regenerasi yang berlangsung cepat, Thole berharap Brajamusti bisa menjadi ruang belajar, wadah silaturahmi, sekaligus tempat tumbuh bagi anak-anak muda. Ia menegaskan, suporter tidak boleh lagi terjebak pada konflik lama, tetapi harus bergerak maju bersama menjaga nilai persaudaraan.
"Sepak bola memang penuh rivalitas, tapi kebencian jangan diwariskan. Yang harus diwariskan itu semangat kebersamaan dan persaudaraan, agar PSIM bisa didukung dengan cara yang positif," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun