PSIM sempat tertinggal lebih dulu pada menit ke-40 lewat eksekusi penalti Dalberto Luan hingga turun minum. Beruntung, tim tuan rumah mampu menyamakan kedudukan di babak kedua meski bukan lewat gol pemain sendiri.
Skor imbang tercipta setelah pemain Arema, Betinho, melakukan gol bunuh diri ketika mencoba menghalau bola.
Kondisi ini menjadi indikator bahaya bahwa lini serang PSIM masih belum menunjukkan ketajaman yang diharapkan.
Dari dua pertandingan yang sudah dilakoni, tim asuhan Jean Paul van Gastel baru mampu mencetak dua gol. Satu lahir dari sundulan Ezequiel Vidal pada laga pembuka melawan Persebaya, sementara satu lagi melalui gol bunuh diri lawan.
Merespons situasi itu, Van Gastel mengakui ada banyak hal yang harus dibenahi, khususnya di sektor depan.
"Hasil imbang ini tetap mengecewakan, karena seharusnya kami bisa meraih tiga poin," ujarnya Minggu (17/8/2025).
Meski kecewa, Van Gastel enggan menyalahkan anak asuhnya secara langsung. Ia tetap mengapresiasi upaya dan keberanian tim yang terus menekan pertahanan lawan.
"Saya bangga dengan pemain. Mereka berani menusuk ke area sepertiga akhir pertahanan lawan dan membuat peluang.
Namun penyelesaian akhir memang masih jadi masalah yang harus segera kami benahi," lanjutnya.
Menurutnya, persoalan di lini depan PSIM tidak semata-mata soal ketajaman striker. Faktor keterikatan antarlini dan koneksi permainan juga menjadi bagian penting yang masih belum berjalan sepenuhnya mulus.
"Ini bukan hanya soal penyerang. Sejak pramusim, kami lihat ini masalah kompleks, menyangkut organisasi serangan, dan kami akan terus perbaiki dari pertandingan ke pertandingan," tegasnya.
Hasil imbang di laga kandang perdana ini tentu menjadi bahan evaluasi serius bagi PSIM. Apalagi musim ini, PSIM memikul ekspektasi besar setelah kembali ke kompetisi kasta tertinggi usai penantian panjang.
Dukungan penuh suporter di SSA pun semakin menambah beban tanggung jawab tim untuk segera menunjukkan ketajaman, terutama di lini serang. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun