Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sejarah Tenis Kursi Roda: Dari Terapi Rehabilitasi hingga Mendunia di Paralimpiade, Olahraga Inklusif yang Menginspirasi Dunia

Izzatul Akmal Fikri • Rabu, 4 September 2024 | 21:00 WIB

Cabang olahraga tenis kursi roda dalam Paralimpiade Paris 2024.
Cabang olahraga tenis kursi roda dalam Paralimpiade Paris 2024.


RADAR JOGJA - Tenis kursi roda, yang kini dikenal sebagai salah satu cabang olahraga paling kompetitif di Paralimpiade, memiliki sejarah yang kaya dan inspiratif.

Olahraga ini awalnya dimulai sebagai bentuk terapi bagi penyandang disabilitas fisik, khususnya mereka yang mengalami cedera tulang belakang.

Dengan tujuan membantu rehabilitasi fisik dan mental, tenis kursi roda berkembang menjadi olahraga yang menawarkan tantangan kompetitif yang setara dengan tenis lapangan biasa.

Mengutip dari Tennisfame, tenis kursi roda pertama kali muncul pada tahun 1976 di California, Amerika Serikat.

Brad Parks, seorang mantan pemain ski air yang mengalami cedera tulang belakang akibat kecelakaan, menjadi tokoh kunci dalam pengembangan olahraga ini.

Setelah kecelakaan yang mengubah hidupnya, Parks mencari cara untuk tetap aktif dan terlibat dalam dunia olahraga.

Bersama dengan Jeff Minnenbraker, rekan dalam program rehabilitasinya, Parks mulai bereksperimen dengan bermain tenis di kursi roda.

Melihat potensi besar dari olahraga ini, Parks dan Minnenbraker mulai mengadakan demonstrasi dan turnamen kecil di berbagai kota di Amerika Serikat untuk mempromosikan tenis kursi roda.

Upaya mereka tidak hanya menarik perhatian publik, tetapi juga mendapatkan dukungan dari komunitas disabilitas.

Pada dekade 1980-an, tenis kursi roda mulai dikenal di beberapa negara lain dan berkembang dengan pesat.

Puncak perkembangan tenis kursi roda tercapai ketika olahraga ini diakui sebagai cabang olahraga resmi di Paralimpiade.

Pertama kali dipertandingkan di Paralimpiade Barcelona pada tahun 1992, tenis kursi roda mencatat momen bersejarah dengan pengakuan internasionalnya.

Sejak saat itu, tenis kursi roda semakin populer, dengan struktur kompetisi dan organisasi yang lebih formal.

Meskipun mengikuti sebagian besar aturan dasar tenis lapangan, tenis kursi roda memiliki beberapa adaptasi khusus.

Salah satu adaptasi utama adalah aturan dua pantulan.

Aturan ini memungkinkan bola untuk memantul dua kali sebelum dipukul, dengan syarat pantulan pertama berada di dalam lapangan permainan dan pantulan kedua bisa berada di luar lapangan.

Adaptasi ini memberikan pemain lebih banyak waktu untuk bergerak dan bersiap sebelum memukul bola, menjadikan permainan tetap kompetitif dan adil bagi semua pemain.

Selain aturan yang disesuaikan, kursi roda yang digunakan dalam olahraga ini dirancang khusus untuk permainan tenis.

Kursi ini dibuat lebih ringan, dengan roda yang lebih kecil dan miring untuk memungkinkan pergerakan cepat serta manuver lincah di lapangan.

Desain ini sangat penting untuk meningkatkan mobilitas pemain dan memaksimalkan performa mereka di lapangan.

Untuk mendukung pertumbuhan dan pengelolaan tenis kursi roda secara global, International Wheelchair Tennis Federation (IWTF) didirikan pada tahun 1988.

IWTF bertanggung jawab untuk mengatur, mengawasi, dan mempromosikan tenis kursi roda di seluruh dunia.

Federasi ini juga berperan dalam mengembangkan program pelatihan, menyelenggarakan turnamen internasional, dan memastikan bahwa tenis kursi roda terus berkembang sebagai olahraga yang inklusif dan kompetitif.

Baca Juga: Prediksi Korea Selatan vs Palestina Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia Putaran Ketiga Grup B Kamis 5 September, Taeguk Warriors Diunggulkan

Dengan sejarah panjang dan perkembangan yang signifikan, tenis kursi roda telah membuktikan diri sebagai salah satu cabang olahraga yang tidak hanya menginspirasi tetapi juga mempromosikan inklusivitas dan kesetaraan dalam olahraga.

Kehadirannya di ajang Paralimpiade serta dukungan kuat dari komunitas internasional menjadikan tenis kursi roda sebagai simbol ketangguhan dan semangat juang bagi para atlet disabilitas di seluruh dunia.

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Terapi Rehabilitasi #terapi disabilitas #mendunia #cabang olahraga #sejarah #olahraga dunia #Paralimpiade 2024 Paris #tenis kursi roda