RADAR JOGJA - Bermain sepak bola menjadi kecintaannya sejak kecil. Bahkan sempat bercita-cita menjadi pemain profesional. Arahan orang tua untuk fokus bersekolah justru membawanya menjadi dokter tim sepak bola. Video unggahannya menjadi perhatian warganet.
KHAIRUL MA’ARIF, SLEMAN
Euforia masyarakat terhadap tim nasional (Timnas) Indonesia sepanjang 2024 ini meningkat drastis dibanding tahun lalu. Itu lantaran performa ciamiknya di berbagai kompetisi tingkat Asia dalam rentang waktu lima bulan terakhir ini. Mulai dari Timnas Senior dan U-23 anak asuh Pelatih Shin Tae Young memberikan pencapaian yang mumpuni sehingga supporter bangga luar biasa. Meskipun belum memberikan gelar tetapi progres yang terjadi layak diapresiasi.
Gegap gempita ini menjadi pemain Timnas Indonesia banyak memiliki penggemar dan kondang di masyarakat. Tidak terkecuali dr Alfan Nur Asyhar AIFO-K yang menjadi dokter Timanas Indonesia Senior dan U-23. Namun, memang ketepopulerannya masih kalah dibandingkan para pemain ataupun Coach STY. Meski begitu, beberapa video unggahan dokter lulusan Universitas Islam Indonesia (UII) itu di media sosial (medsos) menjadi perhatian para warganet.
Misalnya saja video yang merekam kondisi locker room saat Coach STY menangis dan jahitan di kepala Witan Sulaeman. Dari dua video itu, Medsos Instagramnya semakin banyak pengikutnya karena memiliki kedekatan dengan Timnas Indonesia. Kondisi itu menjadikannya juga makin dikenal di kalangan supporter Timnas Indonesia.
Kepada Radar Jogja Alfan menceritakan, sekelumit kisahnya bisa terjun sebagai seorang dokter Timnas Indonesia. Dia menuturkan, pada awalnya sebenarnya sangat ingin menjadi pemain sepak bola profesional. “Ketika SD dan SMP saya ikut SSB dan memang senang bermain bola,” katanya sambil mengenang, Rabu (22/5).
Namun, atas nasihat orangtuanya akhirnya fokusnya terhadap sepak bola di SSB hanya sampai sebatas SMP saja. Ayahnya menyarankan untuk fokus pada pendidikan dibanding sepak bola.
Pria yang biasa disapa Dokter Al itu mengungkapkan, orang tuanya sangat khawatir ketika itu karena menjadi pesepakbola profesional belum semenjajikan seperti sekarang. Oleh karena itu, ayahnya menilai profesi sebagai pesepkabola belum dapat dijadikan sandaran untuk jaminan hidup ke depan. Namun, memang dalam prosesnya Alfan masih tetap dapat bermain bola semasa sekolah dengan tetap diseimbangkan bersamaan sekolahnya.
Kecintaannya terhadap si kulit bundar membuatnya tidak ingin berjauh-jauhan jarak sekalipun tidak menjadi pesepakbola. Ketika memutuskan menjadi seorang dokter dia pun memilih yang kaitannya dekat dengan sepak bola. “Saya merintis karir sejak 2011 sebagai dokter tim sepak bola,” ungkapnya.
Pada tahun tersebut Alfan langsung dipercaya menjadi dokter Timnas Senior pada saat itu. Hampir selama 13 tahun berkarir ilmu kedokterannya diabdikan untuk berbagai tim sepak bola dan juga Timnas Indonesia pastinya.
Baca Juga: Sempat Ditangani Dokter Gadungan, Pemain Muda Saddam Gaffar Inginkan Ini di PSS Sleman
Dua di antaranya dia menjadi dokter tim PSIS Semarang dan Bhayangkara FC yang ketika itu masih berkancah di Liga 1 Indonesia. Ketika jeda kompetisi seperti sekarang atau Timnas Indonesia belum ada training camp (TC), Alfan mengisi waktunya mengajar di almamaternya.
Menjadi dokter tim sepak bola seperti sekarang baginya merupakan passion yang diciptakannya. Meskipun memang terkadang sangat melelahkan karena waktunya yang sangat menghabiskan banyak waktu. Kondisi itu mengakibatkan, sedikit waktunya untuk keluarga kecilnya.Pria asli Jogja itu membeberkan, karena kesibukannya ketika kelahiran dua anaknya tidak dapat menemani istrinya lama-lama. “Pas hari kelahiran saya temani, hari besoknya harus sudah berangkat lagi,” tuturnya.
Tetapi dia menegaskan, itu bukan kendala yang begitu menghambat karena pada dasarnya sangat memahami posisinya yang sentral untuk menjaga kondisi para pemain.
Dalam waktu dekat dia akan kembali ke Timnas Senior Indonesia yang akan kembali melakoni lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2026.
Dua laga berat menanti yakni melawan Irak dan Filipina yang menjadi penentuan untuk dapat lolos ke babak ketiga kualifikasi. Pengalamannya di Piala Asia U-23 lalu menjadi pencapaian tertingginya karena dapat bersaing di kancah regional Asia bersama negara besar sepak bola lainnya. “Target saya selanjutnya ingin lolos Piala Dunia bersama Timnas Indonesia,” tegasnya.
Pengalaman Alfan yang sangat panjang sebagai dokter tim sepak bola membuatnya kenyang akan berbagai kondisi cedera pemain. Menurutnya, ada beberapa pengalaman berharga yang tidak didapatkannya dari text book. Itu karena harus dapat memulihkan kondisi tubuh pemain fit 100 persen hanya dalam rentang beberapa hari saja.
Padahal, kalau berdasarkan text book beberapa cedera itu dapat memakan waktu untuk jeda atau pemulihan beberapa hari. (din)