Anak Penjual Koran, Dhea Lulus dengan IPK 3,96: Buah Perjuangan Orang Tua Berangkat Kerja saat Subuh

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 20:00 WIB
Dhea Ayu Nur’aini lulus dengan predikat Cumlaude bersama orang tuanya yang merupakan penjual koran. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
Dhea Ayu Nur’aini lulus dengan predikat Cumlaude bersama orang tuanya yang merupakan penjual koran. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)

JOGJA — Saat sebagian besar orang masih terlelap, Sodikun dan Indah Kurniasih sudah memulai hari. Sekitar pukul 03.30, keduanya berangkat mencari penghasilan dengan berjualan koran.

Sodikun biasa berjualan di depan kantor Kedaulatan Rakyat (KR), sementara Indah mangkal di kawasan Hotel Ambarrukmo, Jalan Adisucipto, Jogjakarta.

Rutinitas itu berlangsung bertahun-tahun. Bagi putri mereka, Dhea Ayu Nur’aini, pagi yang sunyi tanpa kehadiran kedua orang tua menjadi pemandangan yang akrab sejak kecil.

Baca Juga: Dazzling Dance Crew SMAN 1 Banguntapan Tampil Nyentrik di DBL Jogja Kritisi FOMO Naik Gunung

Kala itu, Dhea belum benar-benar memahami alasan bapak dan ibunya harus meninggalkan rumah ketika hari bahkan belum terang.

"Waktu kecil saya merasa kok Bapak Ibu kerjanya pagi sekali, beda dengan bapak ibunya teman-teman saya. Ternyata saat saya besar baru paham itu risiko pekerjaan berjualan koran," ujar Dhea kepada Radar Jogja.

Kini, bertahun-tahun kemudian, Dhea justru berdiri di antara deretan wisudawan dengan toga di kepalanya. Pada Sabtu (26/9), mahasiswi Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, UPN Veteran Yogyakarta itu resmi menyelesaikan pendidikan sarjananya.

Bukan sekadar lulus, Dhea menuntaskan kuliah dengan predikat cumlaude dan IPK 3,96.

Capaian tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan keluarga yang sejak awal menempatkan pendidikan sebagai prioritas.

Sebelum menjadi mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta, Dhea menempuh pendidikan di SMP Negeri 6 Jogja dan SMA Negeri 9 Jogja.

Ketika memasuki perguruan tinggi, ia sempat diterima di UGM melalui jalur mandiri untuk Jurusan Ilmu Tanah. Pilihan itu sebenarnya lebih banyak datang dari sang bapak.

Sementara Dhea memiliki ketertarikan lain. Ia ingin belajar Agribisnis di UPN Veteran Yogykarta melalui jalur UTBK. Pada akhirnya, pilihan Dhea mendapat dukungan orang tua. "Bapak tidak memaksakan ambil UGM, karena saya tahu kalau memaksakan di UGM itu selama kuliah akan cukup berat karena ada beberapa mata kuliah yang kurang saya kuasai," tuturnya.

Agribisnis dipilih karena menurut Dhea bidang tersebut mempertemukan dua hal yang ia sukai: bisnis dan pertanian. Pilihan itu kemudian mengantarkannya menyelesaikan studi dalam waktu kurang dari empat tahun.

Namun, perjalanan akademiknya tidak selalu berjalan mulus. Peralihan dari bangku SMA ke perguruan tinggi sempat membuat Dhea mengalami gegar budaya. Praktikum, tugas, dan ritme perkuliahan yang lebih padat menuntutnya beradaptasi.

Baca Juga: Warung Indo dan Kesegaran Aqua dalam Penampilan Dance SMA 1 Kalasan

Ia bersyukur memiliki teman-teman yang saling mendukung. Belajar bersama melalui Zoom maupun Google Meet menjadi salah satu cara yang membantunya menghadapi berbagai tugas dan materi perkuliahan.

"Banyak praktikum, tugas, dan lain-lain yang draining dan stressfull. Tapi alhamdulillah punya teman-teman yang support," katanya.

Dhea pun mengaku bukan tipe mahasiswa yang selalu memiliki jadwal belajar ideal. Ketika tugas dan praktikum datang bersamaan, sistem kebut semalam terkadang tak terhindarkan.

Namun, ada satu prinsip yang selalu ia pegang: menyelesaikan apa yang sudah dimulai. "Tidak ada target dan prinsip yang paten, tapi selalu menanamkan bahwa harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai entah hasilnya bagaimana. Yang penting sudah belajar dulu dalam prosesnya," ujarnya.

Semasa sekolah, Dhea mengaku belum banyak memikirkan biaya pendidikan. Kesadaran itu mulai tumbuh ketika memasuki perguruan tinggi.

Saat kuliah, ia mulai memahami bahwa pendidikan membutuhkan biaya tidak sedikit. Di saat yang sama, ia melihat sendiri bagaimana orang tuanya terus berusaha memenuhi kebutuhan tersebut.

"Semasa sekolah belum terlalu memikirkan biaya sekolah dan kebutuhan lain, tapi saat kuliah baru terasa bahwa kuliah perlu banyak biaya dan Bapak Ibu sangat mengusahakan itu," katanya.

Bagi Dhea, dukungan orang tua tidak berhenti pada persoalan biaya.

Sang bapak menjadi sosok yang banyak memberikan nasihat mengenai pentingnya pendidikan. Sementara sang ibu menjadi tempatnya bersandar ketika menghadapi masa-masa sulit.

"Bapak selalu bilang pendidikan itu hal yang dapat mengubah kesejahteraan seseorang. Jadi Bapak berharap dengan anak-anaknya mengenyam pendidikan, bisa mengubah nasib dan meningkatkan kesejahteraan di masa depan," ujar Dhea.

Nasihat itulah yang kemudian terus melekat dalam perjalanan pendidikannya. Wisuda akhirnya menjadi titik yang membuat Dhea kembali mengingat perjalanan panjang keluarganya.

Ia menyadari, gelar sarjana yang kini disandangnya bukan hanya hasil kerja kerasnya sendiri. Ada dua orang yang setiap dini hari meninggalkan rumah demi mencari penghasilan untuk keluarganya.

Namun, Dhea mengaku masih canggung mengungkapkan rasa terima kasih tersebut secara langsung kepada kedua orang tuanya.

"Ingin bilang terima kasih. Karena selama ini Bapak dan Ibu bekerja keras dan berusaha memberi yang terbaik untuk pendidikan. Saya mungkin nggak selalu mengatakannya secara langsung karena memang agak canggung kalau harus ngomong seperti itu ke orang tua," bebernya.

Meski begitu, ia berharap kedua orang tuanya memahami satu hal.

"Saya berharap mereka tahu kalau saya sangat menghargai semua yang sudah mereka lakukan. Pencapaian ini juga bukan cuma hasil dari usaha saya, tapi ada Bapak dan Ibu di belakangnya," sambungnya.

Usai wisuda, Dhea berencana bekerja terlebih dahulu. Ia ingin mendapatkan pengalaman sekaligus menerapkan ilmu yang diperoleh selama kuliah.

Ada pula satu impian lain yang ingin diwujudkannya: pergi ke Jepang. Karena itu, sembari bekerja, Dhea berencana mulai mempelajari bahasa Jepang.

Berangkat saat Gelap, Pulang untuk Mengantar Sekolah

Bagi Sodikun, keberhasilan Dhea bukan sekadar seremoni wisuda. Ia masih mengingat bagaimana perjalanan pendidikan putrinya dimulai sejak usia dini.

Setiap hari, Sodikun dan Indah memang harus meninggalkan rumah sekitar pukul 03.30 untuk berjualan koran. Namun, urusan pendidikan anak tetap mereka usahakan.

"Jika Dhea hendak berangkat sekolah, saya atau istri akan pulang dulu untuk mengantar. Sarapan pun telah disiapkan sebelum kami berangkat mencari penghasilan," jelasnya.

Sodikun juga masih mengingat ketika Dhea hendak masuk taman kanak-kanak. Putrinya sempat ditawari masuk playgroup, tetapi menolak karena merasa sudah menguasai sejumlah doa dan surat pendek.

Saat mendaftar di SD IT Luqman Al-Hakim, usia Dhea bahkan baru sekitar lima tahun. Ia harus mengikuti tes psikologi sebelum dinyatakan diterima.

Perjalanan itu berlanjut hingga perguruan tinggi.

Di sisi lain, kondisi ekonomi keluarga menghadapi tantangan baru. Penjualan koran yang terus menurun membuat biaya pendidikan menjadi persoalan tersendiri.

Beruntung, Dhea memperoleh beasiswa dengan UKT nol rupiah di UPN Veteran Yogyakarta. Bagi Sodikun yang menggantungkan penghasilan dari berjualan koran, bantuan tersebut sangat berarti.

"Dulu waktu belum ada HP Android, koran masih laku, tidak ada masalah, istri bisa menabung. Namun setelah jualan turun, alhamdulillah Dhea dapat beasiswa UKT nol. Itu sangat membantu saya sebagai penjual koran," beber Sodikun.

Di tengah penghasilan yang tidak selalu pasti, Sodikun tetap memegang prinsip yang sama: pendidikan anak tidak boleh berhenti.

"Biarkan orang tua hidup susah, yang penting anak harus sekolah. Karena yang bisa memutus mata rantai kemiskinan ya dengan pendidikan. Ibarat kata kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, orang tua siap," tuturnya.

Namun, Dhea bukan satu-satunya anak Sodikun dan Indah yang menempuh pendidikan tinggi. Anak pertama mereka, Fauziah Hanum, merupakan alumni Fakultas Syariah UIN Suna Kalijaga dan lulus cumlaude dari jurusan Ilmu Hukum.

Anak kedua, Zaenul Mustofa, kini bekerja di bidang pelayaran. Sementara anak keempat, Khasiba Zahwa Cholisoh, masih duduk di kelas 9 SMP Negeri 4 Depok.

Kini, setelah mengantarkan anak ketiganya meraih gelar sarjana, Sodikun masih menyimpan harapan lain untuk Dhea.

Ia ingin putrinya melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

"Saya ingin Dhea lanjut kuliah lagi karena masih muda. Cari ilmu dulu," harap Sodikun. (iza)

Editor : Sevtia Eka Novarita
upn veteran yogyakarta penjual koran Dhea Ayu Nur’aini orang tua Sodikun