JOGJA - Pria berkepala lima itu masih tampak bersemangat ketika menceritakan perjalanan panjangnya di dunia perhotelan. Tidak pernah terbayang sebelumnya, latar belakang pendidikan hukum justru membawanya menjadi bagian penting dalam geliat industri hotel dan restoran di DIY
Dialah Deddy Pranowo Eryono, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ. Dunia perhotelan yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya ternyata bermula dari sebuah keterpaksaan sederhana memenuhi keinginan orang tua.
Deddy merupakan generasi penerus Hotel Ruba Grha di Mantrijeron, Kota Jogjakarta. Hotel tersebut dibangun sang ayah sekitar 1985. Sebelum menjadi hotel, kawasan tersebut memiliki perjalanan usaha yang cukup panjang.
"Sebenarnya dulu lokasi hotel tersebut dulunya merupakan toko batik milik keluarga," katanya saat ditemui di Hotel Ruba Grha, Kamis (27/8/2026).
Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan CSR Perusahaan Lindungi Pekerja Rentan di DIY, Begini Penjelasannya!
Usaha batik kemudian mengalami persaingan dan akhirnya beralih ke usaha peternakan ayam. Setelah itu, keluarga kembali mengembangkan usaha di bidang makanan ternak.
Seiring perkembangan usaha, peternakan dan gudang akhirnya berpindah. Sang ayah kemudian memutuskan membangun hotel di tempat itu.
Saat hotel berdiri, Deddy masih berstatus mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII). Awalnya, ia merasa pilihan dunia perhotelan cukup berbeda dengan latar belakang pendidikannya.
"Saya kuliah hukum di UII. Kok saya kayaknya di hotel, kan beda banget background kami," kenangnya.
Baca Juga: Guru Khawatir Jadi Biang Penyakit, SMPN 2 Karanggayam Diteror Koloni Kelelawar
Namun, perbedaan latar belakang itu tidak membuat Deddy menjauh. Justru dari sanalah rasa ingin tahunya tumbuh. Ia mulai belajar tentang hospitality dari teman-teman, mengikuti berbagai pelatihan, hingga berguru kepada para profesional perhotelan.
Ia juga mengikuti kursus public relations (PR) hotel. Dari sana, Deddy mulai memahami industri perhotelan bukan sekadar menjual kamar, tetapi juga mengenai pelayanan, komunikasi, relasi, dan bagaimana membangun kepercayaan.
"Di samping belajar dengan teman-teman, saya juga belajar dengan PR hotel besar maupun yang kecil. Belajar tentang PR, kemudian kami juga belajar dengan GM dan sebagainya," tuturnya.
Baca Juga: Guru Khawatir Jadi Biang Penyakit, SMPN 2 Karanggayam Diteror Koloni Kelelawar
Jika melihat posisinya sekarang sebagai Ketua PHRI DIY, perjalanan Deddy tentu tidak terjadi dalam semalam. Sang ayah justru sengaja mendidiknya dari posisi paling bawah. Bukan langsung menjadi manajer, apalagi general manager (GM), Deddy terlebih dahulu merasakan pekerjaan sebagai housekeeping.
Sekitar satu setengah tahun ia menjalani pekerjaan tersebut. Bahkan, karena masih berstatus mahasiswa, jadwal kerjanya harus menyesuaikan jadwal kuliah. "Kalau kuliah sore berarti saya masuk pagi shift satu, jam 7 sampai jam 3. Kalau kuliah siang, saya masuk sore sampai malam," katanya.
Kehidupan sebagai mahasiswa sekaligus pekerja hotel dijalani Deddy tanpa banyak mengeluh. Ia diperlakukan sama seperti karyawan lainnya. Setelah sekitar satu setengah tahun di housekeeping, ia berpindah ke bagian storekeeper, yang bertugas menerima barang. Posisi tersebut dijalani sekitar enam bulan.
Baca Juga: 21 Ribu Warga Jogja Kehilangan PBI-JKN akibat Pergeseran Desil, Pemkot Siapkan Jamkesda
Perjalanan kemudian berlanjut ke front office. Di bagian yang berhadapan langsung dengan tamu tersebut. Setelah itu, ia dipercaya menjadi asisten manajer. Dari proses panjang tersebut, Deddy baru memahami alasan sang ayah mendidiknya dari bawah.
"Setelah saya menjadi GM menggantikan ibu, saya baru sadar. Oh, saya itu dididik bapak dari bawah supaya tahu permasalahan jabatan di bawahnya," ungkapnya.
Menurutnya, pengalaman bekerja dari level paling bawah menjadi modal penting ketika harus memimpin. Ketika ada karyawan yang mengeluh, ia bisa memahami persoalan tersebut karena pernah merasakan posisi yang sama.
Baca Juga: Di DIY Ada 12 Risiko Bencana, Penyandang Disabilitas Alami Kerentanan Berlapis saat Hadapi Bencana
Pengalaman itu pula yang membuatnya lebih mudah mencari solusi ketika terjadi persoalan di lingkungan kerja. Ia tidak hanya melihat masalah dari sudut pandang seorang pimpinan, tetapi juga dari perspektif karyawan.
"Kalau ada perselisihan, saya tahu. Jadi ketika ada masalah, bisa memberikan solusi karena pernah merasakan," tambahnya.
Kegemarannya belajar dan membangun relasi kemudian membawa Deddy keluar dari lingkup Hotel Ruba Grha. Ia mulai aktif dalam organisasi public relations di Jogja.
Deddy bahkan dipercaya menjadi ketua organisasi tersebut. Dari sana, jejaringnya semakin luas. Ia bertemu dengan banyak pelaku industri pariwisata dan perhotelan.
Baca Juga: Desil Naik, Gubernur DIY HB X Minta Solusi Berpihak: Bantuan Jangan Terputus
Setelah itu, ia mulai masuk dalam kepengurusan PHRI. Awalnya dipercaya sebagai humas. Kemudian dipercaya menjadi wakil sekretaris, sekretaris, hingga akhirnya menduduki posisi ketua PHRI DIY. Bagi Deddy, seluruh perjalanan tersebut merupakan proses mencari pengalaman. Ia meyakini, dunia hospitality tidak bisa dilepaskan dari jaringan dan koneksi.
"Hospitality itu butuh link, butuh koneksi. Sekalian saya belajar menjalin koneksi," katanya.
Hal itu yang dipupuk sejak awal. Kini, Deddy telah menjalani dua periode sebagai Ketua PHRI DIY. Bagi Deddy, jabatan tersebut bukan sekadar posisi. Ada amanah besar yang harus dijalankan. "PHRI ini kan nonprofit. Istilahnya ngibadah untuk pariwisata Jogja, khususnya hotel dan restoran," ujarnya.
Dia pun menceritakan mengenai ujian terbesar Deddy sebagai Ketua PHRI DIY datang ketika pandemi Covid-19 melanda. Industri pariwisata dan perhotelan menjadi salah satu sektor yang paling terdampak.
Baca Juga: Kesan Ondrej Rudzan Jalani Petualangan Pertama di Indonesia Bersama PSIM Jogja
Hotel sepi. Restoran terdampak. Karyawan menghadapi ketidakpastian. Dalam situasi tersebut, Deddy memperkenalkan semangat "Guyup Sesarengan" atau kebersamaan. Menurutnya, pandemi tidak mungkin dilalui jika setiap pihak berjalan sendiri-sendiri. Kebersamaan itu dibangun bukan hanya di internal PHRI, tetapi juga dengan pemerintah dan berbagai asosiasi lainnya.
Hubungan baik dengan pemerintah kemudian membuahkan manfaat konkret bagi para anggota PHRI. Salah satunya melalui program vaksinasi gratis bagi pekerja hotel dan restoran beserta keluarganya.
"Sekarang anggota kita bertambah. Karena ada vaksinasi gratis dan kemudahan protokol kesehatan," katanya.
Saat itu, PHRI DIY mendapatkan kuota vaksin sekitar 15 ribu orang untuk karyawan dan keluarga. Menurut Deddy, kesempatan tersebut tidak lepas dari hubungan baik yang telah dibangun antara PHRI dengan pemerintah daerah.
Baca Juga: Agustus Gelap, Soroti Demokrasi hingga Anggaran Publik: Aliansi Rakyat Memanggil Turun ke Jalan
Selain vaksinasi, PHRI juga aktif memberikan pelatihan serta bekerja sama dengan Satgas Covid tingkat provinsi, kota, dan kabupaten. Pelaku usaha didorong untuk menerapkan protokol kesehatan sekaligus tetap berinovasi.
Sejumlah hotel bahkan membuat dekorasi dan konsep pelayanan yang unik untuk menarik wisatawan menginap, tentu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.
Upaya bersama tersebut akhirnya membuahkan hasil. Deddy menyebut tingkat okupansi hotel di DIY pada 2023 menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Deddy menyebut jumlah anggota PHRI DIY kini sekitar 580 hotel dan restoran. Jumlah tersebut meningkat jauh dibandingkan sebelum program vaksinasi Covid. "Sebelum adanya vaksinasi sekitar 98 anggota PHRI se-DIY," ungkapnya.
Baca Juga: Kesan Ondrej Rudzan Jalani Petualangan Pertama di Indonesia Bersama PSIM Jogja
Bertambahnya anggota menunjukkan organisasi memberikan manfaat bagi pelaku usaha. Bagi Deddy, inilah salah satu hasil dari perjuangan organisasi yang dijalankan tanpa orientasi keuntungan pribadi.
Sebab, menjadi Ketua PHRI bukan pekerjaan yang mendatangkan gaji. Ia harus meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk organisasi. Kendati demikian, Deddy mengaku menikmati aktivitas tersebut. Ia memang menyukai organisasi sejak masih muda.
Latar belakang keluarga turut memengaruhinya. Sang ayah yang pernah menjadi kepala dinas dan kerap berkunjung ke berbagai hotel membuat Deddy sejak kecil akrab dengan dunia organisasi dan pelayanan publik. "Saya dari kecil juga sudah ikut OSIS," katanya.
Kebiasaan berorganisasi itu akhirnya terbawa hingga dewasa. Satu prinsip yang terus dipegang Deddy adalah tidak pernah malu bertanya. Pesan tersebut ia dapatkan dari sang ayah.
Baca Juga: Meski Sudah Jalani Enam Laga Uji Coba, Van Gastel Akui PR bagi Skuad PSIM Jogja Belum Usai
Menurutnya, memiliki hotel kecil bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru ia harus banyak berguru kepada hotel-hotel yang lebih besar. "Background kita sudah berbeda. Kita punya hotel kecil, tapi kita harus belajar dengan hotel yang besar," ujarnya.
Dari senior maupun junior, selalu ada ilmu yang bisa dipelajari. Bagi Deddy, relasi juga bukan semata-mata untuk kepentingan organisasi. Jaringan tersebut memberikan manfaat bagi pengembangan diri, ilmu, hingga bisnis.
"Hospitality butuh link. Link itu manfaatnya untuk diri saya. Ilmu bisnis ya butuh link," katanya.
Tantangannya tentu bagaimana membagi waktu antara keluarga, Hotel Ruba Grha, dan organisasi. Suka duka tersebut menjadi bagian dari konsekuensi ketika memilih jalan pengabdian melalui organisasi. Hal-hal itu lah yang membawanya menjadi ketua PHRI.
Baca Juga: Satres Narkoba Polres Bantul Tangkap Tiga Tersangka Kasus Sabu Berantai dalam Sehari
Menurutnya meski pandemi telah berlalu, Deddy menilai dunia pariwisata belum sepenuhnya baik-baik saja. Stabilitas ekonomi dan keamanan masih menjadi perhatian. Ditambah lagi kebijakan efisiensi anggaran setelah pandemi ikut berdampak terhadap tingkat okupansi hotel di DIY. "Itu pukulan bagi kita sampai sekarang," ujarnya.
Oleh karena itu, semangat "Guyup Sesarengan" masih menjadi pegangan Deddy dalam menjalankan PHRI DIY.
Ia ingin para pelaku usaha tidak berjalan sendiri-sendiri. Organisasi harus menjadi ruang untuk mencari solusi bersama, membangun komunikasi dengan pemerintah, dan terus menciptakan inovasi. "Kita kan harus memutar otak bagaimana teman-teman bisa eksis. Mau tidak mau itu yang harus kita programkan," pungkasnya. (cin)
Editor : Winda Atika Ira Puspita