KULON PROGO - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kulon Progo kini memiliki nahkoda baru. Bambang Sutrisno datang membawa pengalaman panjang sebagai birokrat. Perjalanan karirnya pun tidak selalu berjalan mulus. Lima kali gagal dalam seleksi jabatan pimpinan tinggi pratama (JPTP) justru menjadi bagian penting dalam prosesnya meniti karir.
Bagi pria yang akrab disapa Bamsut itu, kegagalan bukan alasan untuk berhenti. Seleksi JPTP justru dijadikannya sebagai ruang untuk bercermin dan mengukur kemampuan diri.
“Seleksi JPTP itu ajang mengukur baju sendiri, apakah saya mampu atau tidak,” ujarnya saat ditemui Radar Jogja di ruang kerjanya, Jumat (21/8).
Baca Juga: LBH Jogja Tuntut Pemerintah di DIJ Usut Penutupan Akses ke Pantai Watu Bolong Gunungkidul
Sikap tersebut agaknya tidak lepas dari pengalaman masa kecilnya. Bamsut tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang militer. Ayahnya merupakan seorang tentara, sedangkan sang ibu merupakan ibu rumah tangga. Karena mengikuti penugasan sang ayah, ia harus terbiasa berpindah tempat tinggal dan sekolah.
Meski demikian, sebagian besar masa sekolahnya dihabiskan di Jogja. Kebiasaan berpindah-pindah itu membuat Bamsut terbiasa beradaptasi dengan lingkungan baru. “Pindah-pindah sekolah waktu dulu, tapi kebanyakan memang di Jogja,” tuturnya.
Baca Juga: Insiden Tendangan Kungfu Kembali Terjadi, Asprov PSSI DIY Desak Ada Sanksi ke Pemain dan Wasit
Dari keluarga militer pula, disiplin dan kemandirian mulai ditempa sejak dini. Ia terbiasa menyelesaikan berbagai keperluan sendiri. Bahkan ketika harus pindah sekolah saat kelas IV SD, Bamsut mengaku mendaftarkan dirinya sendiri tanpa didampingi orang tua.
Rutinitas sederhana di rumah juga membentuk kebiasaannya. Setiap pagi, ia memiliki kewajiban menyemir sepatu sang ayah. Membersihkan kendaraan yang digunakan untuk bertugas juga menjadi bagian dari kesehariannya.
Bekal kemandirian dan kemampuan beradaptasi itu kemudian membawanya menempuh pendidikan tinggi melalui beasiswa. Pada 1993, Bamsut mendapat kesempatan berkuliah di Universitas Sebelas Maret (UNS).
Baca Juga: Tagih Kelanjutan Kasus Kades Junarsih, Warga Wonogiri Kembali Datangi Kejari Magelang
Langkahnya menjadi birokrat bermula dari sesuatu yang tidak sepenuhnya direncanakan. Beasiswa yang diterimanya memiliki ikatan dinas dengan Dikbud RI. “Ternyata muncul tawaran lain, dan akhirnya mengabdi di Kulon Progo pada 1996,” ungkapnya.
Karir birokrasi Bamsut dimulai di Bagian Organisasi Setda Kulon Progo. Seiring waktu, ia telah berpindah dan bertugas di sekitar sepuluh organisasi perangkat daerah (OPD). Berpindah lintas sektor bukan sesuatu yang membuatnya gamang.
Sebaliknya, setiap perpindahan justru dianggap sebagai kesempatan untuk mempelajari hal baru. Menurut Bamsut, bekerja di lingkungan yang berbeda membuat seorang birokrat terus dituntut memahami persoalan dari sudut pandang yang beragam.
Salah satu fase penting dalam perjalanan karirnya terjadi ketika ia turut mengawal masa transisi otonomi daerah sekitar 2000-2001. Saat itu, Bamsut bertugas di Badan Kepegawaian Daerah (BKD).
Perubahan sistem pemerintahan tersebut menuntut penataan sumber daya manusia aparatur secara lebih adaptif. Salah satu jejak inovasi yang pernah dikerjakannya terlihat pada seleksi CPNS 2004. Saat itu, pengumuman hasil seleksi mulai menggunakan layanan berbasis SMS.
Baca Juga: Masuk Pidana Berat, Polda DIY Nilai Korupsi TKD Condongcatur Bisa Pidana tanpa Sanksi Administratif
Namun, pengalaman panjang dan berbagai inovasi yang dikerjakan tidak serta-merta membuat perjalanan karirnya mulus. Bamsut tercatat beberapa kali mengikuti seleksi JPTP dan belum berhasil.
Lima kali kegagalan itu justru menjadi pengalaman yang ia syukuri. Tidak ada penyesalan berlebihan. Baginya, setiap seleksi memberikan kesempatan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan yang dimiliki.
Setelah lima kali mencoba, kesempatan itu akhirnya datang. Pada 2019, Bamsut berhasil lolos seleksi dan dipercaya menjadi Staf Ahli Bupati. Perjalanan sebagai pejabat pimpinan tinggi pratama kemudian terus berlanjut hingga pada 2024 ia dipercaya memimpin Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kulon Progo.
Di disnaker, salah satu perhatian utamanya adalah menjaga angka pengangguran terbuka agar tetap terkendali. Berbagai program disiapkan, salah satunya walk in interview yang mempertemukan perusahaan dengan pencari kerja melalui fasilitasi disnaker.
Peningkatan kompetensi tenaga kerja juga menjadi perhatian. Pelatihan tidak sekadar memberikan keterampilan, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha. Harapannya, lulusan pelatihan dapat lebih mudah terserap ke dunia kerja.
Baca Juga: Tagih Kelanjutan Kasus Kades Junarsih, Warga Wonogiri Kembali Datangi Kejari Magelang
Program padat karya turut didorong untuk membuka kesempatan kerja sekaligus memberikan penghasilan bagi masyarakat. Kini, pengalaman tersebut menjadi bekal Bamsut menjalankan tugas baru sebagai kepala Diskominfo Kabupaten Kulon Progo.
Salah satu target yang ingin didorong adalah memperluas akses internet melalui pembangunan jaringan fiber optik. Sebanyak 17 kalurahan ditargetkan mendapatkan jaringan tersebut, sejalan dengan arah pembangunan daerah. Dalam menjalankan tugas sebagai birokrat, Bamsut memiliki filosofi sederhana yang dekat dengan hobinya. “Saya punya filosofi sepeda, karena saya hobi bersepeda,” katanya.
Menurutnya, seorang ASN harus memiliki arah yang jelas. Ia mengibaratkan setang sepeda sebagai penentu arah perjalanan. Roda depan menjadi gambaran tujuan yang hendak dicapai, sementara roda belakang mencerminkan sumber daya dan kompetensi yang menjadi penopang.
Di sisi lain, kayuhan pedal menggambarkan dinamika seorang ASN. Untuk terus bergerak maju, diperlukan konsistensi dan kemauan untuk terus beradaptasi.
Filosofi itu seolah merangkum perjalanan Bamsut sendiri. Berpindah-pindah sejak kecil, berganti-ganti OPD, menghadapi kegagalan dalam seleksi jabatan, hingga akhirnya dipercaya memimpin perangkat daerah. Semua menjadi bagian dari proses panjang untuk terus belajar dan bergerak maju.
Bagi Bamsut, karir birokrasi bukan semata soal seberapa cepat seseorang mencapai jabatan. Lebih dari itu, perjalanan tersebut adalah proses untuk mengenali kemampuan diri, beradaptasi, dan tetap melangkah ketika kesempatan belum datang. (gas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita