Lebih Dekat dengan Mbah Warsiati, Lansia Yang Rutin Berkegiatan di Sekolah Lansia Kalimasada

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 21:20 WIB
Mbah Warsiati rutin mengikuti berbagai kegiatan di Sekolah Lansia Kalimasada. Fahmi Fahriza/Radar Jogja
Mbah Warsiati rutin mengikuti berbagai kegiatan di Sekolah Lansia Kalimasada. Fahmi Fahriza/Radar Jogja
 
SLEMAN - Usia 75 tahun tidak membuat Mbah Warsiati berhenti beraktivitas. Warga Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, tersebut masih rutin mengikuti berbagai kegiatan di Sekolah Lansia Kalimasada.
 
Baginya, tempat itu bukan hanya ruang untuk belajar dan menjaga kesehatan, tetapi juga tempat bertemu teman-teman seusianya.
 
Sabtu (8/8/2026) siang, suasana Sekolah Lansia Kalimasada tampak lebih meriah dari biasanya. Para lansia itu berkumpul mengikuti berbagai lomba dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
 
Di antara peserta, Mbah Warsiati yang sudah berusia 75 tahun ikut larut dalam suasana. Ia mengikuti lomba bersama peserta lainnya, sesekali tertawa dan berbincang dengan teman-teman seusianya.
 
Baca Juga: Pabrik Kerajinan Enceng Gondok di Sleman Terbakar, Kerugian Ditaksir Mencapai Rp 5 Miliar
 
Bagi Warsiati, kegiatan seperti itu menjadi salah satu alasan dirinya senang mengikuti Sekolah Lansia. Ia mengaku sudah bergabung sejak sekolah tersebut pertama kali dibentuk, tiga tahun silam.
 
"Senang bisa kumpul di sini, ikut kegiatan. Kalau di rumah saja malah capek," ujarnya saat ditemui di Pendopo Kalimasada, Sabtu (8/8/2026).
 
Menurut Warsiati, berada di rumah terus-menerus justru membuat dirinya mudah merasa jenuh. Karena itu, kesempatan untuk berkumpul dengan orang-orang seusia menjadi hal yang menyenangkan.
 
Apalagi kegiatan di Sekolah Lansia Kalimasada cukup beragam. Selain pertemuan sekolah lansia, ada kegiatan kesehatan, aktivitas fisik, pembelajaran, hingga berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
 
Baca Juga: Mitos Gunung Merapi: Pasar Bubrah, Tanah Lapang yang Berubah Jadi Pasar Gaib Saat Malam
 
Warsiati sendiri masih aktif mengikuti kegiatan keagamaan di lingkungan sekitar. Ia rutin mengikuti pengajian di masjid dan kegiatan lainnya.
 
Untuk mengikuti kegiatan di Sekolah Lansia Kalimasada, ia bahkan rela berjalan kaki seorang diri dari rumahnya. Meski kondisi tubuh sudah tidak sekuat ketika muda, Warsiati tetap berusaha hadir selama masih mampu.
 
Selama mengikuti sekolah lansia, ia mendapatkan berbagai pembelajaran. Tidak hanya materi, peserta juga dikenalkan dengan sejumlah keterampilan praktis.
 
"Selama bergabung saya mendapat pelajarannya banyak,” katanya.
 
Baca Juga: Mentan Amran Batalkan Rapat Penting di Jakarta demi Entaskan Kemiskinan di Alor
 
Salah satu kegiatan yang pernah diikutinya adalah membuat sabun. Selain itu, pemeriksaan kesehatan menjadi bagian yang tidak kalah penting.
 
Bagi Warsiati, pemeriksaan kesehatan membantu para lansia mengetahui kondisi tubuh masing-masing. Dengan mengetahui hasil pemeriksaan, mereka bisa lebih memperhatikan makanan dan kebiasaan sehari-hari.
 
Kegiatan tersebut juga membuat para lansia memiliki alasan untuk terus berkumpul. Bukan hanya datang untuk mendapatkan pemeriksaan, tetapi juga bertemu, berbincang, dan mengikuti aktivitas bersama.
 
Hal serupa dirasakan kader Sekolah Lansia Kalimasada Martini. Ia melihat antusiasme warga terhadap Sekolah Lansia Kalimasada cukup tinggi.
 
Baca Juga: Prediksi Skor PSV vs Fortuna Sittard Eredivisie, Ole Romeny Akan Debut?
 
Menurutnya, para lansia senang karena memiliki banyak pilihan kegiatan. Ada yoga setiap Kamis, renang setiap Rabu, hingga kegiatan keagamaan pada akhir pekan.
 
"Banyak, banyak sekali kegiatan di sini. Selain berkumpulnya bikin senang, kegiatannya juga positif dan bikin sehat," ujarnya.
 
Diakuinya, pemeriksaan kesehatan juga dilakukan secara berkala. Pemeriksaan tersebut meliputi asam urat, kolesterol, gula darah, tekanan darah, berat badan, hingga tinggi badan.
 
Martini mengatakan dukungan Puskesmas membuat biaya pemeriksaan relatif terjangkau. Peserta dikenai biaya Rp35 ribu untuk pemeriksaan tersebut.
 
Baca Juga: Altay Bayindir Tinggalkan Manchester United, Gabung Celta Vigo dengan Status Pinjaman
 
Selain menjaga kesehatan, kegiatan bersama juga membangun rasa kebersamaan. Salah satunya terlihat dari konsumsi yang disediakan untuk para lansia.
 
Martini mengatakan makanan tidak disiapkan melalui penarikan uang khusus dari para lansia. Para kader justru bergotong royong membawa bahan makanan dari rumah.
 
"Dari kader semua. Dari awal berdirinya sampai sekarang alhamdulillah itu enggak pernah yang namanya narik uang," bebernya.
 
Kebersamaan tersebut juga melibatkan keluarga. Martini menyebut ada anak dari para lansia yang ikut menjadi kader sehingga pendampingan tidak hanya dilakukan oleh pengelola sekolah lansia.
 
Baca Juga: Indonesia Gagal ke Semifinal Piala AFF 2026, Herdman Ungkap Masalah Skuad Garuda
 
Di sisi lain, Kepala Sekolah Lansia Kalimasada Wasingatu Zakiyah mengatakan, bahwa saat ini terdapat sekitar 120 lansia yang menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Sekolah lansia juga terhubung dengan Posbindu Lansia yang aktif setiap bulan.
 
Menurut Wasingatu, berbagai kegiatan yang dilakukan memang diarahkan agar lansia tetap aktif secara fisik dan mental.
 
Momentum perayaan 17 Agustus pun dimanfaatkan sebagai ruang untuk membuat para lansia kembali mengingat pengalaman masa lalu sekaligus bersenang-senang bersama.
 
"Yang paling penting adalah mengenang masa lalunya. Lalu dengan lomba 17-an ini menjadi cara untuk menyehatkan mental dan fisik lansia,” kata Wasingatu.
 
Baca Juga: Sediakan Beragam Titik Layanan, Perpanjangan SIM di Sleman Lebih Mudah Selama Agustus 2026
 
Karena kondisi peserta berbeda-beda, lomba yang digelar pun disesuaikan dengan kemampuan para lansia. Tujuan utamanya bukan mengejar kemenangan, melainkan menciptakan suasana yang menyenangkan.
 
Bagi Wasingatu, ruang seperti itu penting karena jumlah lansia di DIJ terus menjadi bagian besar dari populasi masyarakat. Karena itu, perhatian terhadap lansia tidak cukup hanya melalui pelayanan kesehatan.
 
"Mereka juga membutuhkan ruang untuk bersosialisasi dan tetap merasa menjadi bagian dari lingkungan," ujarnya.
 
Konsep tersebut terlihat dari aktivitas yang berlangsung di Sekolah Lansia Kalimasada. Dalam satu bulan, para lansia tidak hanya bertemu ketika sekolah berlangsung. Ada kegiatan yoga, pemeriksaan kesehatan, kegiatan keagamaan, hingga aktivitas lain yang dilakukan secara rutin.
 
Baca Juga: 13.817 Botol Miras Disita Jelang 17 Agustus, Rumah Warga Jadi Lokasi Terbanyak Sitaan Miras Ilegal
 
Secara prinsip, Wasingatu berharap Sekolah Lansia Kalimasada pun tidak sekadar menjadi tempat belajar bagi para lansia. 
 
"Di sana, mereka menemukan ruang untuk tetap bergerak, bersosialisasi, dan menjaga semangat di tengah bertambahnya usia," pungkasnya. (iza)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
Kalimasada ngaglik sleman sekolah lansia