Maestro Seni Rupa Nasirun Berpulang, Sosoknya Tak Terganti, Karyanya Abadi

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 18:55 WIB
SEGERA DIKEBUMIKAN: Ratusan pelayat mengiringi keberangkatan almarhum seniman Nasirun dari rumah duka yang berada di Perum Bayeman Permai, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul Sabtu (1/8). Jenazah Nasirun dimakamkan di Taman Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto di Imogiri, Bantul. (FAHMI FAHRIZA/RADAR JOGJA)
SEGERA DIKEBUMIKAN: Ratusan pelayat mengiringi keberangkatan almarhum seniman Nasirun dari rumah duka yang berada di Perum Bayeman Permai, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul Sabtu (1/8). Jenazah Nasirun dimakamkan di Taman Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto di Imogiri, Bantul. (FAHMI FAHRIZA/RADAR JOGJA)

BANTUL - Kepergian maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan dunia seni. Namun, di balik kepergiannya, karya-karya yang telah lahir dari tangan kreatifnya akan terus hidup. Sementara ketulusan, kerendahan hati, dan kedekatannya dengan berbagai kalangan membuat sosoknya dikenang sebagai pribadi yang tak tergantikan.

Radar Jogja tiba di rumah duka Perum Bayeman Permai, Ngestiharjo, Kasihan, Bantu sekitar pukul 09.00. Tidak lama setelah jenazah dibawa dari Asri Medical Center (AMC). Halaman rumah hingga ruas jalan dipenuhi pelayat yang datang silih berganti. Mereka turut mengantarkan jenazah Nasirun ke Taman Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto, Imogiri, Bantul pukul 14.30.

Para pelayat berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari tetangga, sahabat, kolega sesama seniman, akademisi, budayawan, kolektor seni, hingga tokoh publik. Di antara mereka tampak perupa Jumaldi Alfi, Ong Hari Wahyu, dan Putu Sutawijaya; kolektor seni Oei Hong Djien; mantan Kapolda DIY Suwondo Nainggolan; Gusti Prabu; musisi Heru Shaggydog dan Marzuki Mohammad; mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti; jurnalis Rosiana Silalahi; serta pasangan artis Dwi Sasono dan Widi Mulia.

Baca Juga: Persija Hajar PSMS 4-1, Macan Kemayoran Jaga Asa ke Semifinal Piala Presiden 2026

Jumaldi Alfi yang tinggal dalam satu kompleks sempat tak percaya dengan kabar perginya Nasirun. “Saya terakhir ketemu kemarin (Jumat, Red) sore, dia lagi nyapu. Masih ngobrol. Dua hari lalu kami juga nonton pameran bareng," ujarnya di rumah duka.

Namun menurut cerita keluarga yang diterimanya, Nasirun memang sempat mengalami sesak napas selama tiga hari terakhir. Namun, kondisi itu datang dan pergi sehingga tidak terlalu dihiraukan. "Beliau juga orang yang agak takut kalau periksa-periksa ke dokter. Jadi merasa tidak apa-apa," ungkapnya.

Baru sekitar pukul 02.00, kondisi sesak napas tersebut memburuk hingga akhirnya Nasirun dibawa ke rumah sakit Asri Medical Center. Namun, sekitar pukul 05.50 WIB, perupa kelahiran Cilacap itu dinyatakan meninggal dunia.

Di balik reputasinya sebagai pelukis besar Indonesia, Alfi menyebut, Nasirun adalah pribadi yang nyaris tak pernah memperlihatkan kesedihan ataupun mengeluhkan penyakitnya kepada orang lain. Bahkan, keluarga dan sahabat dekat pun baru mengetahui tentang riwayat pneumonia dan gangguan lambung setelah kondisinya memburuk.

Baca Juga: John Herdman Puji Mentalitas Timnas Indonesia dalam Kemenangan atas Timor Leste di ASEAN Championship 2026

Bagi Alfi, Nasirun bukan sekadar rekan sesama seniman. Mereka telah saling mengenal sejak era 1990-an. Termasuk ketika sama-sama menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Selain sebagai kakak tingkat, keduanya juga telah bertetangga selama sekitar 15 tahun.

Selama puluhan tahun mengenal Nasirun, Alfi melihat sosok sahabatnya sebagai pribadi yang telah selesai dengan dirinya. Baginya, Nasirun tidak pernah berubah meski namanya telah dikenal hingga mancanegara. "Beliau orang yang dipuji tidak besar kepala, dimaki tidak pernah sakit hati," kenangnya.

Sementara bagi kurator, kritikus seni, sekaligus dosen ISI Jogjakarta Suwarno Wisetrotomo, meninggalnya Nasirun bukan sekadar kehilangan seorang pelukis besar. Ia merasa kehilangan sahabat, kolega, dan sosok yang selama lebih dari tiga dekade menjadi contoh bagaimana seorang seniman harusnya menjalani hidup.

Hubungan Suwarno dengan Nasirun bukan hubungan yang lahir ketika nama Nasirun telah mendunia. Suwarno merupakan orang pertama yang menjadi kurator pameran tunggal pertama Nasirun pada 1993, ketika pelukis kelahiran Cilacap itu masih belum dikenal luas.

Saat itu, pameran digelar di Mirota Kampus Godean. Suwarno masih menjadi kurator muda. Begitu pula Nasirun yang baru memulai perjalanan profesionalnya sebagai perupa. "Kami sama-sama sedang memulai perjalanan," bebernya.

Suwarno sendiri masih mengingat percakapan dengan promotor pameran saat itu, almarhum Siswanto. Seusai melihat karya-karya Nasirun, Siswanto sempat melontarkan pertanyaan pada Suwarno bagaimana masa depan pelukis muda tersebut.

 Baca Juga: Resmi! PSS Sleman Rekrut Moussa Bagayoko, Ini Profil dan Rekam Jejaknya

Alih-alih memberi jawaban normatif, Suwarno mengatakan dirinya tidak sedang meramal. Melainkan membaca indikator yang dimiliki Nasirun. "Tapi kalau lihat indikatornya, dia pekerja keras, saleh, ide-idenya bagus, menguasai tema. Dugaan saya dia akan jadi seniman masa depan yang hebat," ujarnya.

Prediksi itu terbukti. Karier Nasirun melesat. Pada tahun 2000, Suwarno kembali dipercaya menjadi kurator pameran tunggal Nasirun di Galeri Nasional Indonesia. Sejak saat itu hubungan keduanya berkembang jauh melampaui relasi kurator dan seniman.

"Secara akademik dia selalu menganggap saya guru karena memang saya lebih tua dan mengajar. Tapi dalam keseharian kami teman dekat," katanya.

Ironisnya, sehari sebelum Nasirun berpulang, Suwarno juga menghabiskan hampir setengah hari di rumah sahabatnya itu. Mereka sedang menyiapkan sebuah pameran bertajuk Tonggak Ziarah yang dijadwalkan berlangsung pertengahan Agustus nanti.

Pameran tersebut akan mengangkat arsip para pendiri Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Dalam proyek itu, Nasirun berperan penting karena selama bertahun-tahun merawat arsip seni yang kemudian disimpan di bangunan khusus di rumahnya. "Saya sedang menyiapkan pameran yang pakai arsip-arsip koleksi Nasirun," ujarnya.

Baca Juga: Shayne Pattynama Akui Timor Leste Beri Perlawanan Sengit, Timnas Indonesia Diminta Tak Cepat Puas

Bagi Suwarno, kualitas Nasirun tidak hanya tampak pada kehidupan pribadinya, tetapi juga dalam karya-karyanya. Ia menyebut Nasirun sebagai pelukis yang berhasil membangun identitas visual yang sangat kuat.

Menurutnya, Nasirun banyak bertumpu pada tradisi Jawa, mitologi, ritual, tahayul, hingga realitas sosial-politik yang kemudian diolah menjadi bahasa visual khas. Dia pun tahu, Nasirun memang banyak mengagumi Affandi, Sudjojono, Hendra Gunawan, Widayat, hingga Fajar Sidik. Namun, kekaguman itu tidak menjadikan Nasirun sebagai peniru.

"Kalau melihat karya Nasirun, kita diingatkan pada Widayat, pada Affandi, pada Sudjojono, pada Hendra Gunawan. Tapi saat lihat keseluruhannya, itu bukan mereka. Itu tetap Nasirun," jelasnya.

Ia menambahkan, salah satu kekuatan lain Nasirun terletak pada penguasaan teknik yang luar biasa. Lukisannya rumit, tapi penuh detail. Hampir seluruh bidang kanvas disentuh dengan warna dan kuas. “Craftsmanship-nya sangat tinggi. Dia benar-benar menguasai dasar-dasar seni rupa dengan sangat baik," katanya.

Namun demikian, ia menilai bahwa warisan terbesar Nasirun, menurut Suwarno, bukan sekadar ribuan karya yang telah dihasilkannya. Yang jauh lebih penting adalah integritasnya sebagai seorang seniman.

Nasirun tidak pernah memilih ruang pamer berdasarkan gengsi. Baginya, memenuhi undangan berpameran merupakan bagian dari membangun persaudaraan. "Dia pernah bilang pada saya, pameran tingkat RT atau RW pun dia mau. Bagi dia itu sesrawungan," katanya. (iza/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
maestro seni rupa Nasirun Sosok pelukis SUWARNO WISETROTOMO