Mengenal Ketua Umum NPCI Kulon Progo Widi Nuryanto, dari Kernet Bus hingga Pimpin Atlet Difabel

Rizky Wahyu Arya Hutama • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 09:00 WIB
Ketua Umum NPCI Kulon Progo Widi Nuryanto. (DOKUMENTASI PRIBADI)
Ketua Umum NPCI Kulon Progo Widi Nuryanto. (DOKUMENTASI PRIBADI)

JOGJA - Gempa Jogja 2006 mengubah jalan hidup Widi Nuryanto. Dari seorang kru bus lintas provinsi, ia harus menjalani hidup sebagai penyandang disabilitas. Namun, keterbatasan fisik tidak menghentikan langkahnya. Kini, Widi menjadi penggerak olahraga difabel sekaligus Ketua Umum National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Kulon Progo.

Tidak ada yang mampu menebak ke mana perjalanan hidup akan membawa seseorang. Bagi Widi, sebuah musibah besar justru menjadi titik awal perubahan yang mengantarkannya pada dunia olahraga disabilitas.

Sebelum menjadi penggerak atlet difabel, Widi menjalani kehidupan sebagai kru armada bus lintas provinsi. Namun, gempa bumi Jogja pada 2006 membuatnya mengalami perubahan besar dan harus beradaptasi sebagai penyandang disabilitas.

Baca Juga: Dukung Program Strategis Nasional, DPRD Kebumen Segera Bahas Raperda MBG

Alih-alih menyerah, Widi menjadikan pengalaman tersebut sebagai energi untuk bangkit. Ia mulai mencari ruang bersama penyandang disabilitas lain hingga akhirnya terlibat dalam organisasi olahraga difabel.

"Setelah menjadi disabilitas, saya mencari komunitas agar tidak merasa sendiri. Waktu itu di Kulon Progo hanya ada empat orang yang tertarik," kenang Widi saat ditemui Radar Jogja di Kantor NPCI DIY Jumat (24/7).

Baca Juga: PSS Sleman Belum Punya Manajer Resmi, Kim Jeffrey Kurniawan Fokus Jadi Pemain

Dari sana, Widi mulai membangun wadah bagi penyandang disabilitas yang memiliki potensi di bidang olahraga. Ia bergabung dengan NPCI Kulon Progo pada 2006 dan perlahan mengembangkan organisasi tersebut.

Kecintaannya pada olahraga kemudian membawanya terjun sebagai atlet. Kesempatan besar datang pada 2012 ketika ia dipercaya memperkuat kontingen DIY dalam Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XIV di Riau.

Saat itu, seorang pelatih panahan melihat potensi Widi dan menyarankannya menekuni cabang olahraga tersebut. "Saya sempat ragu, apa bisa ikut panahan? Ternyata bisa. Tahun 2013 saya mulai bergabung latihan di Pakualaman," bebernya.

Pilihan tersebut membuahkan hasil. Widi berhasil menyumbangkan medali perak dan perunggu untuk DIY pada Peparnas XV Jawa Barat 2016. Ia juga kembali meraih prestasi pada Peparnas XVI Papua 2021.

Baca Juga: Syafiq Raif Muzaffar, Siswa Kelas VIII SLB Islam Qothrunnada, Bantul; Keterbatasan Tak Memutuskan Semangat Berkarya di Bidang Luki

Di tengah kiprahnya sebagai atlet, Widi mendapat kepercayaan dari rekan-rekannya untuk memimpin NPCI Kabupaten Kulon Progo pada 2014. Saat itu, kondisi organisasi masih jauh dari ideal.

Jumlah atlet yang tergabung belum mencapai 10 orang. Sementara organisasi tak memiliki anggaran operasional. Bahkan, sekretariat NPCI Kulon Progo sempat berada di rumah pribadi Widi hingga 2019.

"Waktu ada sidak dari kabupaten, ditanya kenapa sekretariat di rumah. Saya jawab jujur, kami tidak ada dana untuk sewa," ungkapnya.

Perjuangan panjang tersebut perlahan membuahkan hasil. Melalui komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dan KONI, dukungan anggaran mulai meningkat. Fasilitas sekretariat dan armada operasional pun akhirnya diberikan.

Kini, NPCI Kulon Progo telah berkembang pesat. Dari yang awalnya hanya beranggotakan empat orang, kini menaungi lebih dari 100 atlet disabilitas. Prestasi atlet Kulon Progo juga terus meningkat. Selain rutin mengirimkan atlet ke Peparnas, sejumlah atlet daerah tersebut berhasil menembus kompetisi internasional, termasuk cabang olahraga boccia hingga ajang Paralimpik.

Kulon Progo bahkan dipercaya menjadi tuan rumah Kejuaraan Daerah NPCI dan tengah bersiap menyambut Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) DIY 2027.

Namun, perjalanan Widi tidak hanya tentang prestasi olahraga. Ia juga pernah menghadapi pandangan sebelah mata dari lingkungan sekitar setelah mengalami amputasi.

"Pernah ada yang meremehkan, apa bisa orang seperti saya menyekolahkan anak. Saya buktikan, bisa menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi," ujarnya.

Pembuktian itu kini menjadi kebanggaan tersendiri. Ketiga anak perempuannya tumbuh berprestasi. Bahkan salah satunya mengikuti jejak Widi sebagai atlet panahan dan telah menyelesaikan pendidikan tinggi.

Bagi Widi, keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Ia terus mendorong atlet muda difabel agar percaya diri dan menunjukkan kemampuan terbaiknya.

"Harapan saya, dari kekurangan yang kita miliki, tunjukkan kelebihan dan prestasi setinggi-tingginya sampai ke tingkat internasional," tandasnya. (ayu/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
widi nuryanto Kulon Progo Gempa Jogja 2006 penyandang disabilitas panahan