Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Sosok Halim Perdanakusuma Yang Diabadikan Menjadi Nama Bandara Udara: Elang Dirgantara yang Gugur di Langit Sumatra

Alfiani Hidayatul Choiriyah • Kamis, 9 Juli 2026 | 17:55 WIB
Halim Perdanakusuma (Sumber: Maduraindepth)
Halim Perdanakusuma (Sumber: Maduraindepth)

Nama Halim Perdanakusuma mungkin sangat akrab di telinga kita sebagai nama sebuah bandar udara komersial sekaligus pangkalan udara militer utama di ibu kota Jakarta. 

Namun, di balik kemegahan nama yang tersemat, terukir kisah kepahlawanan seorang pemuda asal Madura yang menantang maut di angkasa demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Beliau adalah salah satu pionir kedirgantaraan Indonesia yang memiliki reputasi internasional, sebuah permata langka di masa-masa awal berdirinya Republik.

Jauh sebelum berjuang untuk Angkatan Udara Indonesia (AURI), Abdul Halim Perdanakusuma—putra asli Sampang yang lahir pada 18 November 1922—sudah kenyang pengalaman di medan perang dunia.

Baca Juga: Justin Bieber lengkapi Deretan Bintang Half-Time Show Final Piala Dunia 2026, Sepanggung dengan BTS, Madonna, dan Shakira

Berawal dari kelulusannya di MOSVIA dan bergabung dengan Angkatan Laut Hindia Belanda, Halim dikirim ke Inggris untuk belajar navigasi.

Bakatnya yang luar biasa membawa ia masuk ke dalam Royal Air Force (RAF) Inggris. Sebagai bagian dari skuadron pengebom, ia dengan berani menyelesaikan puluhan misi berbahaya di langit Eropa, bahkan menembus barikade artileri udara Jerman.

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, panggilan ibu pertiwi mengetuk pintu hati Halim. Pemuda yang sudah kenyang asam garam pertempuran udara di Eropa ini memilih pulang dan langsung bergabung dengan AURI yang saat itu baru seumur jagung.

Bersama tokoh-tokoh seperti Adisutjipto dan Suryadi Suryadarma, Halim bahu-membujuk membangun kekuatan udara Indonesia dari nol.

Dengan pesawat-pesawat tua peninggalan Jepang yang kondisinya memprihatinkan, ia tidak hanya bertindak sebagai penerbang, tetapi juga mentor yang membagikan ilmu taktik perang udara modern kepada para kadet muda.

Puncak dedikasi sekaligus akhir perjalanan sang elang terjadi pada akhir tahun 1947.

Saat itu, ketegangan dengan Belanda kembali memuncak. Halim Perdanakusuma bersama Marsma Iswahjudi mendapat tugas mahapenting untuk menembus blokade udara Belanda demi menggalang dana dan membeli senjata di luar negeri.

Menggunakan pesawat jenis Avro Anson dengan nomor registrasi RI-003 yang dibeli dari hasil sumbangan rakyat Sumatra, mereka berhasil terbang menuju Songkhla, Thailand. Misi tersebut sukses, senjata telah berhasil didapatkan, dan pesawat bersiap kembali ke tanah air.

Namun, takdir berkata lain pada tanggal 14 Desember 1947. Dalam perjalanan pulang menuju pangkalan di Bukittinggi, pesawat RI-003 terjebak di dalam cuaca buruk yang sangat ekstrem di atas langit Malaya (sekarang Malaysia).

Baca Juga: Fasilitas Pendukung Minim, Becak Listrik di Kota Jogja Sulit Bersaing Gaet Wisatawan 

Kabut tebal mengurangi jarak pandang secara drastis, hingga akhirnya pesawat kehilangan kendali dan jatuh terhempas di Tanjung Hantu, Perak, Malaysia. Halim Perdanakusuma gugur di usia yang masih sangat muda, 25 tahun, bersama sahabat seperjuangannya, Iswahjudi.

Meskipun fisiknya telah tiada, api semangat yang dinyalakan oleh Halim Perdanakusuma tidak pernah padam. Ia dimakamkan kembali di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1975.

Kisah hidupnya adalah pengingat berharga bagi generasi masa kini bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini ditebus oleh keberanian para pemuda yang rela melesat menembus badai dan peluru, demi melihat merah putih berkibar bebas di langit nusantara.

 

Editor : Bahana.
#halim perdanakusuma #Dirgantara