KULON PROGO - Kesuksesan bukan tujuan akhir, melainkan sebuah perjalan yang harus memberikan manfaat seluasnya.
Itulah yang disampaikan Lilik Syaiful Ahmad Anggota DPRD DIY.
Dulunya, Lilik merupakan pengusaha muda yang berkiprah di bisnis perdagangan.
Kini dikenal sebagai politikus handal yang memiliki strategi untuk meraih kepercayaan dan simpati masyarakat.
Lilik menceritakan, fondasi hidupnya berawal dari keluarga.
Figur yang mendampinginya ialah ayahnya Ahmad Subangi, sosok guru yang pernah mencicipi dunia politik.
Lilik kecil hidup dalam keluarga yang berorientasi dengan pemikiran kritis.
"Dulu kalau nonton TV, selalu ditanya oleh bapak apa maksud dari tayangan yang dilihat tadi," ucap Lilik, Jumat (26/6/2026).
Masa kecilnya sama seperti anak-anak lainnya.
Namun perbedaannya terletak pada pola pemikiran.
Keluarganya secara tidak langsung menanamkan pola pikir kritis dan solutif.
Contohnya saat melihat berita di televisi, Lilik selalu ditanya tanggapan atas isi berita.
Baca Juga: Genjot Kualitas, 7.500 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Kini Sudah Kantongi Sertifikat Halal
Seringkali, Lilik diajak berargumen dengan ayahnya. Hal itu, ia anggap sebagai cara mendidik anak untuk berfikir kritis.
Pria kelahiran 22 Februari 1977 itu, menghabiskan masa mudanya di Pondok Pesantren Nurul Ummah di Kota Gede, sekaligus tetap mendapat pendidikan formal dari SD hingga SMA.
Selama di pondok pesantren itulah, sosok Lilik muda mulai ditempa.
Lantaran, pondok pesantren mengutamakan kemandirian pribadi serta mengajak penghuninya untuk bertahan dengan segala kondisi.
"Selama di pondok banyak ilmu yang didapat, ilmu agama hingga menempa kepribadian, kalau tidur hanya bermodal sajadah itu selama tiga tahun," ungkapnya.
Baca Juga: Turun Jabatan, Ansyari Lubis Kembali Jadi Asisten Pelatih untuk Musim 2026/2027
Lilik mengenang masa SMP hingga SMA-nya di Kota Gede.
Selama hidup di pondok pesantren penuh dengan kesederhanaan.
Acap kali tidur beralas sajadah dengan bantal darri tumpukan pakaian menjadi kenangan tersendiri.
Hal itu membuat dirinya ditempa untuk dapat beradaptasi di situasi apapun.
Pengalaman bisnisnya di awali saat duduk di SMA.
Lilik memiliki sahabat yang berasal dari keluarga produsen perak di Kota Gede.
Saat itu, industri perak Kota Gede telah menembus pasar ekspor.
Baca Juga: Makin Ekspresif, New Honda BeAT Hadir Sesuai Gaya Hidup Terkini
Untuk menembus pasar ekspor, barang harus dikurasi secara seksama, dan menghasil barang reject atau pengembalian.
Melihat kondisi itu, Lilik memanfaatkan barang reject untuk dijual kembali.
"Sejak SMA sudah nyales, perak yang tidak layak ekspor tapi bagus saya jual ke salon-salon, saya pinjem ke teman saya kalau terjual saya kasih uangnya," ucapnya.
Profesi sales terus dijalaninya hingga masa kuliah di Universitas Wangsa Manggala yang kini berubah menjadi Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Usai kuliah ia memutuskan untuk menikah, dan membangun bisnis dari nol.
Bermodal uang pinjaman dari orangtua, ia memulai bisni busana bersama istrinya.
Setiap minggunya, ia rutin ke Jakarta untuk membeli produk dan di jual kembali ke Jogja.
Berkat itu, ia mampu mengembangkan bisnisnya. Mulai dari bisnis busana, sepatu, batik, hingga biro perjalanan.
Baca Juga: Potret Sekolah Minim Siswa di Kota Pelajar, SDN Kintelan 2 Kota Jogja Hanya Mampu Serap Enam Siswa
Berkat kesuksesan di bidang bisnis itu, Lilik diusung sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).
Dari situlah, beragam organisasi menjadi rumah keduanya.
Ketertarikan terjun di dunia politik terjadi sebelum tahun 2019.
Lilik sempat adu argumen dengan orangtuanya.
Terutama ayahnya yang lebih dulu mencicipi dunia politik.
Setelah memastikan tujuannya, Lilik memutuskan berkarir di dunia politik.
Berkat dukungan masyarakat, ia terpilih sebagai Anggota DPRD DIY 2019-2024 dan terpilih kembali pada periode 2024-2029.
"Masyarakat itu baik, cuma kami harus memberikan pengertian politik, kebijakan, dan anggaran," ungkapnya.
Baca Juga: Manajemen Buka Suara soal Penyalaan Kembang Api di Candi Prambanan
Lilik menjelaskan, strategis politik yang digunakan untuk meraih simpati masyarakat.
Hal ini didasari peran lembaga legislatif yang menampung aspirasi masyarakat.
Lilik cukup tegas menolak politik uang.
Bahkan ia berani menyebut politik uang sebagai politik bitingan yang sama sekali tak mencerminkan tanggungjawab moral anggota legislatif.
Selama ini, Lilik mengaku tak pernah menggunakan politik uang.
Lilik justru lebih memilih jalan dialog untuk mendapat kepercayaan masyarakat.
Selama dua periode di DPRD DIY, Lilik menjaring aspirasi langsung ke masyarakat.
Tak kenal siang dan malam, aspirasi terkadang dikumpulkan melalui pos ronda hingga rumah-rumah warga.
Baca Juga: Prediksi Skor Norwegia vs Prancis Piala Dunia 2026, Adu Tajam Erling Haalan vs Kylian Mbappe
"Saya sering main ke rumah warga minta kopi, ngobrol hingga pagi," ungkapnya.
Aspirasi yang didapat dari masyarakat langsung ditindaklanjuti melalui program hingga kebijakan.
Hal inilah yang membuat dirinya tak pernah melakukan politik bitingan saat kontestasi politik Pemilu.
Melalui dialog masyarakat diarahkan untuk memilihnya dan diberikan jaminan program sesuai keinginan publik. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva