RADAR JOGJA - Suasana riuh lebaran yatim dan disabilitas yang diselenggarakan di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Jogja pada Kamis (25/6/2026) terasa berbeda bagi Kuswantoro.
Salah satu santri di Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis) Yogyakarta itu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Bagaimana tidak, pemuda penyandang disabilitas netra berusia 27 tahun itu baru merasakan suasana khas Idul Fitri.
Dia merupakan penyandang disabilitas sejak lahir dan sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya meninggal dunia.
Bagi Kuswantoro, lebaran yatim dan disabilitas yang diselenggarakan oleh pemerintah, Baznas, dan Kementerian Agama Kota Jogja merupakan momen yang sangat langka.
Sebab hanya di momen tersebut dia benar-benar bisa merasakan bagaimana hangatnya sebuah keluarga.
Kegiatan tersebut juga membawa kebahagiaan tersendiri bagi Kuswantoro.
Bukan sekadar bingkisan atau uang saku.
Tapi sudah dihadirkannya ruang silaturahmi dan pengakuan bahwa penyandang disabilitas dan yatim dirangkul dan diapresiasi.
Termasuk oleh wali kota.
Baca Juga: Sambut Libur Sekolah, Pemkot Yogyakarta Perkuat Kebersihan dan Kenyamanan Kawasan Wisata
"Kalau lebaran yang biasa (Idul Fitri) itu sepi. Teman-teman di tempat kami semuanya pulang ke daerah masing-masing. Jadi kami tidak bisa ikut merasakan suasana lebaran,” ujar Kuswantoro saat ditemui di sela acara.
Dibalik acara tersebut, Kuswantoro diketahui juga merupakan salah satu penyandang disabilitas berprestasi.
Warga Kelurahan Danunegaran, Kemantren Mantrijeron Kota Jogja ini sosok atlet yang tangguh dan sudah berkancah di kompetisi lokal hingga nasional.
Nomor spesialisasinya lari 100 meter, 200 meter, dan lompat jauh.
Prestasinya juga berderet. Paling segar, Kuswantoro sukses membawa pulang satu medali emas dan satu medali perak pada ajang bergengsi Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) di Solo.
Baca Juga: Harga Gas Industri Naik Memicu Ancaman PHK, Bahlil: Kami Cari Formulasi Harga Terjangkau
Sejumlah medali emas juga pernah dikalungkan di lehernya pada ajang kejuaraan tingkat daerah.
Namun di balik itu, Kuswantoro mengakui bahwa prestasinya bukan datang dari proses yang mudah.
Keterbatasan fisiknya menjadi tantangan bagi dirinya untuk melakukan berbagai sesi latihan.
Kesulitan terbesarnya bukan pada mengatur pola nafas atau hentakan kaki.
Melainkan bagaimana Kuswantoro harus berbagi lintasan dengan orang-orang non-disabilitas.
Karena keterbatasan penglihatannya, dia sering khawatir menganggu para pelari lain yang memanfaatkan fasilitas latihan di Stadion Mandala Krida.
Baca Juga: Kala Para Ayah Mengambilkan Rapor Anaknya di MAN 1 Yogyakarta, Ada Perasaan Bangga, Haru, dan Kesusu
Menyiasati hal tersebut dan menjaga mimpinya tetap hidup. Kuswantoro bersama rekan-rekan atlet difabel lainnya sering kali memilih waktu latihan di siang bolong.
Saat matahari sedang terik-teriknya demi menghindari jam-jam sibuk stadion.
“Karena kalau lapangan yang kami pakai sama. Tapi kalau latihan sudah ramai, kami kadang kurang nyaman. Ada rasa takut nabrak atau apa," tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kuswantoro juga berpesan kepada para penyandang disabilitas lainnya untuk tidak patah semangat.
Dia mendorong supaya siapapun yang memiliki keterbatasan fisik bisa menggali potensi diri masing-masing.
“Di balik keterbatasan, pasti ada kelebihan. Galilah potensi, galilah kelebihan kalian dari kekurangan yang kalian miliki,” tegas Kuswantoro penuh optimisme.
Editor : Meitika Candra Lantiva