Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengalaman Pertama Jadi Sutradara Film Dokumenter DJUM, Ahmad Brilian Mahasiswa ISI Jogjakarta Sabet Penghargaan Internasional di

Cintia Yuliani • Jumat, 19 Juni 2026 | 21:39 WIB
BUKAN AKHIR PERJALANAN: Proses produksi film dokumenter DJUM hingga mendapatkan penghargaan internasional di Sofia, Bulgaria. (Dokumentasi Pribadi)
BUKAN AKHIR PERJALANAN: Proses produksi film dokumenter DJUM hingga mendapatkan penghargaan internasional di Sofia, Bulgaria. (Dokumentasi Pribadi)

 

BANTUL - Ketertarikan Ahmad Brilian Maula Vitjayanto terhadap dunia perfilman berawal dari hal sederhana. Saat masih duduk di bangku kelas dua SMA di Jombang, Jawa Timur, dia gemar membuat video bersama teman-temannya untuk mengikuti berbagai lomba. Siapa sangka, hobi yang tumbuh di sela-sela masa pandemi itu kini mengantarkannya meraih penghargaan internasional melalui film dokumenter berjudul DJUM di Sofia, Bulgaria. 

Mahasiswa Program Studi Film dan Televisi Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta itu membuktikan ketekunan dan konsistensi dapat membuka jalan menuju pencapaian yang lebih besar. "Waktu itu karena pandemi, sekolah hanya setengah hari. Jadi banyak waktu luang yang saya manfaatkan untuk membuat video dan ikut lomba bersama teman-teman,” ujarnya, Jumat (19/6).

Meski berasal dari jurusan IPA saat SMA, minatnya terhadap dunia perfilman terus tumbuh. Saat melanjutkan pendidikan ke ISI Jogjakarta, Brian, sapaan akrabnya, semakin mantap menekuni bidang perfilman dan tak jarang dipercaya menjadi sutradara dalam berbagai proyek kecil.

Ahmad Brilian Maula Vitjayanto.
Ahmad Brilian Maula Vitjayanto.

 

Kesempatan besar datang pada semester empat saat dia dan delapan rekan satu kelompok mendapat tugas akhir mata kuliah dokumenter di tahun 2025. Awalnya mereka berencana mengangkat isu sampah yang saat itu menjadi perhatian di Jogjakarta. Mereka melakukan observasi di Depo Sampah Kotabaru, lokasi penumpukan sampah yang berada tidak jauh dari sebuah toko bunga.

Pemandangan itu menghadirkan ironi yang menarik perhatian mereka. Namun di tengah proses observasi, fokus mereka justru beralih kepada para penggerobak sampah yang bekerja di lokasi itu.

“Kami melihat solidaritas yang tinggi di antara para penggerobak sampah. Dari situ kami mulai banyak ngobrol dengan mereka,” kenangnya.

Baca Juga: Hadapi Era AI, ISI Yogyakarta Perkuat Peran Seni dan Kemanusiaan

Di antara banyak sosok yang ditemui, perhatian Brian tertuju kepada Jumadi, seorang penggerobak sampah yang telah bertahun-tahun menjalani profesi itu. Kisah hidup Jumadi meninggalkan kesan mendalam.

Jumadi bercerita tentang ketiga anaknya yang telah bekerja, istrinya yang mengalami stroke, serta perjuangannya menghidupi keluarga sebagai penggerobak sampah. Namun yang paling membekas baginya adalah cara Jumadi memaknai hidup. Jumadi percaya keberhasilan anak-anaknya adalah hasil dari kebiasaan berbagi kepada sesama.

"Semua yang beliau dapat dianggap sebagai pemberian Tuhan. Nilai spiritual itu yang membuat saya sangat tertarik,” katanya.

Kedekatan antara tim produksi dan Jumadi pun terjalin dengan alami. Selama dua bulan, mereka rutin mendatangi rumah Jumadi hampir setiap pekan untuk mendokumentasikan kehidupan sehari-harinya.

Proses produksi film berlangsung selama sekitar empat bulan. Sebagai sutradara, dia mengaku tidak dipungkiri menghadapi tantangan besar. Selain menjadi pengalaman pertamanya menyutradarai film dokumenter, proyek itu juga merupakan tugas akademik dengan tanggung jawab yang tidak kecil.

Baca Juga: Film Toy Story 5 Akan Rilis, Angkat Isu Kecanduan Gawai pada Anak-Anak

Berbekal puluhan jam rekaman dan berbagai proses konsultasi dengan dosen pembimbing, lahirlah film dokumenter berdurasi 18 menit 46 detik berjudul DJUM. Film itu menampilkan perjalanan hidup Jumadi sebagai penggerobak sampah yang tetap memegang teguh nilai kemanusiaan, keluarga, dan spiritualitas.

Perjalanan DJUM tidak berhenti di ruang kelas. Film itu mulai didaftarkan ke berbagai festival melalui platform distribusi film internasional. Sebelum memenangkan penghargaan di Bulgaria, film DJUM berhasil masuk sebagai Finalis Festival Film Dokumenter (FFD) 2025, menjadi semifinalis dalam ajang Tianjin International Academic Film Festival di Tiongkok. Serta lolos kurasi dan masuk dalam official selection di berbagai festival film internasional yang tersebar di Amerika Serikat, Italia, Korea Selatan, Ukraina, hingga Jamaika.

Karya itu awalnya hanya berhasil masuk dalam kategori finalis atau film terpilih untuk ditayangkan di sejumlah festival. Namun ketekunan mereka akhirnya membuahkan hasil. DJUM berhasil meraih penghargaan dalam ajang Golden FEMI Film Festival 2026 di Bulgaria, sebuah festival yang fokus pada isu sosial, kemanusiaan, dan keberagaman.

Festival film internasional itu diikuti oleh kurang lebih 130 negara serta 9.600 karya.  “Ini penghargaan pertama yang kami menangkan. Sebelumnya paling hanya masuk finalis atau terseleksi untuk tayang,” katanya.

Meski penghargaan itu tidak disertai hadiah berupa materi, pencapaian tersebut menjadi pengalaman berharga bagi dirinya dan tim. Bahkan, kabar kemenangan mereka mendapat sambutan hangat di media sosial.

Baca Juga: Digitalisasi Pembelajaran Prioritas Kemendikdasmen, Disdik Sleman: Tak Ada Kewajiban Siswa SMP untuk Miliki Perangkat Tertentu

Salah satu unggahan tentang prestasi itu meraih lebih dari 120 ribu penayangan dan dibanjiri komentar positif. Banyak orang mengaku terinspirasi oleh kisah perjalanannya maupun pesan kemanusiaan yang disampaikan melalui film DJUM.

“Ada yang mengirim pesan dan bilang kalau mereka terinspirasi. Itu yang membuat saya semakin yakin kenapa saya harus terus membuat film,” ujarnya.

Bagi pemuda berusia 21 tahun ini, penghargaan internasional bukanlah akhir perjalanan. Saat ini ia terus menyiapkan berbagai proposal film baru dan berupaya memperluas distribusi DJUM ke lebih banyak festival di dalam maupun luar negeri.

Ia percaya karya yang baik lahir dari kesungguhan dalam mengerjakan apa yang dimiliki, bukan dari keinginan untuk menyamai karya orang lain. "Yang penting adalah melakukan yang terbaik sesuai kemampuan kita. Tidak harus memakai standar orang lain. Maksimalkan apa yang kita punya," tandasnya. (cin/laz)

Editor : Herpri Kartun
#film dokumenter DJUM #Ahmad Brilian Maula Vitjayanto #Institut Seni Indonesia #film dokumenter #sutradara film