Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lebih Dekat dengan Kepala BNNP DIY Faried Zulkarnain, Sebut Keluarga Jadi Kekuatan Meniti Kariernya di Kepolisian

Fahmi Fahriza • Minggu, 7 Juni 2026 | 09:30 WIB

 

Kepala BNNP DIY Faried Zulkarnain. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
Kepala BNNP DIY Faried Zulkarnain. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)

RADAR JOGJA - Menjabat sebagai kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIY telah lama dinantikan oleh Kombes Pol Faried Zulkarnain. Bahkan saat menerima kabar soal jabatan barunya, dia tak segan-segan untuk sujud syukur di pusat perbelanjaan kawasan Jakarta pada awal tahun lalu. 

Bagi Faried, penugasan di Jogjakarta merupakan jawaban atas doa-doanya. "Doa saya cuma satu, ya Allah tempatkan saya di Jogjakarta dengan pangkat jenderal," katanya pada Radar Jogja Jumat (5/6).

Baca Juga: Jogja Bersinar Perkuat Komitmen Menuju Wisata Nir Emisi, Pemkot Targetkan Konversi 500 Bentor Jadi Betrik Kurangi Polusi 

Ia mengenang, doa itu dipanjatkannya berulang kali selama bertahun-tahun. Termasuk saat menunaikan ibadah haji bersama istrinya pada 2024. Faried pun resmi dilantik sebagai kepala BNNP DIY pada 26 Februari 2026.

Menurutnya, tidak mudah untuk menuju titik kariernya. Faried perlu menempuh jalan panjang, melewati berbagai pengorbanan dan kehilangan. Kisah hidupnya dimulai saat Faried mencoba mengikuti jejak sang ayah yang merupakan seorang polisi di Solo.

Baca Juga: Penggunaan QRIS Tumbuh 62,19 Persen, Jadi Indikator Menguatnya Digitalisasi Ekonomi di DIY

Saat itu, dia tak ingin meneruskan profesi sang ayah. Karena melihat tuntutan pengorbanan dari keluarga. “(Tapi, Red) keinginan ayah saya salah satu anaknya meneruskan profesi keluarga, akhirnya saya coba mendaftar Akademi Kepolisian,” beber laki-laki kelahiran Solo, 9 Oktober 1971 silam ini.

 

Meski sempat ragu dengan kemampuannya, tekad untuk lulus tumbuh saat menjalani proses seleksi di Magelang. Dia pun memulai kariernya di Polda Metro Jaya, sebelum kemudian bertugas di Korps Brimob. Ia terlibat dalam pengamanan peristiwa 27 Juli 1996 di kantor PDI dan menjadi saksi langsung gelombang Reformasi 1998. 

Di tengah dinamika tugas yang berat, kehidupan pribadinya juga memasuki babak baru. Dia menikah pada April 1998, hanya beberapa pekan sebelum kerusuhan Mei meletus.

 

Sebagai komandan peleton Brimob, Faried harus berpindah-pindah wilayah untuk membantu pengamanan Jakarta. Di saat bersamaan, ida tidak mengetahui kondisi istrinya yang harus berjuang sendiri di tengah situasi ibu kota yang mencekam.

 

Pengorbanan untuk tugas kembali dirasakan ketika anak pertamanya lahir pada akhir 1999. Saat itu Faried tidak dapat mendampingi proses persalinan karena masih menjalankan tugas pengamanan Natal dan tahun baru. "Itu rasanya sedih dan dilematis," kenangnya.

 Baca Juga: Percepat Kawasan Rendah Emisi, Malioboro Ditarget Bebas Kendaraan Bermotor Mulai November: Ini Yang Dilarang saat Penerapan

Namun ujian yang lebih berat datang pada 2001. Ketika sedang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), anak keduanya meninggal dunia dalam usia dua bulan.

 

Belum selesai berduka, istrinya juga didiagnosis mengalami gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah dua kali setiap pekan. Situasi itu membuat Faried nyaris menyerah dan ingin mengundurkan diri agar bisa merawat istrinya.

 

Atas dukungan pimpinan dan rekan-rekannya, Faried memutuskan bertahan. Setiap hari ia membagi waktu antara ruang kuliah dan rumah sakit. Kondisi sang istri pun perlahan membaik dan pulih.

 

"Itulah yang saya yakini sebagai mukjizat Allah. Saat itu kami padahal sudah pasrah," katanya.

 

Setelah lulus PTIK, karier Faried terus berkembang. Ia pernah menjadi pembina taruna di Akademi Kepolisian, wakapolres Ponorogo, bertugas di Tulungagung, Kediri, dan Surabaya.

 

Di DIY, Faried pernah menjabat sebagai pejabat Ditlantas Polda DIY, kabag Binkar Ro SDM Polda DIY, kapolres Gunungkidul, kapolres Sleman, kepala SPN Selopamioro, hingga Direktur Samapta Polda DIY.

 

Kariernya kemudian berlanjut sebagai Direktur Samapta Polda Riau dan Karolog Polda Sumatera Barat. Meski berpindah-pindah daerah, satu hal yang tidak berubah adalah kedekatannya dengan keluarga. "Arti keluarga bagi saya adalah sumber kekuatan dan motivasi terbesar," ujarnya.

 

Faried mengaku, Jogjakarta memiliki tempat tersendiri di hatinya. Meski bertugas pertama kali pada 2010, seiring waktu keluarganya memutuskan untuk menetap. Karena itu, ketika harus bertugas ke Riau dan Sumatera Barat, kerinduan untuk kembali ke Kota Gudeg tidak pernah hilang. 

 

Bagi Faried, seluruh perjalanan panjang yang dilaluinya mengajarkan satu hal penting. Yakni keluarga adalah sumber kekuatan yang membuat seseorang mampu bertahan menghadapi situasi sesulit apa pun.

 

Karena itu, ketika kini memimpin BNNP DIY, ia tidak hanya berbicara soal penegakan hukum. Tetapi juga tentang menjaga keluarga agar tetap menjadi benteng pertama dalam melindungi generasi muda dari ancaman narkoba.

 

"Doa saya sekarang adalah ingin mengabdi di Jogja sampai akhir penugasan saya. Apa pun jabatannya," lontarnya. (iza/eno)

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Kombes Pol Faried Zulkarnain #kepala bnnp diy #Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIY #karier #bnnp diy