Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lebih Dekat dengan Seniman Patung asal Bantul Dunadi, Diremehkan sejak Kecil, Buktikan Karyanya Semakin Diminati Pasar

Cintia Yuliani • Minggu, 31 Mei 2026 | 08:00 WIB
TEKUN: Dunadi memperlihatkan karyanya yang berada di Studio Satiaji Sculpture & Artwork, Jalan Krapyak Kulon, Panggungharjo, Sewon Jumat (29/5). (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
TEKUN: Dunadi memperlihatkan karyanya yang berada di Studio Satiaji Sculpture & Artwork, Jalan Krapyak Kulon, Panggungharjo, Sewon Jumat (29/5). (Cintia Yuliani/Radar Jogja)

BANTUL - Ketekunan dan konsistensi menjadi kunci kesuksesan Dunadi. Seniman asal Bantul yang sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) telah menekuni dunia menggambar hingga menjadi pematung profesional. Karyanya telah tersebar di dalam dan luar Indonesia, dan dia meraih berbagai penghargaan.

Namun, pencapaian itu tidak diraihnya dengan mudah. Terlebih pria yang tidak memiliki latar belakang keluarga seni ini, sempat diremehkan. Bahkan oleh keluarganya sendiri. "Kuliah seni patung mau jadi apa?," sebutnya mengulang pertanyaan dari keluarganya Jumat (29/5).

Hanya saja, pria kelahiran Palbapang, Bantul, itu tetap teguh pada pendiriannya. Ia yakin akan sukses dengan konsep dan rencana masa depan yang telah disusunnya.

Dunadi pun menceritakan awal mula dirinya menyukai dunia menggambar. Saat kakak-kakaknya meminta dirinya belajar hal lain, ia tetap bersikeras untuk terus menggambar. Ketekunannya itu akhirnya mendapat apresiasi dari guru SD-nya.

Baca Juga: Mutasi Empat Kepala OPD Kulon Progo Tertunda Akibat Berkas Mandek di Tingkat Menteri

"Saya dianggap anak yang kreatif karena setiap buku yang saya miliki ada gambarnya, lalu, kelas lima diikutkan lomba gambar," ujarnya

Dari lomba, anak terakhir dari empat bersaudara ini pun berhasil meraih juara satu tingkat DIY. Sejak saat itu, ia kerap mengikuti lomba menggambar. Bahkan, saat libur sekolah pun dia manfaatkan untuk menggambar. "Saya kadang setiap hari menggambar," lontarnya.

Memasuki masa SMP, Dunadi mulai menghasilkan pundi-pundi rupiah dari karyanya. Karya berupa tulisan untuk pernikahan hingga relief ternyata laku di pasaran.

Baca Juga: Puji Atmosfer Sepak Bola Sleman, Ansyari Lubis Dipastikan Bertahan di PSS

Kemampuan menggambar realistis dinilainya cocok untuk melanjutkan pendidikan di jurusan seni patung. Dia kemudian memilih Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) yang kini menjadi Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Jogjakarta. "Di sekolah tersebut pun saya diajak proyek oleh guru saya," tutur laki-laki kelahiran 1960 ini

Setelah lulus, dia melanjutkan Jurusan Seni Patung di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Dia pun ikut proyek dari dosen untuk tambahan uang saku dan mebiayai kuliahnya. Sebab saat itu, sang ayah meninggal dunia dan harus memutar otak agar pendidikannya tidak terhenti. "Saat kuliah, saya juga mengajak anak yang drop out, saya ajarkan mereka membuat cendera mata untuk dijual," jelasnya.

 

Suvenir yang dibuatnya kemudian dititipkan di beberapa tempat, seperti Pasar Beringharjo. Namun hal ini tak lepas dari cacian teman-temannya. Sebab menurut mereka, menjual cendera mata dianggap aneh dan seperti melacurkan diri. "Karena seniman membuat cendera mata dianggap tabu bagi mahasiswa dulu," tuturnya.

Baca Juga: Prof Erma Yulihastin: Fase Kering Mulai Muncul di Selatan Indonesia, Jawa Siap Masuk Kemarau Konsisten Akibat El Niño

Namun dia tidak memedulikannya. Terlebih patung kecil hasil karyanya semakin diminati dan banyak yang menjiplak idenya. "Menjadi seniman patung harus kreatif, kalau mengandalkan proyek dari dosen nggak bisa, karena nggak selalu ada proyek," terangnya.

 

Selanjutnya, saat semester akhir kuliah, Dunadi mendatangi kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY untuk memperkenalkan cendera mata buatannya. Kepala dinas yang ditemuinya saat itu terpukau dan dari situlah ia mengikuti pameran Dekranasda. "Dari pameran itu, saya dipuji sama pejabat, dan ditawarin pameran di Jakarta," tuturnya.

 

Dari pameran tersebut, Dunadi kemudian mendapatkan proyek pembangunan monumen di Sumatera saat masih berstatus mahasiswa. Dari proyek itu pula, ia mampu membangun Studio Satiaji yang berada di Jalan Krapyak Kulon, Panggungharjo, Sewon.

 

Namun, saat membangun usahanya, ia juga diterpa ujian. Krisis moneter yang berdampak pada usahanya memaksanya mengurangi jumlah karyawan. Dari 500 menjadi sekitar 200 orang.

 

Meski begitu, ia tetap bangkit dan terus memperluas relasi. Setelah lulus kuliah, ia mulai mengekspor karya-karyanya ke luar negeri. Hingga hampir seluruh benua di dunia pernah memesan karyanya.

 

Dari berbagai pencapaiannya, belasan penghargaan pun berhasil diraihnya. Salah satu penghargaan yang paling berkesan baginya adalah Dharma Pertahanan yang diberikan oleh Presiden Prabowo Subianto saat masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI pada 2021.

 

Kini, dia pun tidak hanya sukses membuktikan karyanya yang semakin diminati pasar. Lewat karyanya, Dunadi juga mampu memiliki 100 karyawan, dua rumah produksi patung, galeri karya, homestay dengan puluhan kamar, kafe, serta berbagai usaha lainnya. "Impian saya ke depan saya ingin punya museum yang nantinya berisi karya-karya saya," harapnya. (cin/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#jurusan seni patung #seniman patung #Dunadi #pematung #penghargaan