JOGJA - Berawal dari stok pakan reptil yang tak dimakan, Imam Muslim justru sukses membangun usaha budi daya tikus mencit di bantaran Sungai Winongo, Wirobrajan.
Meski sempat dicemooh tetangga karena dianggap memelihara hewan jorok, kini ia mampu meraup keuntungan hingga Rp 2,5 juta per bulan dari penjualan ratusan ekor tikus. Hasilnya ini mampu menyaingi upah minimum regional (UMR) Kota Jogja.
Langkah Imam memulai bisnis budi daya tikus terbilang cukup unik. Bukan berdasar pada ambisi besar untuk membuat usaha. Melainkan, imbas kecelakaan karena hewan peliharaannya enggan makan pada 2017 lalu.
Ya, pemuda 30 tahun itu merupakan penghobi reptil yang membutuhkan tikus jenis mencit untuk pakan. Karena reptil peliharaannya sakit, tikus yang seharusnya habis dimakan justru berkembang biak.
“Dulu itu belinya langsung banyak buat stok biar nggak bolak-balik. Ndilalah reptil saya mogok makan karena sakit. Otomatis tikusnya saya pelihara,” ungkap Imam saat ditemui di rumahnya yang beralamat di bantaran Sungai Winongo, tepatnya Kampung Ngadimulyo, Pakuncen, Wirobrajan.
Modal usaha tikus milik Imam terbilang cukup minimalis. Hanya mengandalkan teras rumah yang ukurannya tidak sampai dua meter. Kemudian kandang ternak menggunakan barang bekas seperti wadah es krim dan botol minuman isotonik.
Namun, hasilnya tidak main-main. Per bulan dia mampu mengantongi keuntungan dari Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta. Bersaing dengan UMR Jogja yang nilainya Rp 2,8 juta. Serta cukup membantu ekonomi keluarga selain usaha utamanya berjualan kaos di Teras Malioboro.
Kunci kesuksesan Imam diketahui dari keuletannya membangun jejaring dengan sesama penghobi reptil. Dari mulut ke mulut, tikus hasil ternaknya laku terjual. Kemudian dikembangkan lagi dengan pemasaran online melalui sosial media seperti Tik Tok dan Instagram.
Kini, tikus ternakan Imam tidak hanya diburu oleh penghobi reptil. Namun juga merambah ke dunia akademik. Lantaran tikus jenis mencit banyak digunakan untuk uji laboratorium. Peminatnya tidak hanya di Jogja. Namun juga merambah luar daerah.
Dalam sebulan, dia mampu menjual 450 hingga 500 ekor tikus dengan rentang harga Rp 3.000 hingga Rp 30.000 per ekor. Tergantung ukuran dan jenisnya. Kalkulasi keuntungan beternak tikus itu juga bisa mencapai berkali-kali lipat tergantung manajemen pakan.
Baca Juga: Temuan 11 Bayi di Daycare Ilegal Sleman, DP3AP2KB akan Berikan Pendampingan pada Para Ibu
“Dulu modalnya mungkin cuma Rp 50 ribu buat beli indukan,” beber Imam.
Meksipun demikian, Imam mengakui proses beternak tikus mencit bukan tanpa halangan. Selain menyiapkan modal ekonomi, ternyata juga diperlukan modal mental. Imam diketahui sering dicemooh tetangganya karena mencoba mencari peruntungan dari tikus.
Dia pernah dinasihati untuk mencari pekerjaan lain karena beternak tikus merupakan kegiatan yang jorok dan rentan terserang penyakit. Iman sadar bahwa pemahaman sebagian besar orang memang menganggap tikus seperti itu.
“Orang kampung kan tahunya tikus itu jorok. Padahal ini beda, ini tikus laboratorium dan untuk pakan reptil, lebih bersih,” jelasnya.
Baca Juga: Dari Luka Bakar 65 Persen hingga Pulih: Kisah Hariyanta Terbantu Program JKN PBPU Pemda
Kisah Imam menjadi potret kemandirian anak muda yang berani mengambil peluang di celah yang tidak dilirik orang lain. Baginya, kunci utama dalam berusaha bukanlah besarnya modal. Namun konsistensi dan mengesampingkan berbagai penilaian orang.
"Pesannya buat anak muda, kalau sudah mulai usaha itu jangan malu, jangan dengerin omongan orang. Sing penting konsisten. Suatu usaha kalau ditekuni pasti bakal membuahkan hasil," kata Imam mantap. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita