GUNUNGKIDUL - Kesibukan sebagai aparatur sipil negara tak menghalangi Sigit Pramudiyanto untuk tetap produktif di sektor pertanian. Di sela tugasnya sebagai Sekretaris Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Gunungkidul, ia justru sukses menekuni budi daya bawang merah dan menjadikannya bagian dari dukungan nyata terhadap program ketahanan pangan daerah.
Bagi Sigit, pengabdian kepada negara tidak berhenti saat jam kantor usai. Sepulang bekerja, ia berganti peran menjadi petani di lahan miliknya di Kalurahan Karangrejek. Usaha pertanian itu mulai ia tekuni sejak 2021. Pada awalnya, cerita dia, dalam satu tahun hanya mampu menanam dua kali menyesuaikan musim kemarau.
Baca Juga: TPR Parangtritis Dipindah Paling Lambat Awal Juli, Akan Diganti Diganti dengan 10 Pintu Masuk Baru
Namun sejak 2024, pola tanam berubah dan hasilnya meningkat signifikan. Kini ia mampu menanam hingga empat kali dalam setahun, termasuk saat musim penghujan. Dengan pengelolaan yang lebih baik, empat kali masa tanam itu juga diikuti empat kali panen. “Mulai 2024, saya bisa tanam empat kali dan panen empat kali dalam setahun,” katanya.
Menurut dia, tantangan setiap musim berbeda. Saat kemarau, ancaman utama datang dari serangan hama kutu dan lalat. Sedangkan musim hujan lebih rawan jamur yang menyerang daun tanaman.
Meski demikian, berbagai kendala itu perlahan bisa diatasi. Bahkan sejak tahun lalu, ia tak lagi sepenuhnya membeli bibit baru karena mulai mengembangkan bibit sendiri untuk musim berikutnya. “Ini bisa menekan biaya produksi,” jelasnya.
Hasil panennya pun terbilang menggembirakan. Ia pernah menanam bibit satu kuintal dan menghasilkan panen 10 hingga 20 kali lipat. Untuk musim tanam awal Maret lalu, ia menanam dua kuintal bibit dan menargetkan panen hingga tiga ton pada Mei mendatang. “Awal Maret saya tanam dua kuintal, Mei ini bisa panen sampai dua sampai dua setengah ton,” ungkapnya.
Baca Juga: Kontras Performa PSIM Jogja; Dari 30 Poin ke 9 Poin, Van Gastel Singgung Ketimpangan Skuad
Keberhasilan tersebut juga menginspirasi petani lain di lingkungan sekitarnya. Kini telah terbentuk Kelompok Tani Handayani Dua di Kalurahan Karangrejek sebagai ruang belajar bersama antarpetani bawang merah. Bagi Sigit, keberhasilan pertanian bukan sekadar soal hasil panen. Tetapi juga contoh nyata kepada masyarakat bahwa program pemerintah bisa dimulai dari rumah sendiri.
“Kalau ada program pemerintah, kita dukung dan kita lakukan dulu. Kalau hasilnya kelihatan, masyarakat akan lebih mudah menangkap arah program itu,” tegasnya.
Untuk membagi waktu antara tugas kedinasan dan bertani, ia mengandalkan disiplin. Setiap hari, aktivitas di lahan dimulai sejak pukul 03.00 dini hari hingga menjelang berangkat kerja. “Saya mulai jam tiga pagi, menyiram sampai jam enam. Setelah itu siap-siap berangkat kantor. Sore lanjut bersihkan gulma. Polanya begitu setiap hari,” katanya.
ASN yang telah mengabdi sejak era 1990-an itu meyakini kejujuran dan disiplin menjadi kunci utama menjaga amanah jabatan sekaligus tetap produktif di luar kantor. Menurutnya, menjadi pegawai negeri bukan hanya bekerja di balik meja, tetapi juga memberi teladan nyata di tengah masyarakat. “Sebagai abdi negara, itu didasarkan batasi waktu atau jam kerja kedinasan. Itu kerja penuh waktu yang harus ditekuni,” tutupnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita