JOGJA - Semangat dakwah untuk memberantas buta huruf Alquran yang dirintis oleh KH As'ad Humam tidak hanya berhenti pada lahirnya metode membaca Alquran lewat buku Iqro. Nilai perjuangan itu juga diwariskan kepada anak-anaknya sejak usia dini. Tak terkecuali kepada putri ketiganya dari enam bersaudara bernama Erweesbe Maimanati.
Erweesbe sudah dilibatkan oleh ayahnya untuk mengajar mengaji sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Bunda Er panggilannya, dari yang diingatnya, sejak ia berusia sekitar 10 atau 11 tahun, ia sudah diminta untuk mengajarkan Iqro dan membaca Alquran kepada orang-orang yang lebih tua darinya.
"Saya dilibatkan oleh Bapak sejak kelas 5 SD. Waktu itu saya mengajar tetangga-tetangga yang justru usianya lebih tua dari saya," ujarnya saat ditemui di Depot Iqro AMM Sabtu (7/3).
Menurutnya, saat itu belum ada lembaga pendidikan seperti TPA atau TPQ yang lazim seperti sekarang. Kegiatan belajar mengaji dilakukan secara sederhana di lingkungan sekitar rumah mereka di kawasan Selokraman, Kotagede.
Meski masih anak-anak, ia mengaku justru menikmati pengalaman mengajar tersebut. Baginya, ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat seseorang yang sebelumnya tidak bisa membaca Alquran akhirnya mampu membacanya dengan lancar.
"Ada kebanggaan tersendiri saat orang yang awalnya tidak bisa baca satu huruf pun, akhirnya bisa baca Alquran dan bahkan mengajarkannya kepada orang lain," katanya.
Diakuinya, semangat mengajar itu tidak lepas dari pengaruh kuat sang ayah. Sejak muda, KH As’ad Humam memang dikenal aktif berdakwah dan berupaya mencari metode yang lebih praktis agar masyarakat dapat belajar membaca Alquran dengan lebih cepat.
Kala itu, metode membaca Alquran yang umum digunakan adalah metode Baghdadi yang membutuhkan waktu cukup lama untuk dikuasai. Metode ini menekankan pada pengejaan huruf hijaiyah satu per satu, pengenalan harakat atau tanda baca, dan huruf sambung secara bertahap.
"Bapak ingin orang bisa lebih cepat membaca Alquran. Metode lama itu bisa bertahun-tahun baru khatam," jelas Erweesbe.
Dari kegelisahan itulah kemudian lahir metode Iqro yang kini sudah dikenal luas. Pada masa awal pengembangannya, buku tersebut bahkan belum berbentuk seperti sekarang.
"Dulu sebelum jadi buku seperti sekarang, Iqro itu masih berupa lembaran-lembaran. Kami anak-anaknya membantu menyusun lembaran itu," kenangnya.
Ia mengingat, perjuangan dakwah keluarganya juga memiliki cerita tersendiri. Perempuan berusia 60 tahun itu mengungkapkan, bahwa aktivitas dakwah ayahnya sebagian besar dibiayai secara mandiri melalui usaha keluarga.
Ayahnya menjalankan usaha perhiasan yang hasil keuntungannya digunakan untuk mendukung kegiatan dakwah dan pengembangan metode Iqro.
"Seratus persen keuntungan usaha itu digunakan untuk dakwah. Lalu kebutuhan keluarga kami dipenuhi dari hasil ibu berdagang di Pasar Beringharjo," ujarnya.
Komitmen tersebut menjadi teladan kuat bagi anak-anaknya dalam melanjutkan misi dakwah keluarga. Kini, meskipun usianya tidak lagi muda, Erweesbe mengaku tetap aktif mengajar dan terlibat dalam pengelolaan serta pengembangan metode Iqro. Ia juga masih menulis berbagai buku pembelajaran yang digunakan di sejumlah lembaga pendidikan Alquran.
"Saya sangat menikmati mengajar. Insyaallah saya ingin terus mengajar sampai seumur hidup," katanya.
Secara pribadi, ia berharap semangat memberantas buta huruf Alquran yang dulu diperjuangkan ayahnya tetap hidup, meskipun metode dan media pembelajaran terus berkembang.
"Metode boleh berbeda, medianya bisa berubah jadi digital atau apa pun. Tapi semangatnya tetap sama, jangan sampai ada anak muslim yang tidak bisa membaca Alquran," tuturnya. (iza)
Editor : Sevtia Eka Novarita