BANTUL - Di usianya yang masih belia, Vania Ulayya harus merasakan kehilangan besar. Ayahnya meninggal dunia awal Ramadan tahun lalu. Namun dari duka itu, hadir sebuah amanah sekaligus anugerah: Vania tercatat sebagai calon jamaah haji termuda asal Bantul yang akan berangkat pada musim haji tahun ini.
Pelajar kelas VIII SMP IT Assalam Sanden itu berasal dari Padukuhan 21, Krajan RT 2, Kalurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan. Keberangkatannya merupakan hasil pelimpahan dari sang ayah yang sebelumnya telah terdaftar sebagai calon jamaah haji sejak 2012, namun gagal berangkat karena menderita sakit gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah.
Bagi Vania, perjalanan ke Tanah Suci bukan sekadar ibadah. Tetapi juga pengalaman pertama meninggalkan bangku sekolah dalam waktu lama, sekaligus perjalanan pertama ke Mekah. "Belum, belum pernah. Jadi besok kali pertama,” ucapnya saat ditemui di rumahnya Minggu (15/12).
Keberangkatan nanti bertepatan dengan masa ujian sekolah. Namun, Vania mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah. Ia mengaku telah mengantongi izin dan akan mengikuti ujian susulan setelah kembali ke Indonesia. "Kepala sekolah bilang nggak apa-apa, nanti biar ibadah dulu, setelah sampai Indonesia baru ikut ujian susulan,” katanya.
Vania dijadwalkan berangkat 29 April mendatang dan tergabung dalam kloter ketujuh. Ia diperkirakan kembali ke Tanah Air 10 Juni. Meski harus tertinggal ujian, ia memilih fokus menjalankan ibadah. “Persiapannya doa-doa, terus manasik,” ujarnya.
Di sekolah, keberangkatan Vania menjadi perhatian tersendiri. Saat upacara, pihak sekolah mengumumkan rencana hajinya dan meminta doa restu. Sejumlah teman menitipkan harapan sederhana namun tulus. “Pada bilang titip doa,” katanya.
Doa yang dititipkan mulai dari kelancaran naik ke kelas IX, ujian TKA dan TO, hingga bisa diterima di SMA. Vania sendiri berharap dapat melanjutkan pendidikan di SMA 1 Bantul.
Sementara itu, ibunda Vania, Harni Dwi Hastuti, 44, menceritakan, proses panjang dan emosional yang dilalui keluarga. Awalnya, pelimpahan sempat terkendala aturan usia minimal 18 tahun. "Terus ditelepon lagi sama PHU, kalau haji itu sekarang ada aturan baru, kalau haji umur 13 tahun boleh berangkat,” ujarnya.
Pemberitahuan yang terbilang mendadak membuat proses persiapan berjalan dalam waktu singkat. Harni mengaku harus segera mengurus paspor, pemeriksaan kesehatan, hingga pelunasan biaya. “Waktunya agak terburu-buru juga, tapi alhamdulillah dapat istithaah,” katanya.
Vania dan dirinya baru mengikuti manasik sebanyak empat hingga lima kali, lebih sedikit dibanding jamaah lain. Namun, hal itu tidak menyurutkan keyakinan keluarga. “Walaupun terlambat dari yang lain, tapi alhamdulillah, bismillah,” ucapnya.
Selain mendampingi putrinya, Harni juga berangkat sebagai mahram. Ia sendiri telah mendaftar haji sejak 2015 dan seharusnya baru berangkat pada 2034. Namun, karena menjadi mahram Vania, jadwal keberangkatannya dimajukan sekitar delapan hingga sembilan tahun. “Kehilangan bapak, tapi dapat hadiah untuk haji,” tandasnya. (cin/laz)