Pengalaman menyaksikan banyak anak menangis dan trauma pascagempa bumi 2006 di Jogjakarta menjadi titik balik perjalanan hidup Iwan RS.
Pendongeng asal Krapyak Kulon, Panggungharjo, Sewon, Bantul itu mengaku mulai mendongeng saat lulus kuliah di 2006. Atau sejak peristiwa gempa besar tersebut, semata-mata untuk membantu menghilangkan trauma anak-anak.
Dalam mendongeng, Iwan memiliki beberapa jenis cerita yang disesuaikan dengan usia anak. Untuk TK, ia memilih fabel, sementara untuk SD hingga SMP menggunakan cerita tokoh, pahlawan, dan inspiratif.
“Itu saya bikin sendiri. Ngarang sendiri. Cari ide sendiri,” katanya, saat ditemui di Balai Budaya Karangkitri, Panggungharjo, Sewon Selasa (3/2).
Menariknya, Iwan hanya menggunakan dua boneka dalam mendongeng, yang ia gunakan saat pembukaan cerita. “Boneka itu fungsinya untuk opening. Setelah itu monolog,” jelasnya.
Bagi Iwan, dongeng bukan sekadar hiburan, melainkan sarana komunikasi paling efektif untuk anak-anak. Tagline-nya cerdaskan anak bangsa dengan cerita. Storytelling bisa mempengaruhi orang, bisa mengubah karakter. “Bercerita adalah alat komunikasi paling efektif untuk anak-anak,” katanya.
Ia pun berpesan bagi siapa pun yang ingin menekuni dunia dongeng agar mencintai anak-anak terlebih dahulu. Untuk teknis bisa dipelajari seminggu atau dua minggu. “Tapi kalau tidak mencintai anak-anak, kita tidak bisa,” ungkapnya.
Pria lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta jurusan teater ini, mengaku telah memiliki dasar teater. Maka dari itu, tidak terlalu sulit untuk beradaptasi sebagai pendongeng.
Dia mengenang, setelah gempa Jogja 26 Mei 2006, banyak anak-anak yang trauma. “Kami menyebutnya trauma healing, untuk memulihkan rasa ketakutan anak-anak terhadap peristiwa gempa waktu itu,” jelasnya.
Menurut Iwan, ketertarikannya pada dunia dongeng tak lepas dari latar belakangnya sebagai pegiat teater, film, sekaligus dekat dengan anak. Ia mengaku senang berada di dunia anak-anak karena kepolosan dan kejujuran mereka.
“Sesuatu yang jujur dan polos itu bisa untuk bercermin kita, orang-orang dewasa. Anak-anak itu tempat bercermin orang-orang dewasa. Karena dia bersih, kita kan sudah kotor,” tuturnya.
Hingga kini, Iwan tetap aktif mendongeng, berteater, dan membuat film. Ia bahkan mendirikan kelas akting bernama Friday Acting Class (FAC) yang sudah berjalan sekitar enam bulan. “Tapi sebelumnya saya memang menekuni mendongeng,” ujarnya.
Iwan menuturkan, pada masa awal mendongeng, aktivitas tersebut belum terkonsep dengan baik. Ia hanya berangkat dari kepedulian sebagai pegiat seni pertunjukan yang ingin menghibur anak-anak. Seiring waktu, langkahnya membawa Iwan ke Jakarta.
“Di Jakarta itu mulai dongeng-dongeng di bencana,” ungkap pria berumur 48 tahun ini.
Selama di ibu kota, Iwan tergabung dalam gerakan pendongeng untuk kemanusiaan. Ia belajar secara serius tentang dunia dongeng dari sebuah komunitas. “Ada teman yang menekuni lebih dulu di dunia itu. Nama komunitasnya Dongeng Ceria. Di situ saya diajari mendongeng,” katanya.
Dari sanalah, Iwan mulai menekuni dunia dongeng secara profesional. Dari hal tersebut, ia tak hanya mendongeng di Jakarta, tetapi juga bisa berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia. Dari Sumatra, Bali, , hingga Kalimantan. “Keliling nusantara,” ucapnya.
Selama di Jakarta, selain mendongeng, Iwan juga bekerja di dunia film dan sempat mengajar selama tiga tahun. Pada 2015, ia memutuskan kembali ke Jogjakarta dan tetap menekuni dunia dongeng.
Meski terlihat sederhana, Iwan mengakui mendongeng memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menghadapi karakter anak-anak. Anak-anak punya cara tersendiri dalam berinteraksi. “Konsentrasi anak kecil itu cuma lima menit,” katanya.
Ia mengaku sempat merasa menyerah karena tidak semua anak bisa langsung merespons cerita yang disampaikan. Namun, menurutnya, ada ilmu dan proses yang harus dipahami.
Sebagai pendongeng harus paham anak-anak, kedua kita harus bisa mengambil hati anak-anak. Dunia anak itu tidak bisa ujuk-ujuk, ada prosesnya. “Makanya sebelum mendongeng ada ice breaking,” jelasnya.
Tantangan lain yang dihadapi pendongeng saat ini adalah pengaruh gawai terhadap anak-anak. Menurut Iwan, persoalan ini justru harus dipahami oleh orang tua.
Baca Juga: Kuliah Sambil jadi Ojol Makanan, Aji Ramadan Bisa Lulus Cumlaude Sarjana Hukum di UGM
“Anak-anak jadi pasif, dipanggil orang tua tidak dengar. Pengaruh gadget besar sekali terhadap kepekaan dan kreativitas anak,” tegasnya.
Ia menilai, anak-anak perlu lebih banyak diaktifkan dalam kegiatan fisik dan kreatif untuk mengolah pikir, hati, dan rasa. (pra)
Editor : Heru Pratomo