SLEMAN – Zainal Arifin Mochtar bukan sekadar aktivis antikorupsi biasa. Pria yang akrab disapa Uceng ini ternyata dipandang memiliki peluang besar dalam kontestasi politik pada Pemilu 2034 mendatang.
Potensi tersebut mencuat dalam acara jenaka bertajuk "Roasting Zainal: Bukan Guru Besar Biasa" yang digelar di Kancane Coffee & Tea Bar, Ngaglik, Sleman, Rabu (14/1).
Acara ini merupakan bentuk perayaan unik dari para sahabat menjelang pengukuhan Uceng sebagai Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Kamis (15/1). Alih-alih dihujani pujian, Dosen Hukum Tata Negara ini justru "dikuliti" lewat banyolan tajam dari para koleganya.
Pendiri Social Movement Institute (SMI), Eko Prasetyo, menjadi pembuka roasting. Ia menyebut Uceng sebagai sosok yang semakin langka di Indonesia: tampan, saleh, dan kini menyandang gelar profesor. Menurut Eko, kombinasi inilah yang membuat Uceng sering diteror.
"Dia diteror itu karena orang cemburu, bukan gara-gara pernyataan politiknya," kelakar Eko yang disambut tawa hadirin.
Ia pun menyentil jaringan luas Uceng yang menyentuh level Kapolri hingga Presiden, sambil berseloroh bahwa jika terjadi kerusakan demokrasi, Uceng pasti punya peran di dalamnya.
Baca Juga: Penjahit Taylor Street Jogja Kini Pindah ke Pasar Terban Seiring Penataan Trotoar Jalan Sardjito
Suasana semakin pecah saat Puthut EA naik ke panggung. Ia memaksa Uceng menjawab serangkaian pilihan cepat tanpa argumen: Menteri atau DPR? Ganjar atau Anies? Prabowo atau Jokowi? hingga Bahlil atau Pigai? Puthut menyebut jawaban-jawaban singkat Uceng berhasil membongkar "niat tersembunyi" sang aktivis di masa depan.
Tak mau kalah, pakar hukum Denny Indrayana melabeli Uceng sebagai "manusia absurd". Denny menyoroti banyaknya peran yang diambil Uceng—mulai dari aktor film Dirty Vote, aktivis, dosen, hingga pelari maraton—yang saking serba bisanya, membuat Denny menarik kesimpulan nyeleneh.
"Menurut keyakinan saya, dia ini telo. Intel Solo," celetuk Denny. Ia bahkan berspekulasi bahwa Uceng berpeluang maju di Pilpres 2034 berdampingan dengan Jan Ethes.
Senada dengan Denny, aktivis Dandhy Dwi Laksono menilai jabatan menteri terlalu kecil bagi Uceng. Menurutnya, ada karier lain yang bisa mengubah sejarah. "Banyak masalah muncul dari UGM, tentu diharapkan ada solusi juga dari UGM," sindir Dandhy.
Sepanjang acara, Uceng hanya duduk diam dan sesekali tertawa kecil. Saat diberi kesempatan membela diri di penghujung acara, hujan tiba-tiba mengguyur lokasi yang berada di ruang terbuka.
"Terima kasih, tapi jangan kira terima kasih ini akan mengikis kebengisan saya," ucap Uceng sebagai kalimat penutup sebelum para penonton berhamburan mencari tempat teduh.
Baca Juga: Kopdes Merah Putih Perkuat UMKM Desa dan Ciptakan Lapangan Kerja Baru
Ditemui usai acara, Uceng mengaku menikmati kritik yang dibalut komedi tersebut. Bagi Uceng, kualitas pertemanan sejati diuji dari cara seseorang menerima kritik. Ia juga menekankan bahwa acara ini merupakan kritik halus bagi kondisi bangsa saat ini.
Dalam pidato pengukuhannya esok, Uceng akan membawakan tema mengenai melemahnya independensi lembaga negara akibat arus konservatisme.
"Pada intinya, kuping negara itu tidak boleh terlalu tipis. Kritik adalah bagian penting dari demokrasi," tandas Uceng.
Editor : Heru Pratomo